Islam dan Lingkungan



Abad 21 ialah masa yang cukup mengkhawatirkan bagi bumi ini. Betapa tidak, berbagai macam polusi (air, udara dan tanah) telah menyelimuti segenap penjuru bumi; mulai dari kutub Utara hingga Selatan, sisi Timur hingga Barat. Hanya sebagian kecil dari bumi ini yang masih asri dan terbebas dari polusi.

"Global Warming", begitu masyarakat modern sekarang menyebutnya, yaitu suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi diakibatkan berbagai polusi di atas.


Untuk menanggulangi hal ini, banyak negara dan banyak lembaga telah membuat berbagai program, tidak terkecuali Indonesia. Kita pernah mendengar "Protokol Kyoto", yaitu sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka. Atau gerakan "Menanam Satu Juta Pohon" yang baru-baru ini kembali digalakkan pemerintah Indonesia. Atau juga gerakan "Selamatkan Hutan" yang dicanangkan oleh berbagai organisasi lingkungan seperti Greenpeace, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), dan lain-lain.

Kita tentu sangat mengapresiasi dan menyambut baik gerakan cinta lingkungan ini sebagai salah satu ikhtiar kita untuk mencegah (atau paling tidak me-minimalisir) dampak dari "Global Warming" yang cukup mengkhawatirkan kita.

Islam dan Lingkungan
Islam sebagai agama yang rahmatan lil'alamin (QS. Al-Anbiyaa' ayat 107) dan sebuah sistem tata nilai yang sempurna dan universal (menyeluruh) dari jauh-jauh hari telah memberikan peringatan kepada kita akan larangan merusak alam serta dampak yang akan kita terima apabila tetap melakukannya.

Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf ayat 56)

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum ayat 41).

Larangan berbuat kerusakan di bumi pada ayat diatas sebagai pelajaran bagi kita bahwa Islam bersifat antisipatif (cepat tanggap terhadap sesuatu yang akan terjadi), dan memberikan solusi apabila kerusakan tersebut terjadi. Allah SWT berfirman:
"Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)." (QS. Az-Zumar ayat 53-54)

"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah." (QS. Ar-Rum ayat 43).

Rasulullah SAW dan Lingkungan
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam sebagai teladan utama bagi ummat Islam (QS. Al-Ahzab ayat 21) telah mencontohkan bagaimana mencintai lingkungan. Bahkan sebelum Rasulullah SAW diangkat sebagai Nabi dan Rasul, beliau telah diajarkan terlebih dahulu bagaimana berhadapan dengan alam bebas, yaitu melalui profesi beliau sebagai penggembala kambing.

Dengan menggembala, beliau dikenalkan bagaimana sifat alam bebas dan bagaimana cara menjaganya dari kerusakan yang ditimbulkan. Selain itu, ada banyak hadits yang memberikan pelajaran kepada kita tentang bagaimana menjaga alam.

Suatu ketika saat dalam perjalanan, Rasulullah SAW melihat seorang sahabat sedang mempermainkan seekor anak burung. Beliau berkata, "Siapa yang menyakiti burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung ini kepada induknya!" Kemudian beliau juga melihat sarang semut yang telah dibakar oleh para sahabat beliau. Maka Rasulullah bersabda, "Siapa yang membakar ini?" Para sahabat menjawab, "Kami!" Rasulullah kemudian bersabda, "Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Robb Pemilik Api" (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW ialah penyayang binatang dan juga pelestari lingkungan. Beliau sangat tegas dalam memberikan teguran dan larangan yang berkaitan dengan perusakan alam.

Rasulullah SAW juga mengajarkan kepada orang beriman agar senantiasa mengajarkan penghijauan, melestarikan kekayaan hewani dan hayati, dan mencintai lingkungan. Beliau menegaskan bahwa alam yang hijau merupakan kegemarannya.

"Tiga hal yang menjernihkan pandangan, yaitu: menyaksikan pandangan pada yang hijau lagi asri, pada air yang mengalir, dan pada wajah yang rupawan." (HR. Ahmad).

Subhanallah, begitu cintanya Rasulullah terhadap alam. Bahkan dalam hadits lain Rasulullah juga pernah bersabda, "Barangsiapa diantara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanaman yang dimakan akan menjadi sedekah (bagi yang menanam). Demikian pula apa yang dicuri darinya, yang dimakan burung, dan yang diambil orang lain, semua itu menjadi sedekah bagi si penanam." (HR. Muslim).

Ini artinya bahwa Rasulullah telah mengajarkan kepada kita jauh-jauh hari tentang konsep penghijauan yang sesuai dengan kaidah Islam, yaitu tidak hanya sekedar memelihara alam namun juga untuk mencari ridho Allah Ta'ala. Hal ini kembali ditegaskan dalam hadits lain:
"Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka dengannya ia mendapatkan pahala. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka dengannya ia mendapatkan pahala." (HR. Ahmad)

Mari kita lihat hadits lain yang masih berkaitan dengan alam:
a. Hemat dalam penggunaan air. Rasulullah bersabda, "Basuhlah ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran air) sebanyak satu sha' sampai lima mud."
Catatan: Satu mud sama dengan (lebih kurang) 1 1/3 liter hingga 2 liter.

b. Larangan merusak tumbuhan, memotong dahannya tanpa manfaat atau menoreh kulit batangnya. Rasulullah bersabda, "Siapa yang memotong pohon sidrah, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka." (HR. Abu Dawud).
Catatan: Pohon sidrah ialah pohon yang besar dan rindang yang sangat berguna sebagai tempat berteduh bagi para musafir dan hewan yang lelah kepanasan akibat panas matahari.

c. Senantiasa memperbaiki lingkungan dengan seluruh kemampuan dan menjadikan penanaman pohon sebagai sebuah kebutuhan. Rasulullah bersabda, "Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan seseorang diantara kalian ada benih tanaman, selama ia mampu menanamnya sebelum berdiri maka lakukanlah." (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).

Demikianlah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita tentang bagaimana menjaga lingkungan. Oleh karena itu mari kita meneladaninya dari keseluruhan aspek, tidak hanya meniru bagaimana cara ibadah sholat, zakat, puasa atau haji beliau. Namun kita juga mesti meneladani bagaimana cara beliau menjaga alam ini, agar kita tidak mendapatkan murka Allah, dan anak cucu kita nanti tidak merasakan bahaya yang lebih besar sebagai dampak perusakan alam oleh manusia sekarang. Wallahua'lam bisshawab.


Referensi:
1. Al-Quranul Kariim
2. Hadits Rasulullah SAW
3. Kitab Ensiklopedia "Muhammad Sebagai Pejuang Kemanusiaan" karya Afzalur Rahman, penerbit Pelangi Mizan)
4. Kajian buku "7 Tahap Kesempurnaan Hidup" karya Masrukin Ali Syafi'i (Hidayatullah Semarang)
5. Wikipedia - Ensiklopedia bahasa Indonesia (http://id.wikipedia.org)
6. Greenpeace Indonesia (http://www.greenpeace.org)

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified