Memetik Hikmah dari Kehidupan Lebah


Oleh: Vivie Yohani (Anggota Akhwat FSRMM Riau)


Apabila kita memperhatikan dengan seksama alam semesta dan semua yang ada di bumi ini, kita pasti akan mendapati banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik. Penciptaan luar biasa oleh Allah Yang Maha Menciptakan, yang menjadikan kehidupan makhluk-Nya berlangsung sebagaimana mestinya. Tiap detil kehidupan telah didesain dengan sempurna dan menjadi tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt.

Di antara banyaknya ciptaan Allah Swt., yang memberi banyak pelajaran dan patut untuk kita renungi, salah satunya adalah kehidupan lebah. Lebah merupakan makhluk Allah yang istimewa. Bahkan keistimewaannya digambarkan oleh Allah Swt. di dalam Al-Qur-an,

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia".
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
(QS. An-Nahl [16]: 68-69)
    
Allah Swt. memerintahkan kepada lebah untuk membuat sarang-sarang, di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Maka di tempat-tempat inilah, lebah membuat sarangnya, di tempat yang tinggi dan bersih, lebah bertempat tinggal tanpa membuat kerusakan. Dalam ayat selanjutnya, Allah Swt. memerintahkan agar lebah memakan dari tiap-tiap  makanan yang baik, maka dengan ketaatannya, hanya makanan yang baik sajalah yang dimakan oleh lebah dalam memenuhi kebutuhannya. Lebah menghisap sari pati bunga dengan tidak merusak bagian bunga lainnya. Lebah tidak mematahkan ranting-ranting yang ia hinggapi. Keindahan bunga juga tidak kurang karenanya, bahkan ia justru membantu dalam proses penyerbukan bunga.

Demikianlah kita mengambil pelajaran dari lebah. Lebah melakoni perannya sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. Lebah mematuhi perintah yang Allah arahkan kepadanya, menempuh jalan yang telah Allah Swt. mudahkan baginya. Lebah bekerja sesuai amanah yang diembankan kepadanya. Lebah juga hidup secara berjama’ah/berkelompok sehingga menjadikannya kuat dan tidak mengganggu selagi ia tidak diganggu. Begitu pula seharusnya kehidupan mukmin, yang menjadikannya kuat apabila berjama’ah dan merasakan sakitnya penderitaan sesama muslim. Perumpamaan umat Islam sebagaimana digambarkan Rasulullah Saw. bagaikan satu tubuh. Hadits Rasul Saw. yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir ra. berbunyi:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّ

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayangi dan saling cinta adalah seperti satu tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sulit tidur dan demam.
(HR. Muslim No.4685)

Dengan ketaatannya, atas izin Allah Swt. lebah menghasilkan yang baik-baik, obat yang manis, minuman yang enak dan sangat bermanfaat. Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Itulah yang kita sebut dengan madu, dan hasil dari lebah lainnya.

Sekarang ini tanpa kita sadari, boleh jadi kita telah banyak lalai dari segala yang diperintahkan Allah Swt. Kita diperintahkan Allah Swt. untuk makan dari makanan yang halal, namun yang haram dinikmati juga dengan berbagai alasan, yang haram saja susah apalagi yang halal. Allah Swt. mengharamkan riba, tetapi tetap saja beralasan ini demi kebaikan, untuk menghidupi keluarga dan sanak saudara. Melakukan tindakan korupsi, mengambil hak rakyat dengan tanpa merasa berdosa, yang kemudian berujung pada penjara dan siksa neraka. Bukankah Allah Swt. telah menjamin rezeki bagi setiap hambanya? Tidak yakinkah bahwa Allah Yang Mahapemurah adalah sebaik-baiknya pemberi rezeki? Padahal, Allah Swt. telah memberikan tuntunan atas segala seluk-beluk kehidupan kita, agar dapat memberikan keselamatan bagi diri kita baik di dunia maupun akhirat. Tentunya Allah Swt. sebagai Sang Pencipta lebih mengetahui apa yang dibutuhkan dan tidak, apa yang baik dan yang buruk, apa yang harus dikerjakan dan yang mesti ditinggalkan oleh ciptaan-Nya. Adapun perintah maupun larangan tersebut semata-mata hanyalah bentuk cinta Allah Swt., demi kebaikan bagi hamba-Nya. Tidak menguntungkan apalagi merugikan Allah Swt.
Dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا


“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.”
(HR. Muslim No. 2577)

Sebagai manusia, makhluk Allah dengan penciptaan yang terbaik, maka apabila yang kita makan, gunakan, dan tempati adalah halal lagi baik, sehingga menjadi pemenuhan gizi yang baik pula bagi fisik dan memaksimalkan diri untuk beribadah kepada Allah Swt. Namun apabila sebaliknya maka hanya kesengsaraan sajalah yang kita dapatkan. Anak-anak yang pembangkang, rumah tangga yang tidak harmonis, rasa gelisah, ketidaknyamanan dan sebagainya selalu menghantui. Setiap tetes darah, tempat tinggal dan segala yang kita gunakan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Seperti lebah yang taat akan perintah dan ketetapan Allah Swt. maka kepatuhannya menghasilkan madu yang manis, berkualitas dan bermanfaat. Begitu pulalah manusia. Apabila manusia menaati Allah Swt. maka manusia akan menghasilkan buah karya yang luar biasa, menjadi seseorang yang memberi manfaat kepada orang lain dan meraih ridho Allah Swt. Wallaahu a’lam bish-shawaab. (red: fsrmm.com)

FSRMM Riau Membuka Pendaftaran Bagi Calon Santri Baru




Bagi kawula muda muslim, terkhususnya yang berada di Riau, yang ingin menambah wawasan keislaman, punya banyak teman, pengalaman, skill, dan yang lainnya, mari bergabung bersama kami di FSRMM Riau.

Ada sangat banyak kegiatan menarik yang akan menggali potensi diri antum, seperti:
·         Wirid Remaja,
·         Pelatihan baca Qur-an,
·         Pelatihan blog,
·         Pelatihan leadership and management,
·         Futsal bareng,
·         Masak-masak bersama,
·         Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), dan
·         Kegiatan lainnya yang akan mempererat tali persaudaraan di bawah naungan Islam.

Bagi yang penasaran dan ingin bergabung, langsung saja datang ke Masjid Muthmainnah yang berada di Jalan Kartini, belakang Rumah Sakit Bhayangkara, dan daftarkan diri antum segera. Pendaftaran gelombang pertama dibuka sejak 10 November 2014 hingga 5 Desember 2014.

Info lebih lanjut:
Kak Bayu         : 0823-8428-6763
                          0896-2249-6099
Kak Elsa           : 0852-7827-8897

Jauhi Sifat Sombong, Gapai Rida Ilahi

Oleh: Noni Andini (Mentor FSRMM Bidang Syi’ar Media dan Jurnalistik)


Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk bagaimana cara berinteraksi kepada Allah Swt. dan juga kepada sesama manusia. Allah turunkan Al-Qur-an sebagai pedoman hidup bagi manusia untuk dipelajari dan diterapkan agar hidup manusia tersebut tidak melenceng kepada keburukan dan kemaksiatan. Allah juga hadirkan kepada kita saudara se-iman yang senantiasa menasehati dikala terlupa. Lantas apalagi yang membuat kita sulit untuk menerima kebenaran? Sungguh, Allah telah ingatkan pada peristiwa masa lalu yang seharusnya dapat kita ambil pelajaran darinya dan tidak diulangi pada masa kini dan nanti.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah (2): 88,

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُون َ

Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.

Qur-an surah Al-Baqarah ayat 88 ini berkaitan erat hubungannya dengan ayat sebelumnya, yakni Qur-an surah Al-Baqarah ayat 87. Ayat ini bercerita tentang kesombongan Bani Israil yang mana telah Allah turunkan para Rasul kepada mereka untuk menyampaikan kebenaran. Namun mereka dengan sombongnya tidak mau menerima kebenaran tersebut.

Apakah makna sombong yang kita ketahui? Adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Bukankah ini yang dilakukan oleh Bani Israil? Mereka menolak setiap kebenaran yang disampaikan oleh para Rasul. Mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka merasa lebih tahu dan lebih pandai daripada Rasul yang menyampaikan kebenaran tersebut. Tidak hanya itu, kejahiliyahan mereka sangat keterlaluan sampai-sampai berusaha untuk membunuh para Rasul yang diutus kepada mereka.

Lalu mereka berkata  وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ  (Hati kami tertutup). Lihatlah! Betapa sombongnya mereka dengan mengatakan kalimat itu. Dalam Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dijelaskan makna غُلْفٌ tersebut bukanlah hati tertutup”, akan tetapi bermakna hati kami adalah perbendaharaan yang artinya mereka penuh dengan ilmu pengetahuan, mereka tahu semua hal, maka tidak perlu lagi mendapat pengetahuan dari siapapun, sekalipun itu Rasul yang menyampaikan.

Mereka menolak pengetahuan yang disampaikan kepada mereka, bermakna bahwa mereka telah menolak kebenaran, hidayah, petunjuk yang disampaikan. Bukankah ini merupakan kesombongan yang besar? Mereka tidak hanya menolak kebenaran tetapi mereka juga meremehkan para Rasul dengan mengatakan bahwa mereka lebih mengetahui segala hal sehingga tidak patut lagi mereka diajari. Na’uudzubillaah.

Lantas, apakah ayat ini diturunkan terkhusus hanya untuk Bani Israil saja? Tidak! Akan tetapi seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi kaum setelahnya agar tidak mencontoh sifat buruk mereka itu, terkhususnya bagi kitaumat Islamyang memiliki Al-Qur-an sebagai pedoman hidup yang banyak menceritakan tentang kehidupan umat terdahulu.

Tetapi nyatanya tidak semua dari kita yang saat ini bisa mengambil hikmah dari kejadian Bani Israil ini. Apa buktinya? Masih banyak di sekitar kita yang berperilaku sama seperti mereka. Tidak hanya orang-orang kafir saja yang tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan kepadanya, tetapi juga orang islam ada yang seperti itu. Telah disampaikan kepada mereka sebuah kebenaran, mengajak mereka kepada kebaikan, bahkan ketika mereka tersalah diingatkan untuk kembali mengingat Allah, diajak untuk memperbaiki kesalahan tersebut, namun mereka menolak untuk memperbaiki diri, menolak hidayah yang datang kepada mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak pantas dan sebagainya. Padahal sungguh, mereka telah sengaja menutup hati mereka dari menerima kebenaran tesebut. Mereka seolah-olah mengatakan bahwa mereka-lah yang lebih tahu tentang diri mereka, lebih memahami diri mereka, bukan orang lain sehingga tidak perlu orang lain membimbing dan mengajari mereka.

Sungguh, ini merupakan sebuah kesombogan yang nyata. Di dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. dikatakan, “Takkan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji zarrah”.

Di dalam Qur-an surah Al-A’raf ayat 179 dijelaskan pula,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Allah Swt. telah memberikan banyak nikmat kepada kaum Bani Israil, namun mereka senantiasa pula kufur dan melupakan-Nya. Allah hadirkan para Nabi dan Rasul yang selalu mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar, mengingatkan kepada ayat-ayat-Nya. Tetapi itu semua ditolak oleh mereka dengan sombongnya. Allah telah memberikan mereka mata untuk menyaksikan mukjizat para Nabi dan Rasul guna melihat bagaimana kekuasaan Allah. Allah beri mereka telinga sebagai indera pendengaran, tetapi lagi-lagi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan kebenaran yang disampaikan. Bahkan hati mereka yang seharusnya digunakan untuk menerima hidayah Allah, mereka tolak dengan mengatakan bahwa hati mereka telah tertutup. Mereka sepeti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mengapa? Karena jika hewan ternak yang melakukan hal tersebut, maka sudah sewajarnya. Hewan tidak memiliki akal. Namun kita lihat manusia, yang telah Allah berikan akal untuk mengikat hawa nafsunya dan digunakan untuk berpikir, malah tidak digunakan kepada hal tersebut. Jika manusia sudah tidak menggunakan akalnya lagi, maka tiadalah gunanya ia, hanya akan menjadi penghuni neraka Jahannam akibat dari kelalaian mereka dari mengingat Allah.

بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ

“…. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka….

Di dalam Kitab Tafsir Al-Maraghi telah dijelaskan bahwa sebenarnya hati kecil mereka secara fitrahnya bisa untuk menerima kebenaran. Namun karena keingkaran mereka terhadap para Nabi dan Rasul, kesombongan mereka serta karena mereka tidak mau mengamalkan kandungan Al-Kitab—bahkan berani mengubah isinya demi memuaskan hawa nafsu semata—, maka kemudian Allah jauhkan mereka dari rahmat-Nya, Allah laknat mereka dan menjauhkan dari nikmat hidayah-Nya. Allah teguhkan umur dan Allah tenggelamkan mereka dalam kekufuran.

Dalam Qur-an surah Al-Baqarah ayat 6 dan 7, Allah jelaskan,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُون َ
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم ٌ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Sebenarnya Allah telah mengingatkan bahwa orang-orang kafir itu diberi tahu ataupun tidak mengenai sebuah kebenaran, sama saja bagi mereka. Mereka tidak akan menerima hidayah Allah dan tidak akan berubah, karena kekufuran mereka atas nikmat Allah tersebut dan pasti mereka akan mendapatkan azab dari apa yang mereka lakukan itu.

Pada akhir ayat Qur-an surah Al-Baqarah ayat 88, Allah tutup dengan,

فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُون

“..., maka sedikit sekali mereka yang beriman.”

Diterangkan di dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir bahwa para mufassir berbeda pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan “hanya sedikit sekali dari mereka yang beriman”, tetapi ada juga yang mengartikan “sangat sedikit sekali iman mereka”. Maknanya ialah di antara kaum Bani Israil tersebut ada yang beriman kepada Allah Swt. dan mengikuti para Nabi dan Rasul, tetapi sangat sedikit iman mereka karena masih dilingkupi oleh kekufuran.

Diperjelas lagi dalam Kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur-an bahwa sedikit sekali di antara mereka yang mau beriman, disebabkan dijauhkannya hidayah Allah dari mereka. Ini sebagai bentuk balasan terhadap keingkaran dan kesesatan mereka sebelumnya. Mereka telah ingkar kepada Allah Swt., maka kecil kemungkinan bagi mereka mau beriman. Mereka telah menyia-nyiakan para Nabi dan Rasul yang datang untuk menyampaikan hidayah kepada mereka.

Jadi kesimpulannya, Allah telah memberikan kita akal untuk dapat memikirkan, mengambil hikmah ataupun pelajaran dari kehidupan kaum-kaum sebelumnya, yang telah Allah ceritakan di dalam Al-Qur-an. 

Seharusnya kisah dari Bani Israil ini dapat menjadi pelajaran bagi kita agar tidak melakukan perbuatan dosa yang sama. Apabila telah sampai kebenaran kepada kita, janganlah kita sombong dengan menolak kebenaran dari Allah. Ketika kita telah memiliki hidayah, maka janganlah kita buang begitu saja karena hidayah itu sangat sulit didapatkan.

Segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, marilah kita syukuri dengan sebenar-benarnya menghambakan diri kepada-Nya. Jangan sampai Allah murka dan melaknat kita dengan salah satunya menutup hati kita dari hidayah dan Allah biarkan kita tenggelam dalam kekufuran tersebut. Na’uudzubillaah min dzalik. (red: fsrmm.com)

Jangan Tutupi Hati dari Kebenaran

Oleh: Bayu Fernando (Majelis Pertimbangan Pengurus FSRMM Bidang Keilmuwan)



Maha Suci Allah, sang Maha Pencipta, yang telah menciptakan manusia dengan segala kelebihannya dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Allah memberikan akal dan hati kepada manusia agar dapat memahami ayat-ayat Allah,  memberikan mata kepada manusia agar dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah dan memberikan telinga kepada manusia agar dapat mendengarkan ayat-ayat Allah. Semua ini ditujukan agar manusia dapat menjalankan kehidupannya sebagai hamba dan khalifah. Inilah yang membuat derajat manusia lebih tinggi daripada makhluk Allah yang lainnya.

Namun jika manusia tetap berbuat maksiat kepada Allah Swt. setelah Dia berikan rahmat ini, maka sungguh, keadaan manusia tersebut jauh lebih hina daripada binatang ternak sekalipun. Semua ini bermuara daripada keimanan. Jika keimanan seseorang baik, maka baik pula lah kesudahannya. Namun jika keimanan seseorang buruk, maka buruk pula lah kesudahannya. Sedangkan tutur kata dan perbuatan adalah buah dari keimanan.

Di dalam Qur-an surah Al-An’am ayat 25 dan 26, Allah telah memberitahukan kepada kita tentang jalan (wasilah) agar kita terhindar dari sifat orang-orang kafir, yakni mereka memiliki akal, hati, mata dan telinga namun mereka tutup dari menerima kebenaran yang datangnya dari Allah Swt.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِين َ
وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُون َ

Artinya:
“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al Qur'an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu"(25) Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur'an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari(26).”

Qur-an surat Al-An’am ayat 25 dan 26 ini berisi tentang ayat-ayat Allah yang menggambarkan tentang sifat-sifat orang kafir, yakni sikap pengingkaran ketika di dunia dan sikap penyesalan ketika di akhirat.

Kaum kafir sebenarnya tahu bahwa Al-Qur-an merupakan petunjuk yang benar dan tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, akan tetapi mereka—dengan hawa nafsu mereka—tetap tidak mau mengimani Al-Qur-an. Hal itu dikarenakan mereka telah menutup pintu hatinya dari kebenaran dan itulah seburuk-buruknya pilihan mereka, bukan karena Allah enggan memberikan hidayah kepada mereka.

Apabila hati telah ditutupi oleh suatu penghalang yang menghalangi dari kebenaran, maka penglihatan (mata), pendengaran (telinga), pikiran (akal) dan semua panca indra yang berfungsi untuk memberikan respon/tanggapan akan lumpuh dan menolak segala macam kebenaran. Kita tahu bahwa hati manusia adalah sumber dari segala hal, sesuai dengan hadits:

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, apabila daging itu baik maka baik pula lah seluruhnya, apabila daging itu buruk, maka buruk pula lah keseluruhannya, dan ketahuilah daging itu adalah hati.
(Mutafaqqun ‘Alaih)

Dari hadits di atas kita ketahui bahwa hati adalah penentu dari segalanya. Apabila hati seseorang baik, maka keseluruhannya juga akan menjadi baik. Namun apabila hati seseorang buruk, maka keseluruhannya juga akan menjadi buruk. Cerminan hati seseorang akan dapat tergambar dari setiap tutur kata yang dilisankan dan setiap perbuatannya. Dan kita ketahui bahwa segala hal tersebut bermuara dari “keimanan”-nya.

Karena buruknya pilihan hidup kaum kafir—yang ingkar kepada Allah—, maka Allah pun memberikan azab kepada mereka dengan menutup hati, mata, telinga dan pikiran mereka agar jauh dari kebenaran. Allah telah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 88,

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُون َ

Artinya:
“Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.”

Di dalam Qur-an surah Al-Baqarah ayat 88 ini telah jelas pengakuan orang kafir bahwa mereka sengaja menutup hati mereka dari sesuatu yang sudah jelas kebenarannya, sehingga Allah pun mengazab mereka dengan menutup hati, pikiran, mata dan telinganya.

Sekali lagi! Di dalam ayat ini Allah kembali ingin mempertegas dan menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak pernah menghalangi hidayah masuk ke dalam hati seseorang. Namun jika dari hati seseorang tersebut memang sudah tidak lagi terbuka untuk menerima segala bentuk kebenaran, maka Allah akan mengazab mereka dengan sangat pedih di dunia, yaitu tertutupnya mata hati. Kesesatan mereka ini telah Allah gambarkan dalam QS. Al-A’raf (7): 179,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُون َ

Artinya:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ayat ini menggambarkan kepada kita bahwa manusia mempunyai hati, pikiran, mata dan telinga yang Allah ciptakan untuk menerima segala kebenaran-Nya. Namun mereka telah menutup kesemuanya itu dari kebenaran sehingga di akhirat kelak Allah akan berikan mereka azab berupa neraka Jahannam sebagai akibat buruk dari pilihan mereka (ingkar kepada Allah Swt.) tersebut.

Kemudian Allah mengumpamakan mereka lebih buruk daripada binatang ternak. Kita tahu bahwa hewan ternaklah yang memiliki tabiat demikian, di mana mereka memiliki alat-alat indra namun tidak bisa dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, menghabiskan masa hidupnya hanya untuk makan, minum, buang air dan begitu seterusnya.

Tentunya bagi orang-orang yang terdapat iman di dalam hatinya akan merasa tersentuh setelah membaca dan memahami ayat-ayat ini. Kemudian Allah juga ingin menunjukkan kepada kita bahwa perbuatan yang demikian adalah perbuatan orang-orang yang merugi. Jika kita menutup mata hati kita maka hal tersebut tidak akan mendatangkan kerugian sedikitpun kepada Allah Swt., melainkan hanya akan mendatangkan kerugian pada diri kita sendiri.

Kemudian buruknya sifat kaum kafir ini juga terlihat ketika mereka sesudah menyesatkan diri sendiri juga menyesatkan orang lain pula. Hal ini disebabkan karena kedengkian mereka kepada orang-orang yang berusaha memperoleh hidayah. Ini merupakan suatu sunatullah karena pada dasarnya orang-orang kafir (Yahudi dan Nasrani) tidak akan pernah senang kepada orang-orang  yang hendak mengejar hidayah sebelum mereka juga mengikuti (millah) orang kafir tersebut. Hal ini telah Allah jelaskan dalam QS. Al-Baqarah (2): 120,

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِير ٍ

Artinya:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Di dalam pemikiran orang-orang kafir bahwa tindakan mereka untuk turut menyesatkan orang-orang lain sebenarnya adalah perbuatan yang sia-sia belaka, karena perbuatan yang demikian hanyalah membinasakan diri mereka sendiri. Orang-orang kafir berbuat demikian karena tidak adanya kesadaran dari dalam diri mereka, karena mereka sendiri pulalah yang telah menutup pintu hati mereka sendiri.

Jadi, dari Qur-an surah Al-An’am ayat 25-26 ini sangat jelas bahwa Allah telah menjelaskan kepada kita mengenai sikap orang kafir yang begitu sesatnya dan dengan ayat ini Allah juga ingin memberi peringatan kepada kita agar kita tidak meniru perilaku seperti orang-orang kafir tersebut, yakni sengaja menutup hati, pikiran, mata, dan telinga dari segala kebenaran yang datangnya dari Allah Swt. Wallaahu a’lam bish-shawwaab. (red: fsrmm.com)

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified