Artikel Buletin: Peran Guru dalam Mendidik Generasi Penerus Bangsa dan Agama


Indonesia menetapkan 25 November sebagai hari Guru Nasional dalam rangka memberi apresiasi kepada para Guru yang telah mengabdikan dirinya demi mengajar, membimbing, serta mendidik anak-anak bangsa.
Seorang guru merupakan sosok  yang harus layak digugu dan ditiru oleh anak-anak bangsa terutama para peserta didik yang ia didik. Setiap tindak tanduk yang dilakukan oleh guru akan dilihat untuk kemudian ditiru oleh anak-anaknya. Karena itu untuk menjadi seorang guru yang layak digugu dan ditiru bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Ada banyak  tugas yang diemban oleh guru. Sedikit diantara amanah tersebut adalah mengajar, membimbing, menilai, melatih dan mendidik para anak-anak bangsa.

Sejatinya, tugas seorang guru adalah mendidik anak-anaknya. Menanamkan nilai keimanan kepada Allah Swt. sehingga anak-anak bangsa bisa mencintai Tuhan-Nya serta Nabi-Nya dan buah dari kecintaan tersebut adalah mampu menjalankan syari’at-syari’at islam dengan baik.

Tapi banyak dari Oknum guru melupakan tugasnya tersebut karena tergiur  oleh materi duniawi guna memperkaya diri. Banyak dari oknum guru yang justru tidak mau kalah eksis dengan para siswa/i nya dalam berpenampilan, menggunakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh, bermewah-mewahan, lantas lalai dalam mengemban amanah yang telah diberikan kepadanya.

Hingga wajar jika yang terjadi saat ini adalah para anak-anak bangsa senang melakukan gaya hidup yang bermewah-mewahan karena meniru gurunya, cara berpakaian yang jauh dari  norma agama Islam, ketidak jujuran hingga membuat banyak dari kita berbohong, mencontek, jual-beli soal ujian, bahkan korupsi. Tidak hanya itu, banyak perilaku yang menyimpang semakin menjadi-jadi, seperti: menjalani kehidupan malam yang gemerlap dengan segala makshiat didalamnya seperti konsumsi obat-obatan terlarang hingga jual-beli  minuman keras, geng motor yang banyak meresahkan masyarakat karena dibarengi dengan tindak pencurian, kekerasan, dan perkosaan, seks bebas dan banyak lagi hal lainnya. Itu semua merupakan bentuk-bentuk kenakalan remaja dan terjadi di zaman sekarang ini.

Jangan! Jangan kita menoleh kepada yang lain, untuk mencari siapa pelakunya. Lihatlah negeri kita ini. Bencana itu telah datang menimpa negeri yang kita cintai ini. Negeri dengan mayoritas penduduknya adalah Islam. Dimana islam sangat membenci dan melarang keras terjadinya kerusakan-kerusakan tersebut. Ya, sungguh kaum muslimin yang dirahmati Allah Swt., Bencana tersebut bukan hanya ada di Negara barat seperti di Eropa sana saja, atau hanya cerita yang direka dan tertera dimajalah-majalah. Bisa jadi, anak-anak kita termasuk yang menjadi korban atau bahkan menjadi tersangka yang melakukan kerusakan tersebut, Na ‘udzubillahi min dzaalik!

Apakah karena mereka tidak mengenyam bangku pendidikan? Tidak! Bukan itu jawabannya. Karena kita lihat, para koruptor yang mengambil hak-hak rakyat adalah mereka yang bergelar Doktor, Profesor, Master, dll. Mereka yang melakukan kriminalitas adalah para pengangguran yang telah menamatkan pendidikan tingkat Sarjana. Mereka yang melakukan maker, konspirasi atau persekongkolan jahat disekolah-sekolah berupa jual-beli soal adalah oknum-oknum siswa/i yang telah lebih dari 6 tahun mengenyam bangku sekolah dan pejabat yang bergelar Sarjana, Insinyur, dll.  Yang sudah belasan tahun mengenyam bangku pendidikan.

Hal tersebut bukanlah suatu hal yang seharusnya membuat kita tercengang. Karena apa? Proses pendidikan selama minimal 6 tahun yang dijalankan oleh anak tidak berbekas di dalam hati mereka. Bahkan mereka tidak mendapatkannya. Kebanyakan yang terjadi dalam proses belajar mengajar hanyalah sebatas pembelajaran saja, transfer ilmu pengetahuan. Seorang guru mengajar, dan seorang murid belajar atau sebaliknya.

Ada satu tugas besar yag telah dilalaikan oleh kebanyakan guru saat ini. Yakni mendidik para anak-anaknya. Memasukkan nilai-nilai yang baik dalam jiwa seorang anak.

Jika kita mendengar kata guru, yang layak digugu dan ditiru. Yang kemudian sanggup mendidik anak-anaknya, juga mampu mengajarkan Ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam, serta melatih anak-anaknya, membekali mereka dengan skil-skil yang bermanfaat di masyarakat, maka kita akan mengingat satu nama. Ya.. seorang guru besar yang merubah peradaban dunia ini, ialah Muhammad Saw.

Kita lihat putra-putri hasil didikan Beliau Saw., para Shahabat. Ada Kholid bin Walid yang di usianya yang masih belasan tahun ia sudah diangkat menjadi seorang panglima perang. Bukan main-main, seorang panglima perang yang mengatur ratusan bahkan ribuaan pasukan untuk berjuang di jalan Allah, tak segan untuk mengorbankan nyawa demi membela Agama-Nya karena kecintaannya pada Robb Pencipta Semesta. Ada Sa’ad bin Abi Waqash, yang di usianya yang masih belasan ia telah menjadi pemuda yang kokoh pendiriannya di atas keimanan serta dalam usia mudanya telah menjadi seorang ahli memanah di seantero negeri. Dan banyak lagi orang-orang luar biasa lainnya, Umar bin Al-Khaththab, Abu Bakar Ash-Siddiq, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib.

Orang-orang luar biasa tersebut tidak lahir kedunia dengan langsung memiliki kemapuan tersebut. tapi melalui proses pendidikan dan pengajaran yang luar biasa dari seorang Muhammad Saw.. Beliau terlebih dahulu menanamkan nilai-nilai Aqidah kepada para Shahabat. Seperti halnya Luqman, yang mendidik anak-anaknya dengan mengenalkan mereka kepada Allah Swt. Allah Swt. berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”
(QS. Luqman [31]: 13

Inilah dasar utama yang harus dipahamkan oleh guru kepada para muridnya, selanjutnya alqur’an dan hadits yang membuahkan akhlakul karimah serta lain sebagainya. namun, memberikan teori saja tau melakukan proses pembelajaran saja tidaklah cukup. Maka dari itu peran guru selanjutnya adalah mendidik muridnya, mentransfer nilai-nilai yang baik dengan memberi teladan yang tentunya juga baik kepada para muridnya. Karena, murid condong lebih mudah meniru sesuatu hal yang baru atau yang menarik baginya. Tentu menjadi sebuah keharusan jika para guru selain mengajar & mendidik juga harus membimbing para muridnya sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Kesabaran dalam mendidik anak murid juga modal yang harus dimiliki setiap guru. Murid yang berkualitas berasal dari guru yang berkualitas pula. Semoga dapat menjadi bahan renungan kita bersama sehingga kita bisa menjadi guru atau pendidik yang lebih baik lagi. Wallahu a’lam bishshowab. (red: fsrmm.com)

Dzikir Sebagai Penenang Hati


Oleh: Aminah (Anggota Akhwat FSRMM Riau)


Sudah menjadi fitrah bagi manusia merasakan keresahan di dalam hatinya, baik itu karena adanya masalah yang menimpa ataupun karena hal lainnya. Keresahan yang tidak ada habisnya ini tak jarang membuat manusia yang lemah imannya melakukan perbuatan dosa, seperti mengonsumsi narkoba, bunuh diri, bahkan membunuh orang lain. 
 
Padahal masalah ataupun keresahan yang menimpa manusia berasal dari Allah Swt. Allah ingin menguji hamba-Nya melalui segala perasaan yang menyelimuti hati hamba-Nya tersebut, tak lain adalah sebagai bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Allah ingin kita agar semakin dekat dengan-Nya dengan mendatangkan permasalahan dan keresahan hati pada kita. Sebab bagi orang-orang yang beriman, dengan keresahan dan kegundahan atas segala problematika hidup dapat membawa dirinya menuju Robb-nya dan mereka akan senantiasa mengingat Allah Swt. dalam kondisi apapun.

Allah telah berfirman,
 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram”
(QS. Ar-Ra’d [13] : 28)

Mari sejenak kita renungkan firman Allah ini. Bukankah Allah telah mengatakan bahwa hanya dengan mengingat-Nya lah hati menjadi tentram? Dan itu adalah benar. Inna wa’dallaahi haqqa, Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.

Untuk itu solusi yang tepat terhadap dalam menghadapi kegundahan yang melanda hati kita adalah dengan senantiasa berdzikir mengingat Allah.

Dzikir kepada Allah merupakan serangkaian aktivitas yang meliputi hati, lisan, dan perbuatan. Dzikir dengan hati, yaitu senantiasa mengingat Allah. Dzikir lisan, yakni senantiasa mengucap tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk rasa syukur dan pengagungan terhadap Allah Swt. Dzikir dengan perbuatan, yakni senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah, serta dengan mentadabburi ayat-ayat dan kebesaran-Nya.
Lalu, mengapa dengan mengingat Allah dapat menentramkan hati kita?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tak lain adalah karena berdzikir atau mengingat Allah merupakan suatu amalan yang paling tinggi keutamaannya dan Allah sangat mencintai hamba-Nya yang senantiasa berdzikir mengingat-Nya. Bila kita senantiasa melakukan hal tersebut niscaya kita akan menggapai cinta Allah Swt. Dengan begitu Allah akan semakin melimpahkan nikmat-Nya pada kita, salah satunya nikmat ketenangan hati.
Hal tersebut juga terdapat dalam sabda Rasulullah Saw. dalam hadits shahih,

“Maukah kamu aku tunjukkan amalan yang terbaik dan paling suci di sisi Rabb-mu, dan paling mengangkat derajatmu lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu musuhmu lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?” Para shahabat yang hadir berkata, “Mau, Wahai Rasulullah!” Beliau Shalallahu alaihi wasallam menjawab, ‘Berdzikirlah kepada Allah’.”
Ketika hati kita tentram, maka kita akan lebih tenang dan mudah dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. Suatu solusi yang mungkin baru kita temukan. Tentunya hal itu semua kembali lagi pada kekuatan iman. 
Untuk itu, saudaraku, mari kita senantiasa mengingat Allah dengan keimanan sebagai landasannya dalam segala situasi dan kondisi, agar kita dapat meraih ketentraman hati dan menggapai cinta-Nya.

WANITA MULIA ITU SENANTIASA MENUTUP AURATNYA


Oleh: Noni Andini (Mentor FSRMM Bidang Syiar Media dan Jurnalistik)



Melihat realita kehidupan saat ini, sangat miris rasanya ketika mayoritas dari penduduk Indonesia adalah beragama Islam namun dalam kesehariannya tidaklah mengamalkan syari’at Islam. Lihat saja para pejabat yang seharusnya mengabdi dan menyejahterakan rakyat, nyatanya mereka lah yang memakan uang rakyat. Belum lagi tenaga pendidik yang semestinya amanah dalam mendidik para muridnya, tetapi hasil yang didapat tidaklah demikian. Saat ini tenaga pendidik hanya melakukan transfer ilmu saja. Hal ini dapat dilihat dari para pelajar yang sangat bobrok akhlaknya, mulai dari tawuran hingga seks bebas. Orang tua yang seharusnya menjadi madrasah pertama bagi anak belum mampu menjalankan perannya dengan baik. Rumah, sejatinya, menjadi tempat pertama dalam menanamkan keimanan sebagai karakter utama anak. Namun yang terjadi justru sebaliknya, membuat anak jauh dari Islam.
Apatah lagi bagi para muslimah yang memiliki sangat banyak keistimewaan dan kemuliaan. Namun mereka dapat dengan mudah melunturkan kemuliaan itu dengan perbuatan yang melanggar perintah Allah, salah satunya tidak mau menutup auratnya.
Ketika Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi Rasul, maka saat itu pula derajat wanita ditinggikan. Tak ada lagi wanita yang ketika lahir langsung dikubur hidup-hidup. Allah Swt. meninggikan derajat seorang wanita dengan adanya sebuah surat di dalam Al-Qur-an, yakni Qur-an surah An-Nisa’ (wanita). Begitulah Allah Swt. dan Rasulullah Saw. memuliakan wanita, tetapi nyatanya wanita itulah yang tidak ingin dimuliakan sehingga masih dengan mudah mengumbar auratnya.
Allah Swt. yang menciptakan manusia tentulah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tidaklah Allah Swt. memerintahkan sesuatu jika hal tersebut tak bermanfaat baginya dan tidak pula Allah larang untuk mengerjakannya jika hal tersebut mengandung mudharat baginya. Allah Swt. telah memberikan petunjuk bagi kita sekalian manusia, salah satunya tentang bagaimana kita menjalani kehidupan di bumi Allah Swt. ini, dengan mengutus para Nabi dan Rasul untuk kita teladani dan Kitab Suci Al-Qur-an. Lantas apalagi yang menghalangi kita untuk tidak taat kepada-Nya? Padahal diri ini hanyalah menumpang hidup di bumi Allah, maka sudah sepatutnya kita mengikuti segala aturan dan ketentuan dari-Nya.
Allah Swt. telah berfirman dalam QS. An-Nur (24): 31,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Dan diperjelas dalam hadits Rasulullah Saw.,

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra.: “Asma’ binti Abu Bakar ash-Shiddiq masuk menemui Nabi Muhammad Saw. dia memakai pakaian yang tipis, baginda Rasulullah Saw. berpaling daripadanya dan berkata: ‘Wahai Asma’, sekiranya seorang wanita telah didatangi haid (baligh), anggota badannya tidak boleh diperlihatkan kecuali ini dan ini (sambil baginda menunjukkan ke arah wajah dan kedua pergelangan tangannya).”
(HR. Abu Dawud)

            Dengan dua nash ini, telah sangat jelas perintah menutup aurat bagi seorang wanita. Tidak hanya sekedar itu, aurat itu ditutupi dengan pakaian yang longgar, tidak tipis, dan juga tidak membentuk anggota tubuh. Namun kebanyakan wanita saat ini banyak berdalih dengan mengatakan, “belum siap”, “menutup auratnya nanti saja kalau hati sudah diperbaiki”, “percuma saja menutup aurat kalau kelakuan masih bejat”, “tidak mau berjilbab karena takut kecantikan memudar” dan alasan lainnya yang tidak bisa diterima.
Padahal sungguh, semua argument itu terbantahkan secara logika. Dalam menjalani segala perintah Allah, tidak perlu menunggu siap atau tidak siap, karena ini merupakan kewajiban dan harus dilaksanakan dengan penuh keyakinan. Maka tidak ada alasan bagi wanita muslim untuk menunggu kesiapan dalam menutup auratnya. Karena di balik perintah menutup aurat ini pastilah terdapat banyak kebaikan, salah satunya terjaga dari gangguan lelaki hidung belang.
Selain itu, ketika kita menutup aurat, maka secara otomatis kita akan terus berupaya untuk memperbaiki diri. Mengapa? Karena akan timbul perasaan, “Oh, aku sudah memakai jilbab sekarang, tidak mungkin kelakuanku masih buruk.”. Maka kita akan terus berusaha untuk memperbaiki akhlak selama kita menutup aurat. Dan alasan “percuma saja menutup aurat jika kelakuan masih bejat” dan “ingin memperbaiki hati dulu baru kemudian menutup aurat” tidak dapat diterima.
Ada lagi pendapat yang lebih aneh, “tidak mau berjilbab karena takut kecantikan memudar”. Untuk hal ini, Rasulullah Saw. bersabda,

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk kalian dan tidak pula harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian.
(HR.Muslim)

Rasulullah Saw. telah mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah tidaklah menilai seorang hamba dari kecakepan, kekayaan, kecakapan, dan sebagainya, akan tetapi yang Allah lihat ialah keimanannya kepada Allah. Termasuk bagi seorang wanita yang begitu mulia dengan menutup auratnya.
Rasululluh Saw. kembali bersabda,

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”.
(HR.Muslim)

Seorang wanita itu indah dan tampak cantik ketika ia mampu menjaga dirinya dan memuliakan dirinya. Dan surga yang akan menjadi tempatnya kelak bersama para Shahabiyat, insya Allah.
Wallahu’alam bish shawwab.
(red: fsrmm.com)

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified