>
  • FSRMM StoreUnit usaha Online FSRMM. Visit: www.fsrmmstore.com
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • Tracking (3)Melintasi alam sembari melihat kebesaran Allah. Program tahunan FSRMM
  • outbondSalah satu program fsrmm dalam pembinaan fisik & kesamaptaan
  • kultum2Program Rutin FSRMM, Kultum selepas Sholat Berjemaah
  • Qiyam 2Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • Qiyam 3Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • qiyamSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • RadioFSRMM sudah mengisi acara di RRI PRO 2, Susqa FM, dan An-nur FM
  • BaksosSalah Satu Aksi Nyata, Kegiatan FSRMM terjun ke Masyarakat
  • full screen sliderSalah satu program FSRMM, Divisi Kreativitas dan Seni Islam
  • Majelis QuranSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan

Tadabbur Ayat Qur-an tentang Peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah Saw.

Oleh: Noni Andini (Wakil Ketua FSRMM)



سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.(QS. Al-Israa` [17]: 1)

Surah Al-Isra’ ini termasuk kedalam surah Makkiyah. Pada ayat pertama dari surah ini menjelaskan tentang bagaimana peristiwa Isra’ dari Nabi Muhammad shalallaahu 'alaihi wa sallam yang mana peristiwa ini terjadi pada masa ke-10 kenabian yang dikenal dengan tahun duka cita.

Kata pertama dari ayat ini sungguh penuh dengan pujian kepada Allaah subhaanahu wa ta'aala yakni “سُبْحَانَ” sebuah pertanyaan yang muncul, kenapa ayat ini dimulai dengan kata “Subhaana”? di dalam Tafsir Ibnu Katsir tulisan dari Imam Ibnu Katsir dijelaskan bahwasanya ingin menggambarkan betapa sucinya Allaah Swt. sehingga tidak ada satupun yang dapat menyaingi-Nya, tak ada yang bisa menandingi-Nya, Dialah dzat Maha Agung dan Maha Kuasa. Kata ini menempatkan derajat Allaah Swt. pada posisi tertinggi dan paling mulia. Pada masa jahiliyyah, kaum kafir Quraisy memperlihatkan kemusyrikkannya dengan menyamakan Allaah Swt. dengan makhluk-Nya dan ciptaan-Nya, seperti matahari, api, dan sebagainya, pula menyamakan Allaah Swt. dengan benda mati yang dibuat oleh hasil tangan mereka sendiri seperti berhala, yang semua itu mereka jadikan sebagai sesembahan mereka. Sedemikian rupa orang-orang kafir Quraisy berusaha untuk mengotori kesucian Allaah Swt. dengan segala bentuk kesyirikan, tetapi kata pertama dari ayat ini telah membantah dengan sangat tegas Allaah Swt. tetap Dzat yang Maha Suci, tidak akan pernah terkotori apalagi terpengaruh, atau bahkan kesucian Dzat-Nya dengan perbuatan apapun dari mereka.

Betapa pentingnya ayat ini dimulai dengan kata “Subhaana” yakni untuk menafikan sifat-sifat Allaah Swt. yang dibuat kurang oleh manusia, sejatinya tidak ada yang mustahil bagi Allaah Swt. Sebab, segala sesuatu adalah mungkin bagi Allaah Swt. bisa terjadi kapanpun sesuai kehendak-Nya. Karena pada ayat ini setelah kata “Subhaana” terjadi peristiwa yang akan sulit diterima oleh logika manusia, terlebih kaum kafir Quraisy saat itu. Setiap makhluk memiliki keterbatasan, bagaimana mungkin ia bisa berpindah tempat dalam waktu yang sekejap? Tampak begitu jelas di sinilah letak kekuasaan Allaah Swt. bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi sesuai sebagaimana yang Allaah Swt. tetapkan.

Selanjutnya ayat ini disambung dengan kata “ أَسْرَ”, didalam Tafsir Fi Zhilalil Qur-an karya Sayyid Qutbh dijelaskan bahwa kata “asraa” termasuk kepada kata kerja yang menunjukkan suatu aktivitas perjalanan pada malam hari. Dalam kaidah bahasa arab kata “asraa” yakni fi’il madhi yang menandakan bahwa Rasulullah Saw. diperjalankan oleh Allaah Swt. sejatinya kata “asraa” sudah mewakili keterangan waktu yang terkandung di dalamnya, tidak perlu lagi ada tambahan penjelasan tentang keterangan waktu. Akan tetapi secara tekstual, di dalam ayat ini ada kata “لَيْلا” yang artinya pada malam hari. Kenapa diulang kembali makna malam hari ini? Untuk menyoroti singkatnya waktu malam, sedikitnya waktu tersebut sehingga tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Begitu pula suasana malam yang teduh, sunyi, sejuk, dan penuh kekhusyukan. Sehingga suasana ini cocok untuk Nabi Muhammad Saw. yang sedang bersedih hati karena ditinggal wafat oleh pamannya Abu Thalib yang senantiasa membelanya. Tidak hanya itu, yang menambah kesedihannya ialah pamannya wafat tidak dalam keadaan mengesakan Allaah Swt. Tak lama setelah itu, istri tercinta beliau yakni Khadijah radhiyallaahu 'anha wafat, meninggalkan kesedihan yang mendalam karena betapa pentingnya sosok bunda Khadijah dalam mendampingi, menyokong, menghibur, dan mengokohkan dakwah Rasulullah Saw. belum lagi dakwah beliau di Thaif yang ditolak mentah-mentah bahkan hingga dicaci maki dan dikejar-kejar penduduk Thaif sambil dilempari batu. Di sinilah Allaah Swt. menghibur hamba-Nya sang penyampai kebenaran di muka bumi ini agar tidak bersedih hati, betapa luasnya ciptaan Allaah Swt. Dengan segala keindahan yang bisa menyejukkan dan membesarkan hati Rasulullah Saw. bahwa perjuangan harus tetap dilanjutkan.

Ditambahkan pula dengan kata “ بِعَبْدِهِ” yang artinya hamba-Nya, di dalam Tafsir Al-azhar tulisan Prof. Hamka menerangkan bahwa kata ini mempertegas kesucian Allaah Swt. Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya. Menyebutkan Nabi Muhammad adalah hamba Allaah Swt. yang boleh diperbuat-Nya menurut apa yang dikehendaki-Nya.



Kata berikutnya dari ayat ini “مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى” lebih lanjut lagi dipaparkan didalam tafsir Fi Zhilalil Qur-an, bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan perjalanan “wisata” Rasulullah Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang segala sesuatunya telah diperhitungkan oleh Allaah Swt. yang Maha Teliti dan Maha Pandai sesuai dengan kehendak-Nya. Timbul sebuah pertanyaan, kenapa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha? Karena Masjidil Aqsha awalnya adalah kiblat umat Islam sebelum dipindahkan ke Masjidil Haram. Inilah tujuan penting dari perjalanan yang luar biasa ini, bahwa Allaah Swt. ingin mendeklarasikan Nabi Muhammad Saw. adalah Nabi Allah yang terakhir dan penutup dari Nabi-nabi terdahulu yang telah disebutkan pada kitab-kitab sebelumnya. Di wilayah Masjidil Aqsha ini Allaah Swt. telah mengutus Nabi-nabi sebelum Baginda Muhammad Saw. agar menyampaikan kebenaran, mengerjakan segala perintah, dan meninggalkan segala larangan Allaah Swt. serta menyampaikan bahwa Muhammad Saw. adalah Nabi akhir zaman. Ketika Nabi Muhammad Saw. dideklarasikan sebagai Nabi terakhir maka ini menyatakan bahwa syariat Nabi terdahulu telah gugur dan telah disempurnakan oleh syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. yakni agama Islam dengan Al-Qur-an sebagai kitab yang wajib kita imani.

Beranjak kepada kalimat berikutnya dari surah Al-Isra’ ayat ke-1 ini yakni “الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ” artinya yang telah Kami berkahi di sekelilingnya. Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan pula tumbuh berbagai tanaman dan buah-buahan. Di tempat inilah Allaah Swt. memberikan banyak rahmat-Nya; Allaah Swt. Mengutus banyak Rasul dan Nabi yang berdakwah di tempat ini. Karena ketika diutus Rasul dan Nabi, maka akan tertahanlah azab dari Allaah Swt. kepada kaum kufur di sana, maka wajar begitu diberkahinya tempat ini. Belum lagi tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang terkandung penuh manfaat dan khasiat tumbuh di sana, seperti buah zaitun, kurma, tin, dan lain-lain. Ayat ini menunjukkan betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Allaah Swt. kepada hamba-Nya.

Lalu kata yang begitu menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allaah Swt. ialah “مِنْ آيَاتِنَا”, betapa perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini hanyalah sebagian kecil dari tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allaah Swt. Di antara penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia, hari kiamat, dan masih banyak lagi nikmat dan kekuasaan yang Allaah tampakkan, bila kita mau untuk "membaca" secara keseluruhan dari penciptaan Allaah Swt. terhadap alam semesta ini.



Ayat ini ditutup dengan sebuah penegasan “إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ” bermakna sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. Peristiwa Isra’ Mi’raj ini juga merupakan ujian untuk Rasulullah Saw. terhadap umatnya, reaksi apa yang akan diberikan umatnya ketika Rasulullah Saw. menceritakan perjalanannya yang menakjubkan ini? Akankah mereka yang beriman akan semakin taat atau memilih murtad? Bagi mereka yang kafir apakah akan semakin mencela dan mencemooh Nabi Muhammad Saw. atau sebaliknya tergerak hatinya untuk masuk ke dalam Islam? Sungguh, mereka telah lupa setiap perbuatan yang mereka lakukan itu sedang disaksikan dan didengar oleh Allaah Swt. dan mereka akan menerima ganjaran sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

Maka, masihkah ragu dengan agama ini? Masih tidak ingin masuk ke dalamnya secara kaaffah? Allaah Swt. telah membuktikan betapa kuasa-Nya melingkupi alam semesta ini. Semestinya setiap insan bertambah tunduk dan patuh terhadap aturan-Nya dalam kehidupan ini. Senantiasa memupuk keimanan demi menggapai rida-Nya dan menjemput surga-Nya. Aamiin..

Wallaahu’alam bisshowwab. (red: fsrmm.com)

Mau dengar siroh dari peristiwa Isra' Miraj? Langsung saja klick di sini

My Friends, Love is...

Oleh: Meutya Safitri, A.Md.Keb. (Mentor Bidang HUMAS dan Ukhuwah FSRMM)



Do you know what love is?
Is love that having a boyfriend or girlfriend?
Is love just take care to our parents?
Is love just caring what benefit us only?

Love is something we have to protect 'cause Allaah give it to us purely without a single stain.

Love is when you have to hate someone's bad deeds 'cause of Allaah only...
Love is when you have to fully love your parents, your families, your husband, your wife, your children 'cause of Allaah only...

Love is doing everything 'cause of Allaah ONLY!

Do not contaminate your love by stepping Syaithan's way and remember...

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
Nor come nigh to adultery: for it is a shameful (deed) and an evil, opening the road (to other evils).(QS. Al-Israa` [17]: 32)

Hadiri Kegiatan yang Bermanfaat Ini!



HADIRILAH!
TABLIGH AKBAR & PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA
ACARA PUNCAK KEGIATAN PERINGATAN ISRA' MI'RAJ 1436 H MASJID RAYA
Penceramah:
al-Ustadz Abdul Somad, Lc. MA, حفظه الله
Hari dan Tanggal:
Kamis, 26 Rajab1436 M/ 14 Mei 2015 M
Waktu:
19:30 WIB (Isya Berjamaah)
Tempat:
Masjid Raya "Masjid Tertua Pekanbaru"


Contact Person:
Ikhwan: 0822-8586-1502
Akhwat: 0852-7199-8594

Acara ini ditaja oleh:
Forum Pemuda Masjid Raya Pekanbaru (FODAMARA)

Alhamdulillah, Radio Mini FSRMM Telah Mengudara!

Alhamdulillah... Telah mengudara Radio FSRMM FM di 99.9 Mhz (Status percobaan). Untuk saat ini dapat disimak di sekitar Jalan Kartini, Jalan Borobudur, Jalan Pawon, Jalan Diponegoro dan Jalan Gajah Mada. Alhamdulillah. Mohon doanya agar radio ini bisa bermanfaat bagi umat Islam. (red: fsrmm.com)

(Ustadz Diki Gunawan Putra dan Ustadz Sebri Kurnia Ali Syahputra sedang membawakan program Salam-salam)

(Ustadz Diki dan Ustadz Sebri sedang berbincang dengan para pendengar yang bergabung Via Telepon)


(FOTO: DOKUMENTASI FSRMM.com)


Protect Whats Worth in You

Oleh: Meutya Safitri, A.Md.Keb. (Mentor Bidang HUMAS dan Ukhuwah FSRMM)



Did you know?
Whether we have something worth it, there would be someone is going to take over it.
Just like a robber, come to your house, taking your money, stealing your gadgets, and bringing out your cars.

They take everything worth from yours.

So, if Syaithan thinks you have worthy things in your heart, they are going to steal it from you. It means, protect your Imaan and have faith to Allaah, follow the Qur-an and Hadith from His Messenger; Muhammad shalallaahu 'alaihi wa sallam. Our war with Syaithan is not over yet! (reed: fsrmm.com)

As Beauty as Diamond

Oleh: Meutya Safitri, A.Md.Keb. (Mentor Bidang HUMAS dan Ukhuwah FSRMM)



Beautiness of diamond can not be seen by anyone.
Because it is just special person or even very important person can see it closer.

You want to touch it? You have to buy it first.

That is muslimah have to be. Be the diamond, you are secure and untouchable. So worth to be keep.
But you are just a junk whether you did not follow your Rabb. Because what make you so special is your Imaan (faith to Allaah). In syaa Allaah. (red: fsrmm.com)

Konsep Pendidikan Islam, Solusi Krisis Generasi Berkarakter

Oleh: Sastrawan Tarigan (Da'i FSRMM dan Kristolog Muda)



Pendidikan di Indonesia Saat Ini

Belakangan ini pemerintah disibukkan dengan program pendidikan berkarakter. Semua pihak mulai dari orang tua, guru, sampai pemerintah ingin agar para pelajar mampu memiliki kepribadian berkarakter dan berakhlak mulia. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda impian tersebut menjadi kenyataan, malah sebaliknya, moral pelajar semakin ambruk dan tak punya jati diri.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal sudah berkali-kali kurikulum pendidikan kita diganti. Namun kenyataannya pemerintah masih sibuk dengan pendidikan berkarakter ala dia yang telah terbukti gagal dan tak mau mengakui bahwa selama ini yang menjadi pokok permasalahannya adalah sistem pendidikan Indonesia yang telah diliberalisasi, lalu terbentuklah kurikulum yang kaku serta tenaga pendidik yang tidak kompeten, sehingga terbentuk pendidikan yang begitu terpusat di sekolah dan terjadilah pendikotomian antara ilmu pengetahuan/sains dengan agama.

Prof. Daniel. M. Rosyid, anggota Dewan Penasihat pendidikan Jawa Timur dalam artikelnya yang diterbitkan Jawa Pos (Jawa Pos Senin, 8 Desember 2014) yang berjudul ‘Kita Tidak Butuh Sekolah’, apalagi kurikulum menekankan bahwa kondisi pendidikan kita sudah begitu sekolahisme, artinya masyarakat telah sampai pada candu terhadap sekolah. Padahal sekolah yang penyampaian materinya didominasi di dalam ruangan (indoor) adalah hasil produk abad 17 masa pencerahan Eropa yang jelas-jelas sudah begitu usang. Lebih lanjut beliau mengatakan, bahwa sejatinya hanya anak-anak pemalas dan berkebutuhan khususlah yang membutuhkan kurikulum yang disusun oleh para teknokrat ahli itu. Akhirnya jadilah kurikulum yang telah disusun oleh teknokrat disajikan oleh guru yang tidak kompeten. Sehingga membuat siswa yang sebenarnya cerdas menjadi terhambat potensinya. Sejatinya, siswa yang cerdas tidak membutuhkan kurikulum yang terpusat dan kaku. Selain itu, pendidikan karakter seharusnya tidak hanya diperoleh di sekolah, melainkan juga butuh praktik di luar sekolah (outdoor). Beliau menekankan bahwa pendidikan pertama dan utama sesungguhnya diperoleh dari keluarga sehingga pendidikan yang terpusat di sekolah sudah saatnya dikurangi secara signifikan.

Namun kenyataannya, pemerintah masih keukeuh dengan konsep “pendidikan berkarakternya’ yang gagal itu. Tampaknya pemerintah tak memahami atau tak mau paham bahwa sejatinya pendidikan itu bukan sekedar mendapatkan ilmu dan mampu menguasai satu bidang tertentu saja. Namun juga mampu mencetak karakter-karakter unggul yang beradab dan tidak nyeleneh dalam hal keilmuan.

Islam Menjunjung Tinggi Adab

Keilmuan dalam Islam sangat menjunjung tinggi adab. Bahkan terdapat kaidah dalam keilmuan Islam “al-‘adabu fawaul ‘ilmi”, adab itu lebih tinggi daripada ilmu. Maka dalam tradisi keilmuan Islam selalu dituntut agar para penuntut ilmu  terlebih dahulu belajar adab. Agar ia mengetahui adab kepada Tuhannya, adab kepada utusan Tuhannya, adab kepada gurunya,  serta adab kepada ilmu itu sendiri.  Karena hakikatnya mencetak manusia yang beradab adalah salah satu tujuan utama pendidikan itu sendiri.

      Jadi, betapa pentingnya kedudukan adab dalam ajaran Islam. Lalu, apa sebenarnya konsep adab? Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan derajat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.” Pengenalan adalah ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia kerana yang satu mennyifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi menyifatkan ketiadasedaran dan kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (ISTAC, 2001)-( dikutip dari makalah Dr. Adian Husaini, pendidikan Karakter: Penting Tapi Tidak Cukup!).

Gambar: Pendidikan dengan Metode Klasik bukan Solusi untuk Membentuk Generasi Muda yang Berkarakter

Maka sudah jelaslah, jika seorang yang memiliki ilmu namun tanpa adab maka ia akan menjadi orang yang angkuh dan ingkar. Sehingga tak heran ketika kita melihat tokoh yang memiliki ilmu tapi suka mencela, mencaci, dan menghujat serta nyeleneh. Yang dihujatnya bukan hanya manusia saja, namun Tuhan dan kitab suci pun menjadi bahan hujatannya. Karena ia hanya berilmu, namun tak memilik adab. Jadi bisa dikatakan, siapa yang memiliki ilmu namun tak memiliki adab, maka sia-sialah seluruh ilmu yang ia miliki.

Islam Tidak Mendikotomikan Ilmu dengan Agama

Islam tidak mengenal pendidikan yang parsial( juz’iy), namun sebaliknya,  konsep pendidikan Islam adalah integral (kully). Oleh karena itu Islam tidak mengenal pendidikan yang mendikotomikan antara ilmu pengetahuan dan agama.  Sistem pendidikan Islam yang terintegrasi bertujuan mewujudkan individu yang kenal dengan dirinya, kenal Tuhannya, kenal utusan Tuhannya, mengerti akan kewajibannya hidup di dunia, sehingga ia paham bahwa seluruh aktivitasnya di muka bumi ini memiliki tujuan utama yaitu beribadah kepada Allah ( Q.S. adz-Dzariyat: 56). Bukankah aktifitas pendidikan di universitas dikenal dengan istilah “kulliyah” bukan “juz’iyyah. Hal ini mengindikasikan bahwa seharusnya intelektual-intelektual muda dapat menjadi manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dengan tujuan membuatnya semakin ta’at kepada Allah, bukan malah semakin menjauhkan dirinya dari Allah, bahkan malah menjadi penghujat, pencaci, dan penghina Allah, kitab-kitabNya, dan utusan-utusanNya. Karena pendikotomian ini malah mendistorsikan tujuan pendidikan itu sendiri.

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya tak terpaku dengan pendidikan yang   menghasilkan individu yang hanya mampu menguasai satu bidang saja, tapi juga dalam bidang-bidang lainnya, misalnya seorang dokter yang juga paham ilmu fiqih, seorang pakar matematika yang paham ilmu tafsir al-Qur’an dan lain-lain yang kesemuanya itu telah dicontohkan para ulama-ulama besar terdahulu seperti al-Khwarizmi, Ibnu Sina, al-Kindi, ar-Razi dan sebagainya. Bahkan, menurut Jacques Maritain, pemikir Katolik asal Perancis menyatakan bahwa pendidikan yang terlalu cenderung ke arah spesialisasi sebenarnya melatih manusia untuk menjadi binatang, sebab binatang memang mempunyai kemahiran sangat khusus dalam suatu bidang tertentu. Lebih lanjut Prof.  Wan Mohd Nor mengatakan Islam tidak mengenal sifat “spesialisasi buta” seperti ini. ( dikutip dari Buku Filsafat Ilmu Perspektif Islam dan Barat, Dr. Adian Husaini et. al, Gema Insani , 2013) Layaknya ilmuwan-ilmuwan islam masa lalu dikenal luas memiliki penguasaan diberbagai bidang keilmuan (polymath).

Dengan semua kegagalan yang ada, sudah seharusnya pemerintah kembali menata dan membenahi sistem pendidikan. Pendidikan karakter memang bagus, namun pendidikan karakter saja tidak cukup. Konsep pendidikan karakter yang ditawarkan harus jelas dan memenuhi syarat seperti yang telah dipaparkan di atas. Pendidikan di sekolah memang baik, namun pendidikan yang dipusatkan di sekolah saja tentu perlu dikaji ulang. Ditambah dengan tenaga pengajar yang masih jauh dari standar kompetensi serta kurikulum yang tak pernah baku dan begitu kaku, selalu berubah setiap menterinya berubah. Kita harus mulai melirik pendidikan diluar ruangan (outdoor). Pemerintah harus serius untuk menyelaraskan antara ilmu pengetahuan umum dan agama. Agar nanti menghasilkan manusia-manusia yang mampu mengenal ilmu pengetahuan secara luas, namun tidak meninggalkan Allah yang telah memberi kehidupan baginya. Pemerintah juga harus bisa mencetak individu yang tidak hanya ahli dalam satu bidang saja, namun ia bisa menguasai berbagai bidang lainnya. Sehingga nantinya kita memiliki manusia-manusia yang unggul baik dari segi keilmuan maupun agamanya. (red: fsrmm.com)


Translate this Site

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified