FSRMM Memperingati Tahun Baru 1436 Hijriyah



Masuknya 1 Muharram 1436 H di Indonesia bertepatan dengan masuknya waktu Magrib pada Jumat, 24 Oktober 2014. Dalam rangka memperingati Tahun Baru 1436 H, FSRMM Riau mengadakan Zikir dan Do’a bersama Akhir Tahun dan Awal Tahun Baru Hijriyah dipandu oleh Ustadz Fadhli Wahyudi (Mubaligh FSRMM) di Masjid Muthmainnah POLDA Riau, Jalan Kartini, belakang Rumah Sakit Bhayangkara. Zikir bersama ini dimulai pada pukul 17.45 WIB dengan membaca Al Ma’tsurat secara bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a akhir tahun Hijriyah. Kegiatan ini pun disiarkan secara langsung di Radio Suara Dakwah IKMI Riau 90.8 MHz.
Dilaksanakannya kegiatan ini bertujuan untuk mensyi’arkan peristiwa penting dalam agama Islam dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Memang seperti inilah kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam, bukan malah lebih menyemarakkan Malam tahun Baru Masehi dengan menyia-nyiakan waktu dengan konvoi di jalan, bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, membakar kembang api, petasan, meniup terompet, begadang demi menghitung mundur (Countdown) pukul 00.00 1 Januari dan kebudayaan barat lainnya yang memang sengaja diciptakan untuk merusak aqidah dan melalaikan umat Islam. Syi’ar peringatan Tahun Baru Islam ini diharapkan akan membuat umat Islam lebih mencintai syi’ar agama Islam daripada budaya dan kegiatan sia-sia yang berasal dari luar agama Islam. Oleh karena itu, dalam momen pergantian tahun Hijriyah ini, FSRMM ingin mengajak masyarakat untuk kembali kepada Al-Qur-an dan Hadits, dekat dengan Allah Swt. dan Rasul-Nya, meningkatkan amal ibadah serta ilmu, dan menjadikan masjid sebagai sarana pembinaan umat, tentunya dalam rangka hijrah ke arah yang lebih baik dan dalam rangka memperoleh rida Allah Swt. (red: fsrmm.com)
Zikir dan Doa bersama dipandu Ustadz Fadhli Wahyudi (Mubaligh FSRMM)
Khidmatnya Zikir dan Doa bersama FSRMM

(Foto: FSRMM.com)

FSRMM Riau Mengundang Dir Binmas POLDA Riau di Program Bincang Sore GENIUS

Kamis (23/10)—FSRMM Riau menghadirkan Dir Binmas POLDA Riau, Kombespol Dr. Sugiyono, S.H. M.H., untuk berbincang bersama pemuda FSRMM mengenai “Peran Pemuda dalam Menyatukan Bangsa” dalamprogram Bincang Sore Genius (Generasi Muda Islam) 88,4 RRI Pro 2 FM. Siaran radio yang dimulai pada pukul 16.50 WIB ini diawali dengan mengenang salah seorang pendengar setia RRI Pro 2 yangselalu menyempatkan diri untuk menyapa sahabat-sahabatnya di FSRMM via radio, Muhammad Rio Saputra, yang telah tiada pada Ahad (19/10) lalu di Bangka Belitung. Bunda Murni dan Bintang yang juga merupakan pendengar setia RRI Pro 2 sekaligusorang tua dan sahabat terdekat Rio,pun turut berpartisipasi untuk mengenang kembalicerita indah saat bersama Rio dan saatberkomunikasi berbagi cerita dan tawa dengannya. Semoga segala dosa Rio diampuni oleh Allah Swt. dan Rioditempatkan di surga-Nyabertemu dengan Rasulullah Saw. Aamiin.
Usai berbincang bersama Bintang,Teguh Prasetyo (penyiar RRI) mempersilakan para narasumber untuk berbincang tentang topik semangat kepemudaan. Diskusi diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur-an oleh Ustadz Fadhli FSRMM. Kemudian dilanjutkan dengan memutarkan lagu kebangsaan Indonesia, “Bangun Pemudi-Pemuda”, sebagai pengantar program spesial ini.
Dalam bincang soreini, Kombespol Sugiyonomenyampaikan bahwa para pemuda FSRMM merupakan salah satu modelpemuda pembangun bangsa yang memiliki potensi dan kreativitas yang luar biasa danharus dicontoh oleh para pemuda zaman sekarang.Tidak hanya dalam hal itu, pemuda FSRMM juga mampu untuk membina masyarakat, terkhususnya remaja, denganAl-Qur-an dan Hadits, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dengan cara yang in syaa Allaah dapat diterima oleh remaja saat ini.Ini merupakan salah satu bentuk kecintaan pemuda FSRMM terhadap Indonesia yang diterjemahkan dengan membentuk karakter generasi muda yang cerdas, dilandasi agar semakin dekat kepada Allah, dan mengukir banyak prestasi. FSRMM juga telah menjadikan masjid sebagai sarana edukasi dan pembinaan remaja sehingga mampumenjadi perekat dalam mempersatukan generasi muda di bawah panji Islam. Inilah sosok pemuda yang amat dinantikan oleh masyarakat.
Kemudian hal ini disambut oleh pemuda FSRMM, yakni Diki FSRMM, Reza FSRMM, Meutya FSRMM, dan Noni FSRMM yang mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Dir Binmas POLDA Riau tersebutmemang nyata adanya daninilah cita-cita dari guru FSRMM yang selama ini telah membina dan membesarkan pemuda FSRMM sesuai dengan Al Qur-an dan Hadits. Beliau biasa disapa Abi Nazrial, S.Si.Apa yang beliau citakan ini selama ini insyaa Allaah juga merupakan cita-citanya Rasulullah Saw., dimana beliauingin agar para pemuda dapat memanfaatkan waktu mereka dengan baik, dengan hal-hal yang bermanfaat, bukan malah menyia-nyiakannya sampai-sampai terjerumus ke dalam“lubang biawak” yang telah diciptakan oleh musuh-musuh Islam sebagaimana hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Maka dari itu guru FSRMMini beserta paraUlama saling bekerja samadalam mendidik pemuda FSRMM, menanamkan akidah, mendekatkan kepada masjid, dan juga dakwah remaja. Karena dalam berdakwah kepada remaja tentu tidak bisa hanya denganmengajarkan ilmu Fiqh ataupun Hadits saja, akan tetapi dibutuhkan pendekatan yang dilakukan dengan cinta dan pengenalan. Seperti ini pulalah pendekatan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. yang telah dicontoh oleh guru-guru FSRMM.Untuk membentuk pemuda yang seperti ini tentu dibutuhkan dukungan dan kerja sama dari berbagai belah pihak, seperti orang tua, masyarakat, tokoh masyarakat, alim Ulama, hingga pemerintah.
Bincang sore ini semakin hangat terasa tatkala Bunda AKP. Lismiyati dan Bunda Murni berpartisipasi dan berbincang bersama tamu undangan. Bunda-bunda ini turut menyampaikan rasa syukur mereka kepada Allah Swt. dan berterima kasih kepada para guru yang telah membina pemuda FSRMM sehingga mampu menjadi pelopor untuk membangkitkan semangat para pemuda lainnya. Mereka turut berbangga hati kepada pemuda FSRMM atas segala kreativitas dan inovatif dalam jalan dakwah ini. Doa pun diucapkan agar pemuda FSRMM semakin bersemangat dan istiqomah dalam membesarkan Islam dan menyatukan para pemuda.
Semoga apa yang menjadi cita-cita FSRMM dapat terwujud dengan didukung oleh berbagai pihak. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. (red: fsrmm.com)

Suasana di studio saat berbincang bersama Dir Binmas POLDA Riau

Asyiknya berbincang membahas seputar semangat pemuda


Bincang sore bersama Dir Binmas POLDA Riau

Senyum yang merekah hangatkan suasana



Foto bersama pemuda FSRMM dan Dir Binmas POLDA Riau

Muslimah sebagai Ujung Tombak Perubahan



Saat ini, kita telah berada di awal tahun 1436 Hiriyah, kita telah masuk ke bulan Muharram. Inilah masa di mana kita mesti melakukan evaluasi diri, melakukan muhasabah diri atas apa yang telah kita lakukan selama setahun belakangan ini. Apakah selama ini kita sudah melewati hari-hari dengan penuh kebaikan atau malah dengan kemaksiatan? Sungguh merugi ketika pada hari ini kita lebih buruk dari pada hari kemarin, dan beruntunglah bagi kita jika hari ini mampu memperbaiki kesalahan yang lalu. Sebagai manusia yang telah Allah berikan akal yang kita gunakan untuk bisa memikirkan segala nikmat dan azab dari Allah, seharusnya akal ini dapat mengikat nafsu agar tidak mudah melakukan dosa dan senantiasa berusaha menjauhkan diri dari kesia-siaan.
Sebagaimana Allaah berfirman di dalam QS. Al-Hasyr (59) : 18
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
            Allah Swt. mengingatkan kita yang mengaku beriman agar senantiasa bertakwa kepada-Nya. Kita diperingatkan oleh Allah agar memerhatikan apapun yang kita lakukan semasa hidup di dunia ini, karena apa yang kita “tanam” semasa hidup di dunia, maka itu pula yang akan “dipetik” di akhirat nanti. Jika kita senantiasa melakukan kebaikan di jalan Allah, maka Allah akan membalas dengan surga-Nya, namun jika kita selalu bermaksiat kepada-Nya, maka tunggu saja azab yang pedih dari-Nya.
Sebagaimana sahabat Rasulullah Saw. yakni Umar bin Khattab ra. berkata:
“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab di Hari Kiamat, dan timbanglah amalmu sebelum engkau ditimbang di Hari Kiamat.”
Oleh sebab itu, ketika kita berada di penghujung tahun Hijriyah ini, marilah kita muhasabah diri, memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang diperbuat setahun belakangan ini. Kita benahi diri agar Allah tak murka dan memberikan azab-Nya kepada kita.
Belajar dari kisah hijrah Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat, ini merupakan sebuah kisah yang seharusnya menggetarkan hati kita sebagai umat Islam. Ketika itu Rasulullah Saw. berpindah tempat dari Makkah al-Mukarramah, kampung halaman tercintanya, menuju Madinah al-Munawarah bersama sahabat tercinta beliau yakni Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Berpindah tempatnya Rasulullah Saw. ini disebut dengan hijrah makani. Hijrahnya Rasulullah Saw. bukanlah sekedar berpindah tempat, namun beliau mengajarkan kita umatnya untuk dapat berpindah dari kejahiliyahan/kebodohan iman menuju tempat yang tertinggi, yakni beriman kepada Rabb semesta alam. Hijrah secara maknawi, bermakna bahwa kita berpindah dari hal-hal yang buruk kepada perubahan menuju kebaikan. Maka di sini, yang terpenting adalah bagaimana kita membentuk kembali pola pikir kita sesuai dengan Al-Qur-an dan Hadits. Tetapi saat ini banyak yang tidak mengaplikasikan makna hijrah secara maknawi ini di dalam kehidupan. Kita sekedar tahu maknanya, tetapi tidak mendarah daging di dalam diri sehingga kita menganggap bahwa ini bukanlah merupakan hal yang perlu untuk dilakukan.
Salah satu peran muslimah adalah sebagai ujung tombak perubahan, karena pada muslimah bertumpu banyak hal yang akan menunjang majunya Islam ini. Tetapi di sisi lain kita lihat bahwa kebanyakan muslimah yang malah tak mampu hijrah secara maknawi. Sebagian muslimah yang telah mendapat hidayah dari Allah, ia akan berubah ke arah yang lebih baik dan menjaga hidayah yang telah menetap di dalam hatinya. Lalu, bagaimana dengan sebagian muslimah lainnya, yang tidak berusaha menggapai hidayah Allah serta masih sibuk dengan urusan keduniawian saja? Kita lihat saat ini banyak muslimah yang dengan mudahnya membuka aurat tanpa rasa malu, yang itu semua sudah sangat jelas melanggar syariat Islam.
Allah SWT berfirman di dalam QS. al-Ahzab [33]: 59,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
            Allah telah memberikan pedoman hidup kepada kita yakni Al-Qur-an yang telah Rasulullah Saw. sampaikan dan ajarkan kepada kita. Inilah yang seharusnya menjadi landasan bagi kita ketika akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, apakah nantinya yang kita lakukan ini mengundang murka dan azab Allah atau tidak, serta adakah hal tersebut dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Bagi muslimah, menutup aurat adalah sebuah kewajiban, tetapi saat ini banyak dari muslimah yang tidak menaatinya. Jika dari satu hal ini saja muslimah tidak mau hijrah secara maknawi lantas bagaimana ketika muslimah tersebut akan mengurus suami dan anaknya nanti, sedangkan mengurus dirinya sendiri dan menjaga dirinya dari murka Allah saja tidak bisa. Seorang muslimah berperan penting dalam sebuah keluarga, ketika ia menjadi seorang istri, ialah yang akan menyokong dan membantu suaminya, ia juga yang akan menjadi penguat di kala suaminya terpuruk, ia jualah yang menjadi tempat bersandar ketika suaminya kelelahan akan kehidupan dunia. Kita lihat bagaimana Bunda Khadijah ra. yang memberikan contoh kepada kita bagaimana menjadi istri teladan, ketika Rasulullah Saw. menerima wahyu yang pertama di Gua Hira lalu beliau pulang dalam keadaan menggigil, Bunda Khadijah-lah yang menemani dan menguatkan Rasulullah Saw. beliau yang langsung memercayai bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang Nabi dan utusan Allah serta beliau pula orang pertama yang mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw. Beginilah seharusnya seorang istri yang keimanannya kuat sehingga ia menjadi penyemangat bagi suaminya.
Ketika seorang muslimah menjadi seorang ibu, dialah guru pertama yang mengajarkan ketauhidan kepada anaknya. Jika tauhidnya tak kuat bagaimana mungkin ia bisa mengajarkan hal tersebut kepada anaknya. Maka, seorang muslimah haruslah memiliki keimanan yang baik karena ia akan mendidik anaknya sesuai dengan Al-Qur-an dan Hadits. Jika muslimah tak memiliki ketauhidan yang kuat bagaimana ia akan menjadi seperti Asma’ binti Abu Bakar ra. yang ia mencela putranya ketika tidak ikut berperang untuk agama Allah.
Seorang muslimah yang taat kepada Allah dan meneladani Rasulullah Saw. ketika ia telah menjadi seorang ibu maka ia akan mendidik anaknya agar senantiasa mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur-an di dalam kehidupannya, sehingga ketika anak tersebut telah baik keimanannya, maka buah dari keimanan itu adalah memiliki rasa tanggung jawab, kepekaan, kepedulian, amanah, jujur, dan lain-lain. Generasi muda yang dididik oleh muslimah inilah yang akan menjadi penerus bangsa yang akan memimpin negara ini sesuai dengan yang Allah perintahkan dan Rasulullah Saw. ajarkan. Hal tersebut tidak bisa langsung kita nikmati begitu saja, melainkan perlu proses yang panjang dan penuh ujian. Seorang muslimah bisa menjadi penyokong suaminya dan mendidik anaknya jika ia terlebih dahulu telah membentuk dirinya untuk menjadi muslimah yang taat. Sejak saat ini, seorang muslimah mesti mampu hijrah secara maknawi. Membentuk pola pikirnya yang sesuai dengan Al-Qur-an dan Hadits, dan meninggalkan segala yang Allah larang serta melaksanakan semua yang telah Allah perintahkan. Muslimah tidak akan bisa mengubah keluarganya, jika perubahan itu tidak dimulai dari dirinya sendiri. Muslimah adalah ujung tombak dari keberhasilan suaminya dan kesuksesan anaknya. Wallahu’alam bis showwab. (red: fsrmm.com)

FSRMM Riau Menyelenggarakan Tabligh Akbar dalam Rangka Memperingati Tahun Baru 1436 H


Ahad (19/10)—Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, FSRMM Riau telah mengadakan Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Tahun Baru 1436 H dengan topik “Dengan Semangat Hijrah, Persiapkan Generasi Muda sebagai Pemimpin yang Amanah” yang diadakan di Masjid Muthmainnah POLDA Riau, Jalan Kartini, di belakang Rumah Sakit Bhayangkara. Acara yang dipandu oleh Bayu FSRMM ini mengundang Ustadz Abdul Somad, Lc. MA. sebagai narasumber. Beliau merupakan Ulama dan Pakar Syarah Hadits Provinsi Riau dan Dosen di Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim. Kaum muslimin dan muslimat yang berhalangan hadir tetap dapat menyimak tausiyah karena Peringatan Tahun baru Islam yang sangat istimewa ini disiarkan secara langsung di Radio IKMI FM pada frekuensi 90,8 MHz.
            Pukul 13.15 WIB acara ini dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur-an oleh Ustadz Fadhli Wahyudi (Mubaligh FSRMM). Protokol kemudian menyilakan Wakil Pembina FSRMM, Ustadz Diki Gunawan Putra, untuk memberikan kata sambutan mewakili Pembina FSRMM, Ustadz drs. Nazrial, S.Si.
Dalam kata sambutan yang beliau sampaikan, Ustadz Diki FSRMM memperkenalkan kepada para peserta mengenai peran lembaga dakwah FSRMM Riau dalam pembentukan karakter pemuda muslim untuk menjadi pemimpin yang bertaqwa dengan berlandaskan Al-Qur-an dan Hadits dan pola pendidikan yang berbasis di masjid. Di balik kelancaran FSRMM dalam mengembangkan dakwah Islam, banyak peran para asatidz (guru-guru) yang amanah yang selalu membimbing pemuda FSRMM selama ini, di antaranya Ustadz Drs. Nazrial, S.Si., Ustadz H. Abdul Somad, Lc. MA., Ustadz H. Musthafa Umar, Lc. MA., Ustadz H. Syamsuddin Muir, Lc. MA., Ustadz H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha., dan Ustadz H. Jamhur Rahmat, Lc. MA.
Acara yang ditaja FSRMM kali ini diwarnai dengan lauching program terbaru FSRMM di akhir 1435 H, yakni “FSRMM Store” dan “FSRMM goes to School and Campus” yang akan dilakukan oleh Tim Trainer dari FSRMM. Untuk FSRMM goes to School and Campus sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2011, di antaranya pembinaan remaja STIKes Hangtuah, SMAK Abdurrab, SMK Kehutanan, dan SMPN 22 Pekanbaru. Para peserta kemudian disuguhkan tayangan video tampilan karya Tim Kreatif FSRMM sebagai bahan pengantar kepada topik yang akan dibahas. Alhamdulillah, para peserta tampak semakin antusias dalam mengikuti jalannya acara.
Dengan topik “Dengan Semangat Hijrah, Persiapkan Generasi Muda sebagai Pemimpin yang Amanah”, Penasihat FSRMM yang juga merupakan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Pekanbaru tersebut menyampaikan bahwa betapa pentingnya membina para pemuda untuk menjadi pemimpin yang amanah dengan pola pendidikan yang telah Rasulullah Saw. ajarkan, yakni bersumber dari Al Qur-an dan Hadits. Untuk mewujudkan hal ini tentu tidak sesingkat yang dipikirkan, akan tetapi butuh waktu dan proses yang panjang serta dukungan dari berbagai pihak. Atas dasar inilah lembaga dakwah FSRMM hadir di tengah masyarakat untuk membina generasi muda dengan berbasiskan di masjid dan menerapkan kurikulum pendidikan Rasulullah Saw., membangkitkan semangat hijrah dari waktu ke waktu, untuk membentuk pemimpin-pemimpin yang amanah di masa depan. Semoga dapat kita wujudkan sosok para pemuda yang amanah terhadap segala tanggung-jawabnya. Aamiin. (red: fsrmm.com)
Registrasi peserta ikhwan

Sapaan lembut panitia terhadap peserta

Pembukaan acara oleh protokol

Tartil Quran oleh Ust. Fadhli Wahyudi

Kata sambutan oleh Wakil Pembina FSRMM

Kata sambutan oleh Wakil Pembina FSRMM

Antusiasme peserta dalam menonton video pengantar karya Tim IT FSRMM

Tausiyah oleh Ust. Abdul Somad, Lc. MA.

Peserta tampak serius dalam menyimak tausiyah

Peserta tampak serius dalam menyimak tausiyah




Antusiasme peserta terlihat saat penyampaian tausiyah


Antusiasme peserta terlihat saat penyampaian tausiyah

Sesi tanya-jawab

Doa yang dipimpin oleh Ust. Abdul Somad, Lc. MA.


FSRMM Store : Toko Online Muslim Terbesar di Riau





Alhamdulillah, bersamaan dengan acara penyambutan tahun baru Islam 1436 H
FSRMM Riau mengenalkan unit kewirausahaannya, yakni
FSRMM Store "Toko Online Muslim Terbesar di Riau"

Bagi kaum Muslimin dan Muslimat silakan mengunjungi website kami di 
www.fsrmmstore.com

Tersedia :
Buku-buku keIslaman
Gadgets / Smartphone / Tablet
Perlengkapan Muslimah
Jam Tangan
Aksesoris / Electronic
Thibbun Nabawi
Jasa Kue Kotak

Harga bersahabat dan Melayani dengan sistem "Ukhuwah Islamiyah"

Artikel Buletin: Mengambil Hikmah dari Peristiwa Hijrah


Tidak terasa kita sudah memasuki akhir tahun 1435 H. Satu tahun telah berlalu dan kini mari kita sambut tahun baru 1436 H dengan semangat baru. Semangat untuk memperbarui diri ke arah yang lebih baik lagi. Menjadikan pencapaian tahun lalu sebagai langkah untuk menyusun target-target luar biasa untuk tahun selanjutnya.
Jika berbicara tentang pergantian tahun hijriah, maka tidak lepas kaitannya dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. dan para shahabat beliau dari kota Makkah ke Madinah. Sebuah peristiwa yang tak pernah luntur dari catatan sejarah. Peristiwa besar yang mengantarkan Islam kepada kejayaan yang gemilang. Perjalanan yang hanya mampu ditempuh oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.
 Alasan Rasulullah saw. dan umatnya hijrah dari Makkah ke Madinah tak lain adalah perintah langsung dari Allah Swt., bukan karena takut kepada kaum kafir Quraisy yang menyiksa sedemikian rupa terhadap umat Islam yang pada saat itu banyak dari kalangan budak.

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الأرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
[An Nisaa' (4): 100]

Hijrah merupakan hal yang sangat berat untuk dilakukan. Hanya orang-orang yang memiliki keimanan luar biasa saja yang mampu melakukannya. Meninggalkan segala kenyamanan hidup, merelakan harta, rumah, kampung halaman, keluarga bahkan rela menjadikan nyawa sebagai taruhan demi menyelamatkan aqidahnya.
Peristiwa hijrah merupakan peristiwa yang takkan pernah lekang oleh waktu dan senantiasa terpatri di dalam hati serta ingatan orang-orang yang beriman. Kata hijrah bisa ditinjau dari dua sisi yaitu secara makaniyah dan maknawiyah. Secara makaniyah hijrah berarti berpindah tempat, yaitu yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para Shahabat beliau dari kota Makkah ke Madinah. Kemudian kita diperintahkan untuk hijrah secara maknawiyah, yaitu adanya perubahan di dalam hidup, dari yang buruk menjadi baik, dari baik menjadi yang lebih baik. Sebagai seorang Muslim tentu standar yang digunakan untuk menentukan baik dan buruk itu tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur’an dan Hadits, bukan pendapat kebanyakan orang dan hawa nafsu manusia. Saat ini banyak diantara kita yang menggunakan hawa nafsunya sebagai standar untuk menentukan baik atau buruk. Ketika kebanyakan pendapat manusia mengatakan suatu hal itu baik, maka ia akan beranggapan itu baik, padahal belum tentu baik menurut Allah. Begitu pula sebaliknya, ketika kebanyakan manusia mengatakan suatu hal itu buruk, maka ia akan beranggapan buruk, padahal belum tentu buruk bagi Allah.
Dalam melakukan perubahan diri dari yang buruk menjadi baik itu tentu tidaklah mudah. Sehingga dibutuhkan niat yang tulus dan usaha yang keras untuk merubah diri. Maka dari itu, untuk mempermudah perubahan ke arah yang lebih baik, kita dapat melakukan aktivitas yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah dan para Shahabat  yaitu muhasabah diri.
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba-yahsab-hisab, yang secara bahasa artinya melakukan perhitungan dan secara istilah muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya. Adapun secara sederhana, muhasabah dapat diartikan sebagai introspeksi diri, yaitu seseorang bertanya kepada dirinya sendiri tentang perbuatan apa yang dia lakukan agar jiwa menjadi tenang, dan menimbang apakah perbuatan yang dilakukan dalam kehidupannya sesuai dengan perintah-perintah Allah Swt.
Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Shahabat beliau. Mereka tidak pernah mentup malam harinya kecuali dengan melakukan muhasabah. Padahal, mereka adalah orang yang ahli ibadah, dan aktif melakukan kebaikan serta perbaikan. Meskipun demikian, mereka tetap merasa takut kepada Allah dan selalu melakukan muhasabah diri sebagai bentuk ketaatan mereka kepada Allah. Muhasabah telah menjadi gaya hidup bagi orang-orang beriman. Bagi mereka tidak ada yang lebih penting selain menyucikan diri mereka demi mendapatkan ridha Ilahi. Sebab pada dasarnya muhasabah ini merupakan salah satu perintah Allah Swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS Al Hasyr [59]: 18)

Tahun 1435 H akan segera berakhir, maka jadikanlah momen akhir tahun ini sebagai salah satu waktu bagi kita untuk melakukan muhasabah diri. Karena pastilah sebagai manusia yang sangat jauh dari kata sempurna ini, kita senantiasa melakukan kesalahan dan kekhilafan sehingga kita mengumpulkan benih-benih dosa yang nantinya akan Allah mintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Sudah selayaknyalah kita menghisab diri kita sendiri sebelum dihisab oleh Allah Swt. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda:

Diriwayatkan dari Umar bin Khatab ra beliau berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia.” 
[HR.Tirmidzi]

Maka dari itu penting bagi kita untuk memuhasabah diri kita. Apakah kehidupan kita banyak diisi dengan beribadah atau bermaksiat kepada Allah? Apakah kita banyak mematuhi perintah Allah ataukah banyak melanggar  aturan Allah? Maka, dengan semangat hijrah ini mari kita perbaharui niat, kobarkan semangat untuk mencapai peningkatan kualitas diri yang terbaik di waktu mendatang.(Tim Redaksi Buletin FSRMM)

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified