>
  • FSRMM StoreUnit usaha Online FSRMM. Visit: www.fsrmmstore.com
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • Tracking (3)Melintasi alam sembari melihat kebesaran Allah. Program tahunan FSRMM
  • outbondSalah satu program fsrmm dalam pembinaan fisik & kesamaptaan
  • kultum2Program Rutin FSRMM, Kultum selepas Sholat Berjemaah
  • Qiyam 2Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • Qiyam 3Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • qiyamSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • RadioFSRMM sudah mengisi acara di RRI PRO 2, Susqa FM, dan An-nur FM
  • BaksosSalah Satu Aksi Nyata, Kegiatan FSRMM terjun ke Masyarakat
  • full screen sliderSalah satu program FSRMM, Divisi Kreativitas dan Seni Islam
  • Majelis QuranSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan

Let's Hijrah and Move on!

Oleh: Endang Novrita Sari, A.Md.Keb. (Mentor Bidang Dakwah dan Kaderisasi FSRMM) 



Seorang wanita terlihat khusyu’ dalam shalat dan doanya, hingga tampak air mata menganak sungai di pipinya. Ia terisak. Parau suaranya karena sesak dadanya. Rasa penasaran memenuhi kepalaku. Kudekati ia, menyapanya dengan hati-hati, khawatir aku mengusiknya. Ia membalas dengan ramah, senyumnya lebar, walau agak dipaksakan. Kami bercerita panjang lebar, hingga sampai di suatu peristiwa yang menjadi titik balik hidupnya.

Dulu, ia berada di dunia hitam. Semua klub malam ia datangi, semua merk minuman keras sudah ia cicipi. Ia habiskan umurnya yang lalu dengan foya-foya dan kemaksiatan. Hingga suatu hari Allah mengambil orang tua tercintanya dalam kecelakaan mobil. Tak ayal hal ini membuatnya kalut. Ia merasa Allah tak sayang dengan dirinya. Waktu bergulir, ia semakin dalam terpuruk ke lembah nista.
Suatu hari, ia melihat seorang anak kecil yatim piatu yang sedang berjualan koran di lampu merah. Karena iba, ia membelinya dan mengajak anak itu makan di sebuah rumah makan. Anak kecil ini bercita-cita ingin menjadi penghapal Qur’an, agar nanti pahalanya sampai kepada kedua orang tuanya di surga.


Wanita ini tertegun. Dia hanya diam menyimak tiap kata yang keluar dari anak kecil itu. Begitulah rasa cinta dan baktinya kepada orang tua, walaupun mereka telah tiada. Seolah mendapat tamparan keras, ia merenung lama, “Aku mencintai mereka tapi belum pernah kukirimkan sebait doa kepada mereka. bahkan untuk shalat pun aku tak bisa.”

Perlahan tapi pasti, ia mulai mengalihkan kesibukannya kepada Allah. Sedikit banyaknya ia memahami, barangkali beginilah cara Allah menyadarkanku kembali. Hingga akhirnya, Alhamdulillah ia meninggalkan seluruh kemaksiatan yang lalu dan kini berada dalam taubat yang sesungguhnya. Insya Allah.


Pembaca yang budiman, gadis ini harus melewati ujian yang berat hingga akhirnya ia tersadar. Ia harus merasa kehilangan untuk kembali merasakan nikmatnya memiliki kedamaian hakiki dari Rabbnya. Pintu taubat Allah terbuka lebar. Ia membentang luas, terbuka 24 jam penuh. Pertanyaannya, kapankah kita bertaubat? Kapankah kita hijrah dari ketidak tahuan menjadi tahu? Kapankah kita hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan? Apakah kita harus melalui cobaan yang baru mau kembali padaNya? Padahal banyak sekali orang yang Allah uji malah membuatnya semakin jauh dengan Allah.

Pernahkan sejenak kita merenungkan sejauh apa kita telah menaati Allah dan Rasul? Pernahkah terlintas dalam benak kita, bagaimanakah nanti ketika aku mati, baikkah atau burukkah? Ke manakah kita setelah kehidupan dunia ini, surga yang dirindukan atau neraka yang menyiksa? Seandainya boleh diminta, hendaklah kematian itu datang pada kita saat kita telah siap dengan taubat. Tapi, itu tak mudah untuk terjadi. Kematian itu rahasia Allah. Kapan, di mana, dan bagaimana kematian itu datang, hanya Allah-lah  yang Maha Tahu.
Tugas kita hari ini adalah senantiasa bertaubat kepada Allah. Allah maha pengampun.Walaupun dosa kita menjulang bak gunung, bertebar sebanyak pasir di pantai, meluas tak tehingga bak 7 samudra niscaya Allah akan mengampuninya, dengan syarat kita bertaubat nashuha.

Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS Al Baqarah : 54)

Selagi hayat masih dikandung badan, masih ada kesempatan kita untuk melakukan perbaikan diri. Karena mati tak harus menunggu tua, berhijrahlah mumpung masih muda. In syaa Allaah. (red: fsrmm.com)

Olahraga Syar'i Bersama ROHIS SMK Ibnu Taimiyah

Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin, kegiatan pembukaan pembinaan ROHIS SMK Ibnu Taimiyah Pekanbaru yang diasuh oleh FSRMM pada Rabu (19/8) lalu berjalan lancar. Hari ini, Rabu (26/8), kakak dan adik asuh Rohis SMK Ibnu Taimiyah mengadakan kegiatan olahraga syar'i bersama yang diadakan dalam rangka semakin mempererat silaturrahim. Jika ikhwan/putra rohis mengadakan futsal di Arra Futsal yang berada di Jalan Pemuda, maka akhwat/putri rohis turut mengadakan futsal di lapangan Masjid Agung An-Nur Provinsi Riau. Alhamdulillaah, meski tidak seluruh anggota rohis yang dapat mengikuti kegiatan ini namun olahraga bersama tetap berlangsung lancar dan ceria. Hal ini terlihat dari ekspresi para pemain tatkala berolahraga sembari bermain yang berhasil dipotret oleh kakak asuh dari FSRMM. (red: fsrmm.com)





Suasana olahraga syar'i bersama putri Rohis SMK Ibnu Taimiyah





Suasana keputrian bersama FSRMM dan adik-adik belajar mengaji

Choco ball karya da'iyah dan adik-adik belajar mengaji FSRMM

FOTO: FSRMM.com

FSRMM Membina Anggota Para ROHIS SMK Ibnu Taimiyah Pekanbaru

Setelah sukses membina pelajar-pelajar muslim di SMAK Abdurrab Pekanbaru, SMP Negeri 5 Pekanbaru, SMK Kehutanan Riau, dan guru-guru di lembaga pendidikan Az Zuhra Pekanbaru, FSRMM kembali dipercaya untuk membina pelajar-pelajar muslim di ROHIS SMK Ibnu Taimiyah Pekanbaru. Perkenalan perdana antara da'i dan da'iyah FSRMM, guru pembimbing dan para anggota Rohis pun diselenggarakan pada Rabu, 19 Agustus 2015, tepatnya dimulai pada pukul 13.50 WIB.

Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin, kehadiran FSRMM disambut antusias oleh guru pembimbing dan anggota Rohis SMK Ibnu Taimiyah. Kata sambutan oleh guru pembimbing dan salah satu pengasuh FSRMM serta sharing kegiatan menjadi serangkaian kegiatan pembukaan kegiatan Rohis. Semoga dengan adanya kerja sama antara FSRMM dan SMK Ibnu Taimiyah dalam membina pelajar-pelajar muslim, semakin mempererat persaudaraan antar keduanya. Dan semoga para anggota Rohis S1MK Ibnu Taimiyah semakin bersemangat untuk memperdalam agama Islam dan pelajaran akademik serta dalam menghidupkan Rohis dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin. (red: fsrmm.com)

Ta'lim di Rohis SMK Ibnu Taimiyah

Ta'li, dipimpin oleh Kak Irawan Deny (Da'i dan Mubaligh FSRMM)






Suasana majelis ilmu di Rohis SMK Ibnu Taimiyah

Majelis ilmu putri dipimpin oleh Kak Annisya Pratiwi (Da'iyah dan Mubalighah FSRMM)

Suasana majelis ilmu di Rohis SMK Ibnu Taimiyah






FOTO: FSRMM.com

TUNJUKKAN JIWAMU, INDONESIA!


Oleh: Dita Ramadhanti (Anggota Divisi Teknologi Informasi, Dokumentasi, dan Jurnalistik)



Indonesia. Negeri tempat kita berpijak saat ini. Tak terasa, di bulan ini negara kita telah berada di usia ke-70 tahun sejak kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan oleh Presiden pertamanya, Bapak Ir. Soekarno. Masih terngiang dalam ingatanku tentang pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia yang dijelaskan oleh guru-guruku di bangku SD, SMP, dan SMA. Tentang jejak-jejak kaki kolonel Belanda, Jepang, Inggris dan negara lainnya di Indonesia, menjadikannya sebagai wilayah jajahan, sedangkan masyarakatnya dijadikan sebagai budak manusia, baik budak untuk kerja rodi maupun budak seks oleh tentara-tentara penjajah laknatullah ‘alaih tersebut. Berbagai tujuan menjadi pangkal dari perjalanan mereka ke tanah air ini, mulai dari tujuan harta, kekuasaan, militer, hingga AGAMA.

Hidup bersuku-suku yang kala itu mereka jalani tidak cukup mampu untuk melawan tentara-tentara penjajah tersebut dan mengusir mereka dari tanah air ini. Sementara istri dan anak perempuan mereka terus dicabuli oleh tentara-tentara penjajah, bahkan tak sedikit pula dari mereka yang mati kelaparan. Teriakan derita, tangis, dan lautan darah tidak akan pernah membuat penjajah-penjajah tersebut berhenti menyiksa rakyat yang tak berdosa ini. Bahkan tentara penjajah laknatullah 'alaih tersebut terus menekan, mengancam dan menyiksa masyarakat Indonesia sampai.... Teriakan TAKBIR dari para Ulama dan Santri menghidupkan secercah harapan kemerdekaan di tengah-tengah raupan segala kesedihan dan keputusasaan rakyat yang lemah!

Ketika mata manusia yang beriman takkan sanggup menyaksikan penderitaan yang dirasakan rakyat Indonesia, ketika tubuh telah lelah menjadi budaknya manusia, ketika hati nurani mengecam kehadiran para penjajah dan tak mampu membiarkan hal tersebut, ketika jiwa terpanggil untuk berjihad melawan segala bentuk penjajahan, maka ketika itu pula semangat kemerdekaan menggebu-gebu di dada orang-orang yang beriman, baik dari golongan tua maupun golongan muda. Sudah cukup diri mereka, orangtua mereka, istri mereka, anak-anak mereka diperbudak oleh tentara-tentara penjajah laknatullah ‘alaih, karena seyogyanya manusia hanyalah budaknya Allah subhanahu wa ta'ala. Maka, mereka terus meningkatkan iman mereka kepada sang Khalik, menggantungkan harapan dan meminta perlindungan hanya kepada-Nya, mereka galang persatuan seluruh rakyat Indonesia, semangat kemerdekaan yang ada di dalam dada seorang pemuda ditularkan kepada pemuda lain bak aliran kilat di siang hari, dada mereka membusung tanpa gentar sedikitpun untuk menghadapi para penjajah, otak mereka terus berputar untuk merancang ide-ide brilian dalam mengusir para penjajah sampai ke akar.

Hingga sampailah di telinga kita bagaimana heroiknya perjuangan H. Agus Salim, HOS. Cokroaminoto, Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. Sutomo, KH. Ahmad Dahlan, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien dan para pejuang lainnya—baik yang gugur di medan pertempuran maupun setelahnya—dalam memperjuangkan kemerdekaan dari tangan para penjajah dan menggerakkan masa di bawah teriakan takbir. Sampailah pula di telinga kita bagaimana heroiknya perjuangan rakyat Indonesia pada 10 November 1928, yang membuat dada berdegup kencang karena tertular oleh semangat para pejuang kemerdekaan.

Segala daya upaya mereka lakukan demi membebaskan masyarakat Indonesia dari segala belenggu penjajahan, baik secara fisik maupun mental. Bahkan hingga pertumpahan darah dan bertaruhkan nyawa sekalipun. Itu semua terjadi karena keyakinan mereka yang kuat kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa. Allah lah yang berkehendak memberi kemerdekaan bagi siapa saja dan kapan saja, maka dari itu untuk mendapatkan kemerdekaan sejati, maka yang seharusnya didekati dan dirayu adalah Tuhan Yang Maha Pemberi Kemerdekaan, bukan manusia-manusia lemah yang tak beriman. Para pejuang Indonesia kala itu tidak mau berlarut-larut diperbudak oleh para penjajah, diiming-imingi janji palsu oleh pihak Jepang yang hanya akan terus menguras segala yang dimiliki rakyat Indonesia. Jiwa mereka terpanggil untuk merdeka dan satu-satunya cara adalah berjihad, melawan para penjajah yang tidak akan pernah mampu memberikan kemerdekaan sejati. Mereka galang kekuatan di bawah panji-panji tauhid. Mereka yakin akan firman Allah di dalam Al-Qur'an surah Ar-Ra'd,

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)

"Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu)." (QS. An-Nisa` [4]: 45)

Sehingga dengan keyakinan mereka yang kokoh akan pertolongan Allah untuk memerdekakan mereka, mereka menjalankan perintah-Nya yang tertera di dalam Al-Qur'an surah Ali 'Imran,

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran [3]: 104)

"Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. Ash-Shaf [61]: 4)

Lantas, bagaimana dengan kita saat ini? Sudahkah kita benar-benar merdeka? Sudahkah kita menghargai segala jasa perjuangan yang telah diperjuangkan oleh rakyat Indonesia terdahulu, yang terjadi dengan pertolongan dari Allah, dengan sebaik-baiknya perhargaan? Sudahkah kita jaga Indonesia ini agar semakin maju, baik dari bidang Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, Budaya?

Kita lihat di sekitar kita, masih ada rakyat Indonesia, tidak sedikit, yang lebih bangga hidup dengan kebudayaan barat daripada kebudayaan Indonesia, berpakaian barat, seperti bikini, hotpen, tanktop, daripada berbusana melayu yang menutupi aurat. Bangga jika makan makanan barat, seperti junk food dan fast food, daripada makanan khas Indonesia. Padahal orang barat itu sendiri sudah lama meninggalkan makanan mereka dan beralih kepada makanan yang bergizi tinggi. Bangga dengan tato, soft lense, tindik dan cat rambut, yang menyerupai orang-orang barat. Bahkan saking inginnya hidup dengan budaya barat, ia rela mengeluarkan uang puluhan juta untuk operasi plastik, mengubah warna kulit dan hidungnya.

Mereka tidak lagi bangga dengan jati diri mereka sebagai orang Indonesia, tidak mau mengembangkan produk-produk Indonesia dan menduniakannya. Padahal batik dan tempe, pakaian dan makanan khas Indonesia, telah diminati masyarakat kalangan internasional. Dan pun dengan mengembangkan produk dalam negeri, Indonesia akan terbantu dari segi ekonomi, hutang-hutang negara sedikit demi sedikit tertutupi, kemiskinan akan tuntas, masyarakat akan sejahtera.

Kita lihat pula dari segi pendidikan. Masih ada sekolah-sekolah di Indonesia ini yang menganut sistem sekulerisasi (memisahkan ilmu agama dengan ilmu modern), dipersingkatnya durasi waktu untuk memperdalam ilmu agama, adanya susupan budaya barat dalam sekolah, seperti kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) atau Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) yang bertentangan dengan syari'at. MOS yang dilakukan saat ini tidak lagi memperkenalkan peserta didik baru dengan lingkungan sekolahnya, kurikulum pendidikan, guru, akan tetapi lebih kepada tindakan bullying yang dilakukan oleh senior kepada juniornya, tidak mendidik, melumpuhkan mental anak bangsa, bahkan tidak sedikit terjadinya tindak kekerasan fisik maupun seksual. Ini tidak lagi dapat ditolerir. Mental anak bangsa terjajah oleh rekannya sendiri. Na'udzubillaah. Sehingga wajar jika saat ini kita lihat masih ada, tidak sedikit, generasi muda yang sibuk nongkrong tidak jelas di jalan, foya-foya di mall, pacaran, hobi bully teman dan gurunya dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya yang diadopsi dari barat.

Semoga kita dapat menjadi bangsa yang benar-benar untuk memerdekan bangsa ini dari segala penjajahan fisik, mental, maupun lainnya. Aamiin. (red: fsrmm.com)

Thought that it will be Far?

Oleh: Meutya Safitri, A.Md.Keb. (Mentor Bidang Hubungan Masyarakat FSRMM)


No matter how far we go, we would back home as well. Then, we could share everything we have got outside our home. Now, the question is; have we ever think that where our REAL home is?

Do not ever say that we could live long in this world happily, without any trouble then find the key to Paradise easily! We are all going to be test by Allah 'azza wa jalla, The Most Merciful...

The point is: you may live in this world or dunya once, but you will find your next jourey until we reach the real home; Naar/Hell - or Jannah/Paradise?

"And the worldly life is not but amusement and diversion; but the home of the Hereafter is best for those who fear Allah , so will you not reason?" (QS. Al-An'am [6]: 32)

Mudahnya Menjadi Penghuni Surga

Oleh: Dita Ramadhanti (Anggota Divisi Teknologi Informasi, Dokumentasi, dan Jurnalistik FSRMM)



Mari kita simak dialog berikut.

Putri: "Bunda, gimana sih caranya jadi penghuni surga?"

Bunda: "Mudah saja, Sayang. Putri jalankan semua perintah Allah dan jauhi segala yang Allah larang dengan ikhlas. Ketika Allah suruh, tutuplah auratmu, maka Putri tinggal jalankan aja. Ketika Allah suruh Putri, janganlah sombong, maka Putri tinggal melakukannya. Allah udah beritahu kita tentang apa-apa aja yang boleh dilakukan dan apa-apa aja yang harus dijauhi. Kita tinggal menjalankannya dengan ikhlas. Karena apapun yang Allah suruh itu pasti yang terbaik untuk kita. Karena Allah yang menciptakan kita, Allah lebih tahu tentang kita daripada diri kita sendiri."

Putri: "Wah, begitu ya, Bunda. Berarti Allah sangat baik ya, sama kita. Allah udah kasih petunjuk-petunjuknya dan kita tinggal menjalankannya aja."

Bunda: "Benar. Pintar sekali anak bunda." (sembari memeluk Putri)

***

Percakapan antara Bunda dan Putri di atas memberikan kita sedikit nasihat bahwa betapa mudahnya menjadi penghuni surga dan betapa Allah amat menyayangi kita. Namun sayang, saat ini justru masih ada dari kita yang tidak mau menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi yang Allah larang dengan ikhlas, padahal ngakunya ingin jadi penghuni surga.

Allah sudah katakan dalam Qur'an surah Al-A'raf bahwa,

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, Kami tidak akan membebani seseorang selain sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-'Araf [7]: 42)

Tuh, benar kan, bahwa Allah tidak akan memberikan seseorang pekerjaan atau kewajiban yang berat lagi susah dilakukan bagi hamba-hamba-Nya selagi hamba tersebut memiliki iman dan mengerjakan amal salih! Mengapa? Karena orang-orang beriman -yang kokoh imannya kepada Allah Swt., besar cintanya kepada Allah, ingin agar Allah senantiasa mencintainya dan rida padanya, membuktikan keimannya itu dengan amal perbuatan yang baik- senantiasa bersemangat untuk mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tentunya dengan hati yang ikhlas, dengan hanya mengharapkan rida-Nya.

Orang-orang yang kokoh imannya ini tidak pernah merasa terbebani dan terpaksa sedikitpun dalam melakukan perintah-perintah-Nya, tidak pernah ragu, tidak pernah mempertanyakan untuk apa, apa manfaatnya, apakah akan membuat hidupnya sejahtera, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya tatkala ia jalani perintah-perintah Allah tersebut. Di samping itu, ia juga akan bergegas untuk melakukannya, dengan sukacita, senang hati, bahagia. Ia ingin agar Allah melihatnya senantiasa dalam keadaan yang baik, melakukan kebaikan dan menyerukan masyarakat kepada kebaikan.

Ketika Allah perintahkan untuk "Dirikanlah salat fardhu berjamaah di masjid!", maka orang-orang yang kokoh imannya-lah yang sanggup melakukannya dengan menyegerakan dan tanpa ragu. Ia tidak mempertanyakan dulu,

"Ya Allah, untuk apa aku mendirikan salat? Apa untungnya aku mendirikan salat? Kebaikan apa yang akan aku dapatkan? Bukankah salat itu membuat aktivitasku terhambat? Bukankah akan mengurangi waktu kerjaku?". Tidak, orang-orang beriman tidak perlu mempertanyakan hal itu karena ia yakin bahwa ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka perintah itu pasti baik bagi hamba-Nya, pasti ada keutamaan dan manfaat yang luar biasa yang akan didapatkan, bahkan melebihi apa yang dibayangkan oleh hamba-hamba-Nya. Karena bagi orang-orang beriman, tujuan hidup adalah untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan ikhlas. Sehingga dengan keikhlasan inilah yang memudahkan kakinya untuk melangkah ke masjid, bahkan kalau bisa ia orang pertama yang tiba di masjid.

Semangat, tekad dan keinginan yang luar biasa inilah yang membuat orang-orang beriman lagi mengerjakan kebaikan sanggup untuk menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Semangat yang seperti inilah yang mampu mengalahkan rasa malas, nafsu yang buruk, pasrah, pesimis, dan sifat buruk lainnya yang menghambatnya dalam menjalankan perintah Allah.

Lain halnya dengan orang-orang yang tidak kokoh imannya kepada Allah. Tatkala Allah memerintahkan untuk mendirikan salat fardhu berjamaah di masjid, hanya 5 waktu saja dalam sehari, maka akan sulit ia lakukan. Sulit tangannya untuk mengambil air wudhu, susah kakinya untuk melangkah ke masjid. Padahal pergi ke Mall, rekreasi naik gunung, bahkan ke luar negeri, mampu ia lakukan. Namun untuk mendirikan salat fardhu berjamaah di masjid saja, luar biasa sulit anggota tubuhnya untuk bergerak. Ketika Allah perintahkan untuk jangan bertindak curang dalam berdagang, maka orang-orang yang tidak kokoh imannya kepada Allah akan goyah hatinya untuk memilih antara menjalankan perintah Allah atau mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Ia akan cenderung untuk memilih bertindak curang dalam berdagang, mengikuti hawa nafsunya yang buruk, demi kepentingan duniawi yang tak pernah ada habisnya. Ia bergumam dalam hatinya yang ragu,

"Nanti kalau aku ikuti perintah Allah untuk tidak bertindak curang dalam berdagang, aku bisa kalah saing di pasaran, bisa rugi, gak naik-naik omsetnya."

Hal-hal inilah yang terjadi dikarenakan tidak adanya tekad dan keinginan yang kuat dari dalam hatinya, yang berasal dari keimanannya yang kokoh kepada Allah, membuat rasa malas, pesimis, nafsu yang buruk mengalahkan tekadnya untuk melakukan perintah Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab. (red: fsrmm.com)

Mubalighah FSRMM Mengisi Kajian di Wirid Ibu-Ibu Bhayangkara

Sabtu (15/8)--Da'iyah dan Mubalighah FSRMM kembali mengisi kajian di wirid ibu-ibu Bhayangkara di rumah Ibu Yani yang berada di Jalan Pinang, Tangkerang, Pekanbaru. Acara yang dimulai pada pukul 14.50 WIB ini diisi oleh Ustadzah Elsa (Da'iyah dan Mubalighah FSRMM) selaku penceramah dengan membahas seputar "Meneladani Akhlak Ummu Sulaim". Dengan penyampaian yang komunikatif dan interaktif, Ustadzah Elsa menyampaikan bahwa Ummu Sulaim merupakan salah satu sosok muslimah yang patut dicontoh, seorang istri yang dapat menenangkan hati suami dikala gundah dan merupakan jembatan bagi suami beliau, Abu Thalhah, untuk masuk ke dalam cahaya Islam, mengikuti segala perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya. Selain itu, Ummu Sulaim merupakan sosok ibu yang luar biasa dalam mendidik anaknya, Anas bin Malik, bertanggung jawab dan telah menanamkan nilai-nilai Islam kepada anaknya. Baginya, surga yang telah dijanjikan. Maka kita sebagai seorang muslimah hendaklah dapat pula menanamkan akhlakul karimah ke dalam diri kita layaknya Ummu Sulaim yang begitu luar biasa. (red: fsrmm.com)

Penyampaian tausiyah singkat oleh Ustz. Elsa Lestari (Da'iyah dan Mubalighah FSRMM)

Penyampaian tausiyah singkat oleh Ustz. Elsa Lestari (Da'iyah dan Mubalighah FSRMM)

Antusiasme ibu-ibu Bhayangkara dalam menyimak tausiyah singkat

Translate this Site

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified