>
  • FSRMM StoreUnit usaha Online FSRMM. Visit: www.fsrmmstore.com
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • Tracking (3)Melintasi alam sembari melihat kebesaran Allah. Program tahunan FSRMM
  • outbondSalah satu program fsrmm dalam pembinaan fisik & kesamaptaan
  • kultum2Program Rutin FSRMM, Kultum selepas Sholat Berjemaah
  • Qiyam 2Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • Qiyam 3Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • qiyamSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • RadioFSRMM sudah mengisi acara di RRI PRO 2, Susqa FM, dan An-nur FM
  • BaksosSalah Satu Aksi Nyata, Kegiatan FSRMM terjun ke Masyarakat
  • full screen sliderSalah satu program FSRMM, Divisi Kreativitas dan Seni Islam
  • Majelis QuranSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan

Untold Story: Mantan Pendeta Berbicara

Assalamu'alaikum. Bapak/Ibu, Saudara/i hadirilah
TABLIGH AKBAR!


"UNTOLD STORY: MANTAN PENDETA BERBICARA"

Narasumber: 
-Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc.MA. (Pakar Tafsir Quran Prov.Riau)
-Ustadz Dr. M. Yahya Waloni, S.Th. (MANTAN Rektor Univ. Kristen Indonesia Papua, S3 Teologi, Mantan PENDETA)

Hari/Tanggal: Sabtu/7 Maret 2015
Waktu: 20.00 WIB (Ba'da Isya)
Tempat: Masjid Agung Annur Prov. Riau

Acara ini terbuka untuk Umum
More info:
Victori: 08127611704
Eddy: 085275761001

Ayo, ajak yang lain smile emoticon

Mari Memakmurkan Masjid Bersama Mubaligh FSRMM



Ikutilah!
Program Tausiyah Qabla Salat Zuhur 
Bersama Mubaligh FSRMM Setiap Hari Rabu
di Masjid Raya Pekanbaru

Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak

Oleh: Putri Ajeng Dwi Cahyani (Anggota Divisi Dakwah dan Kaderisasi FSRMM)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu menceritakan, bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidak ada seorang anak pun yang terlahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nashrani, atau Majusi… (HR. Bukhari)

Perkataan Rasulullah Saw. dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang kami paparkan di awal penulisan ini sangat jelas sekali menggambarkan betapa pentingnya peran orangtua dalam pembentukan keimanan dari seorang anak.


Orangtua menjadi figur utama yang dijadikan acuan oleh anak dalam berperilaku dan bertindak, baik perilaku dalam peribadatan ataupun dalam perkara adab. Segala perilaku orangtua akan dijadikan standar oleh anaknya untuk kemudian ia tirukan dan pada akhirnya menjadi karakter yang menetap pada diri sang anak.

Anak ibarat kanvas kosong yang siap diwarnai dengan warna apa saja. Setiap perilaku orangtua yang dilihat dan diketahui anak akan memberikan goresan abadi di atas kanvas tersebut. Menggoreskan sembarang tinta dengan sembarang garis tentu akan mempersulit pembentukan lukisan berikutnya.

Orang-orang yang berada di dekat sang anak adalah subjek yang memegang kuasa atas kuas yang siap mencorak pada kanvas tersebut. Karena itu peran orangtua sebagai orang-orang yang berada sangat dekat dengannya sangat berpengaruh besar dalam membentuk kepribadian pada diri anak, terlebih lagi dalam membangun keimanan. Anak berperilaku bukan hanya berasal dari nasihat yang mereka dengar atau dari buku yang mereka baca, akan tetapi berasal dari apa yang mereka lihat. Mereka belajar berperilaku dari contoh nyata yang mereka saksikan.

Orangtua memiliki porsi besar dalam pembentukan aqidah pada diri anak. Terlebih seorang ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kerena pembentukkan keimanan seorang anak sangat dipengaruhi oleh peran orangtua, maka untuk membentuk anak dengan keimanan yang kuat kepada Allah ‘azza wa jalla diperlukan orangtua yang memiliki keimanan yang kuat pula kepada Allah subhaanahu wata’aala.

Potret Keluarga Nabi Ibrahim as.

Model keluarga ideal yang Allah abadikan dalam Al-Qur-an adalah keluarga Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim memiliki dua istri yang memiliki keimanan yang kuat kepada Allah Swt. Salah satu dari istri beliau adalah Hajar, di mana dari rahimnya lahir para Nabi yang memiliki kesabaran yang luar biasa, ialah Nabi Ismail as.

Nabi Ibrahim mendapatkan gelar sebagai bapak para nabi dikarenakan banyak sekali para nabi yang berasal dari keturunannya. Ibrahim juga memiliki gelar sebagai Pengumandang Tauhid, karena sejak muda ia sudah mampu berpikir kritis menolak penyembahan kepada berhala-berhala yang diciptakan oleh manusia serta mencari tahu siapa sebenarnya Tuhan yang layak disembah. Di tengah-tengah kebodohan umat yang ketika itu menyembah patung yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri, Ibrahim as. dengan lantang mengumandangkan bahwa Allah Swt. adalah Tuhan yang Maha Esa dan Rabb bagi seluruh alam.

Demikian pula Hajar. Sosok ibunda yang patut kita teladani ketaatannya kepada Allah Swt. Karena keimanannya yang kuat dan ketundukannya kepada Allah Swt. Ketika Ismail as. masih berada dalam usia menyusu, Hajar dan Ismail dibawa oleh Nabi Ibrahim ke negeri Makkah atas wahyu dari Allah Swt. Ibrahim meninggalkan keduanya di sana, di tempat yang tiada berpenghuni selain mereka berdua, gersang lagi tandus hanya dengan bekal sekantung buah kurma dan air serta doa yang tidak henti dari lisan Ibrahim as.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim [14]: 37)

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa ketika Ibrahim as. berpaling meninggalkan anak dan istrinya untuk kembali ke Palestina, Hajar berulang-ulang memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit sekali bagi Ibrahim untuk menjawabnya. Hajar menanyakan hendak kemana Ibrahim pergi dan apakah Ibrahim akan meninggalkan mereka di tempat yang tiada tanam-tanaman dan tiada berpenghuni. Ibrahim hanya diam, tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari istri yang telah memberikannya seorang anak yang hampir 80 tahun didambakan olehnya.

Dengan keimanan yang merekah di hatinya, dan sejak dulu telah ditanamnya dalam lingkungan keluarga Ibrahim as., Hajar kemudian mengatakan bahwa jika itu adalah perintah dari Allah maka ia rida. Lantas iapun merelakan kepergian Ibrahim untuk kembali menuju Palestina.

Ibrahim as. dan Hajar merupakan sosok manusia luar biasa. Keimanannya begitu kuat kepada Allah Swt. Sehingga wajar jika dari keduanya lahirlah seorang putra yang memiliki kesabaran yang begitu luar biasa, yakni Ismail as. Ia dididik oleh seorang Hajar yang sangat tegar dan kuat dalam menjalankan printah Allah Swt.

Orangtua memiliki peran mendasar dalam pembentukan keimanan di hati anak-anaknya. Hanya orangtua yang berimanlah yang mampu menanamkan keimanan kepada para anaknya. Seperti halnya Luqman, yang mendidik anak-anaknya dengan mengenalkan Allah Swt sebagai satunya yang berhak untuk disembah dan ditakuti kekuasaaannya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".(QS. Luqman [31]: 13)

Upaya yang bisa kita lakukan dalam mengenalkan anak-anak kita kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Muhammad Saw. dapat dilakukan dengan cara yang beragam. Ketika anak belum mencapai usia baligh, maka hal yang bisa kita lakukan salah satunya adalah dengan memberikan teladan. Untuk mendidik anak agar mau beribadah kepada Allah maka kita selaku orang tua harus memberikan contoh nyata kepada mereka, dan mengajak serta mereka untuk ikut beribadah kepada Allah Swt. misalnya saja ketika kita ingin anak kita menjadi anak sholih, yang senantiasa beribadah kepada Allah Swt., maka kita sebagai orangtua haruslah terlebih dahulu menegakkan salat dan memberikan contoh serta mengajak anak kita turut serta menegakkan sholat bersama kita.

Karena itu, selaku orangtua mestilah kita memelihara serta menguatkan aqidah kita kepada Allah Swt., agar kelak dengan aqidah yang kokoh tersebut kita mampu mendidik anak kita sesuai dengan keinginan Allah Swt.  (red: fsrmm.com)


Setiap yang Bernyawa Pasti akan Mati

Oleh: Desy Ariani (Anggota Divisi Hubungan Kemasyarakatan dan Ukhuwah FSRMM)


Apa yang tergambar di pikiran kita ketika melihat foto di atas?

Ya, tentunya dari foto tersebut tergambar setangkai bunga yang sudah mati. Bahkan kita manusia yang dikatakan makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna sekalipun pastilah tak akan terlepas dari kejaran kematian. Sekencang apapun kita berlari, kematian pasti menghampiri. Sepintar apapun kita bersembunyi kematian pasti akan menemukan kita.

Mati, jika ditanya apakah kita siap untuk mati? Pasti kebanyakan diantara kita mengatakan belum siap. Kematian tak dibatasi ruang dan waktu, di manapun, kapanpun! Ketahuilah kematian itu sangat dekat. Kematian tidak pula dibatasi oleh siapa orangnya, apa jabatannya, sudah berapa banyakkah hartanya, ataupun kesiapanya dalam menghadapi kematian. Siap tidak siap, kematian pasti akan menjemput setiap makhluknya yang bernyawa, apapun makhluk ciptaan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Qur’an surah Ali-Imran (3): 185,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."

Dalam Kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur’an tulisan Sayyid Quthb, dijelaskan bahwa ayat tersebut menjelaskan kepada kita semua bahwa jelaslah setiap yang bernyawa pasti akan mati. Orang-orang yang salih dan yang durhaka akan meninggal dunia. Para pejuang dan yang tak mau berjuang pasti akan meninggal dunia. Orang-orang yang tinggi derajatnya karena akidah dan orang-orang yang menghinakan dirinya karena tunduk kepada hawa nafsu juga akan merasakan kematian. Orang-orang pemberani yang tidak takut menghadapi risiko apapun dan orang-orang pengecut yang berambisi terhadap kehidupan dunia pasti ruhnya kelak akan meninggalkan jasadnya. Orang-orang yang memiliki perhatian yang besar serta cita-cita yang tinggi, dan orang–orang yang hidup hanya untuk bersenang-senang dengan kekayaan tanpa memikirkan orang lain pun pasti juga akan tewas. Apabila kematian telah menjemput tidak akan ada satupun di antara kita yang mampu mempercepat ataupun memperlambat kematian itu. Adakalanya kematian itu menjemput saat masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, ataupun orang yang sudah berusia lanjut.

Mari kita pertanyakan kembali, siapkah kita menghadapi kematian dengan sedikitnya amalan yang telah kita lakukan? Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Tak ada satu orangpun yang tahu kapan dia akan mati. Tak ada satupun yang dapat menjamin bahwa besok kita masih bisa bernafas. Lalu apa yang kita tunggu? Apakah kita akan menunggu sampai ruh ini berada di tenggorokkan baru kita sadar dan bertaubat? Jangan tunggu sampai nanti, nanti dan nanti!

Marilah kita perbanyak mengingat kematian yang sudah ada di depan mata. Di samping kita mengingat mati, kita juga harus mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian tersebut. Marilah kita perbaiki kualitas keimanan kita, bertaubat sebelum terlambat. Seperti yang pernah dikatakan oleh salah seorang ulama besar di Riau yang sangat pakar dalam bidang Ilmu Hadist yakni Ustadz Abdul Somad, Lc. MA. yang sekaligus merupakan penasihat FSRMM, beliau mengatakan,

“Kita hidup bukan karena kita sehat, betapa banyak orang yang sehat mati mendadak. Kita hidup karena Allah masih ingin kita beramal.” 

Mari, mulai dari detik ini kita perbanyak lagi beramal selagi Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang memberikan waktu-Nya kepada kita untuk bekal menghadapi kematian. (red: fsrmm.com)

FSRMM Riau Hadiri Acara Syukuran Kantor Baru DPD FPI Riau


Ahad (22/02/2015), FSRMM Riau memenuhi undangan dalam rangka syukuran kantor baru dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Front Pembela Islam (FPI) Riau. Kantor DPD FPI Riau tersebut bertempat di Jalan Sungai Kampar, Pekanbaru. 

Acara syukuran tersebut dimulai pada pukul 10.00 WIB. Turut hadir dalam acara tersebut Bapak Camat Lima Puluh, dari Kepolisian Sektor (Polsek) Kecamatan Lima Puluh bagian Pembinaan Masyarakat, yakni Aiptu Zakariah, dan juga ketua umum dari DPD Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Riau, yakni Ustadz Muhammadun.

Acara syukuran tersebut diisi dengan tausiyah oleh Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA., dan diteruskan dengan pemberian tausiyah sekaligus peresmian Kantor DPD FPI Riau oleh Imam FPI Riau yakni, Habib Muhammad Taufiq Assegaf.
  
Acara kemudian dilanjutkan dengan do’a, dan ditutup dengan makan siang, serta foto bersama. Semoga dengan acara ini, ukhuwah sesama organisasi dakwah semakin erat dan kuat bersama-sama berjuang untuk amar ma’ruf nahi munkar. Aamiin. (red: fsrmm.com)

Tausiyah oleh Ust. Dr. H. Musthofa Umar Lc, MA

Tausiyah oleh Sekretaris Dewan Syuro Ust. Yulihesman S.Ag

Tausiyah oleh Imam FPI Riau Habib Muhammad Taufiq Assegaf

Bercengkrama bersama Ketua DPD FPI Prov Riau Ust. R. Ade Hasibuan

Foto bersama petinggi DPD FPI Prov. Riau


Kemuliaan Wanita Salihah

Oleh: Aidha Aliska (Anggota Divisi Kewirausahaan dan Inventaris FSRMM)


Wanita merupakan makhluk ciptaan Allah Swt. yang sangat luar biasa. Allah menciptakan wanita dengan segala kemuliaannya. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah Swt., QS. An-Nur [24]: 31,


وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

“..dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,..

Allah Swt. memerintahkan wanita untuk menutup aurat di hadapan orang yang bukan makhramnya. Tidak hanya itu, di dalam Al-Qur’an terdapat 1 surah yang Allah beri nama An-Nisa’ yang artinya wanita. Allah Swt. begitu menyayangi wanita hingga Allah memberikan ketetapan-ketetapan kepada para wanita untuk menjaga diri wanita itu sehingga tampak mulia di hadapan Allah Swt. bahkan manusia sekalipun.

Akan tetapi saat ini, tidak sedikit dari wanita itu sendiri yang justru merendahkan dirinya. Yaitu dengan mengumbar keindahan aurat yang ia miliki di hadapan orang-orang yang bukan mahramnya. Padahal, jika wanita itu taat kepada Allah Swt., melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, maka ia akan mendapat predikat wanita salihah.

Siapa wanita salihah itu?

Allah berfirman di dalam QS. An-Nisa’ [4]: 34,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

. . . maka wanita yang salih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) . . .

Dalam ayat di atas, didapatlah kriteria wanita Shalihah itu:

Taat kepada Allah dan Rasul

Taat kepada suami yang taat kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Apabila seorang wanita salat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: masuklah engkau kedalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.(HR. Ahmad)

Wanita salihah adalah wanita yang taat kepada suami yang taat pula kepada Allah Swt. Ketika suaminya memerintahkan sesuatu yang tidak menentang perintah Allah Swt., maka wanita itu wajib menurutinya. Wanita salihah adalah wanita yang memelihara dan menjaga dirinya dari fitnah ketika suaminya tidak di rumah. Dengan cara tidak menerima tamu laki-laki tanpa persetujuan suaminya, menjaga anak-anak serta harta suami ketika suami tidak sedang berada di rumah.

Lalu bagaimana dengan wanita yang belum menikah?

Taat kepada Allah dan Rasul

Patuh kepada orang tua yang taat kepada Allah

Menghormati dan bersikap lemah lembut kepada orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak. Sesuai dengan firman Allah di dalam QS. Al-Isra’ [17]: 23-24, yang berbunyi:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"...dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."

Patuh kepada orang tua memang merupakan menjadi salah satu kriteria wanita salihah. Namun perlu digaris bawahi bahwa patuh itu hanya kepada orang tua yang taat kepada Allah Swt. Misalnya ketika orang tua kita menyuruh kita untuk melaksanakan salat, maka kita harus mengikutinya karena Allah yang memerintahkan hal itu. Akan tetapi, ketika orang tua kita menyuruh kita untuk melakukan kemaksiatan, misalnya mencuri, atau justru menjauhkan kita dari perintah Allah Swt., maka kita harus menolaknya dengan tegas dan tetap santun. Karena kriteria utama itu adalah taat kepada Allah dan Rasul, maka patuh kepada orang tua tentulah orang tua yang taat pula kepada Allah dan Rasul. Sebagaimana Allah Swt. berfirman didalam QS. Luqman [31]: 15, yang berbunyi:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

"..dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."

Menjaga dirinya dari fitnah

Wanita dengan segala keindahannya kerap kali menjadi alibi dalam berbagai kemaksiatan. Itu sebabnyalah Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa:

(ما تركت بعدي فتنة أشد على الرجال من النساء (أخرجه البخاري ومسلم

“Tidak pernah kutinggalkan setelahku fitnah yang lebih dahsyat bagi kaum pria daripada fitnah wanita.” 
[HR. Bukhari dan Muslim]

Maka dari itu, kriteria wanita salihah selanjutnya adalah ia yang mampu menjaga dirinya dari fitnah. Misalnya tidak bepergian jauh sendirian, menjaga auratnya dari pandangan orang yang bukan mahramnya dan menjaga seluruh tubuhnya dari sentuhan orang yang bukan mahram.

Mempersiapkan diri untuk menjadi istri bagi suaminya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak.

Menjadi fitrah bagi seorang wanita untuk memiliki pendamping hidup. Wanita tentu membutuhkan sosok pria yang ia anggap pantas dan layak hidup bersamanya yang nantinya akan membawanya kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tentu untuk menjadi seorang istri itu bukanlah persoalan mudah. Banyak hal yang mesti dipersiapkan dari diri seorang wanita. Misalnya persiapan ilmu dan mental. Bagaimana bisa seorang wanita mampu menjalani lika-liku rumah tangga tanpa adanya mental yang kuat? Ia akan mengurusi segala keperluan suaminya dan memenuhi hak-hak suaminya yang merupakan kewajiban bagi setiap istri. Ditambah lagi kelak bila Allah Swt. titipkan anak dari rahim seorang wanita yang tentunya menjadi amanah besar bagi dirinya.

Maka dari itulah, wanita salihah senantiasa mempersiapkan dirinya untuk menjadi istri bagi suaminya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak.

Itu beberapa kriteria wanita shalihah yang Allah jelaskan. Akan tetapi, saat ini banyak di antara kita yang keliru terhadap kriteria ini. Pemikiran itu didangkalkan. Kita menganggap bahwa predikat salihah itu cukup diraih dengan hanya menuruti segala keinginan orang tua tanpa mempedulikan perintah dan larangan Allah, atau dengan memberikan harta yang banyak kepada orang tua maka kita telah termasuk predikat wanita shalihah. Padahal tidak demikian. Menjadi wanita salihah artinya kita memantaskan diri untuk menjadi wanita yang diidamkan oleh Rasulullah dengan beberapa kriteria yang mesti kita penuhi.

Duhai Muslimah yang dirahmati oleh Allah Swt., bersyukurlah kita karena Allah menciptakan kita sebagai seorang wanita dengan segala keindahan yang kita miliki, yang tentunya keindahan itu yang senantiasa harus kita jaga. Rasulullah Saw. bersabda,

Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.

Mari, pantaskan diri untuk menjadi wanita yang salihah dan dirindukan surga. Aamiin. (red: fsrmm.com)

The Flies



Oleh: Lydia Kusdyanti Iasya (Anggota Tim IT, Dokumentasi, dan Jurnalistik FSRMM)



What do you think when you read this title? You must be imagine a fly in your mind now. What come in to your mind, maybe flies usually drop in your beverage or your food and so disguisting, so disturbing. But, do you know that Rasulullah Saw ever talk about this animal? What did Rasulullah say? 

In hadits narrated by Abi Hurairah, Rasulullah (peace and blessing be upon him) said, 

If a fly falls into one of your containers (food or drink), immerse it completely before removing it, for under one of its wings, there is venom and under another there is (its) antidote. (HR. Bukhari and Ahmad)

Just imagine, more than fourteen years ago, this hadits told us about the disease source and the healing factor in both of flies’ wings. 

So many researches and modern technology have proved the hidden secret of this hadits. There is a special thing in one of the flies’ wings. It can make bacteria disappeared. So, when a fly falls into your food or drink, and spreading the bacteria which stuck on its wing, just turn it back because the bacteria cleaner is on the other wing. There’s venom in flies’ body, there’s the antidote  too.

There’s a provement from scientist that flies produce corpuscel, as enzym named bacteriofag (bacterial prey). If a fly stops in our food or beverage, we have to drop it once more to take its antibody out and killing the bacteria which they brought.

Subhanallah. Knowledge modern have proved the truth of Rasulullah Saw.’s words. This is the answer of disbeliever who deny hadits. May this articel can increasing our faith to Allah  Swt., the Most High, who create all of creatures in this world, including an amazing fly.


---
 
Apakah yang Anda pikirkan setelah membaca judul di atas?  Mungkin Anda membayangkan seekor lalat sekarang. Mungkin Anda berpikir bahwasanya lalat biasanya hinggap di makanan atau minuman kita, kotor dan mengganggu. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa Rasulullah Saw., pernah membicarakan hewan yang satu ini. Apa yang Rasulullah katakan?

Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, 

“Jika lalat hinggap di minuman salah seorang dari kalian, hendaknya kalian mencelupnya lalu mengambilnya lagi. Karena di salah satu sayapnya terdapat penyakit, sementara di sayapnya yang lain terkandung obatnya.” (HR. Bukhari dan Ahmad)
/
Bayangkan, selama lebih dari 1400 tahun yang lalu, hadits ini telah menyebutkan adanya sumber penyakit dan faktor penyembuh pada dua sayap lalat. 

Berbagai riset dan percobaan ilmiah modern telah membenarkan rahasia tersembunyi di balik hadits ini. Bahwa ada satu keistimewaan di salah satu sayap lalat, yaitu dapat menyingkirkan bakteri. Atas dasar itu, jika lalat jatuh ke dalam minuman atau makanan dan menyebarkan bakteri yang menempel di sayapnya, maka pembasmi bakteri itu terdapat di sayapnya yang lain.



Secara ilmiah terbukti bahwa lalat mengeluarkan sejenis enzim bernama bakteriofag (pemangsa bakteri). Jika lalat masuk ke dalam makanan atau minuman, maka kita harus mencelupkan lalat itu agar antibodinya keluar sehingga dapat membunuh bakteri yang dibawanya. 

Subhaanallaah. Ilmu pengetahuan moderen telah membuktikan kebenaran sabda Rasullulllah Saw. di atas secara menakjubkan. Ini merupakan satu jawaban bagi orang-orang yang mengingkari hadits-hadits Nabi Saw. Semoga dengan ditulisnya artikel ini, dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah Swt., Sang Maha Kuasa, yang menciptakan seluruh makhluk di muka bumi ini, termasuk lalat yang menakjubkan.

Translate this Site

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified