WANITA MULIA ITU SENANTIASA MENUTUP AURATNYA



Oleh: Noni Andini (Mentor FSRMM Bidang Syiar Media dan Jurnalistik)



Melihat realita kehidupan saat ini, sangat miris rasanya ketika mayoritas dari penduduk Indonesia adalah beragama Islam namun dalam kesehariannya tidaklah mengamalkan syari’at Islam. Lihat saja para pejabat yang seharusnya mengabdi dan menyejahterakan rakyat, nyatanya mereka lah yang memakan uang rakyat. Belum lagi tenaga pendidik yang semestinya amanah dalam mendidik para muridnya, tetapi hasil yang didapat tidaklah demikian. Saat ini tenaga pendidik hanya melakukan transfer ilmu saja. Hal ini dapat dilihat dari para pelajar yang sangat bobrok akhlaknya, mulai dari tawuran hingga seks bebas. Orang tua yang seharusnya menjadi madrasah pertama bagi anak belum mampu menjalankan perannya dengan baik. Rumah, sejatinya, menjadi tempat pertama dalam menanamkan keimanan sebagai karakter utama anak. Namun yang terjadi justru sebaliknya, membuat anak jauh dari Islam.
Apatah lagi bagi para muslimah yang memiliki sangat banyak keistimewaan dan kemuliaan. Namun mereka dapat dengan mudah melunturkan kemuliaan itu dengan perbuatan yang melanggar perintah Allah, salah satunya tidak mau menutup auratnya.
Ketika Nabi Muhammad Saw. diangkat menjadi Rasul, maka saat itu pula derajat wanita ditinggikan. Tak ada lagi wanita yang ketika lahir langsung dikubur hidup-hidup. Allah Swt. meninggikan derajat seorang wanita dengan adanya sebuah surat di dalam Al-Qur-an, yakni Qur-an surah An-Nisa’ (wanita). Begitulah Allah Swt. dan Rasulullah Saw. memuliakan wanita, tetapi nyatanya wanita itulah yang tidak ingin dimuliakan sehingga masih dengan mudah mengumbar auratnya.
Allah Swt. yang menciptakan manusia tentulah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Tidaklah Allah Swt. memerintahkan sesuatu jika hal tersebut tak bermanfaat baginya dan tidak pula Allah larang untuk mengerjakannya jika hal tersebut mengandung mudharat baginya. Allah Swt. telah memberikan petunjuk bagi kita sekalian manusia, salah satunya tentang bagaimana kita menjalani kehidupan di bumi Allah Swt. ini, dengan mengutus para Nabi dan Rasul untuk kita teladani dan Kitab Suci Al-Qur-an. Lantas apalagi yang menghalangi kita untuk tidak taat kepada-Nya? Padahal diri ini hanyalah menumpang hidup di bumi Allah, maka sudah sepatutnya kita mengikuti segala aturan dan ketentuan dari-Nya.
Allah Swt. telah berfirman dalam QS. An-Nur (24): 31,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Dan diperjelas dalam hadits Rasulullah Saw.,

Diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra.: “Asma’ binti Abu Bakar ash-Shiddiq masuk menemui Nabi Muhammad Saw. dia memakai pakaian yang tipis, baginda Rasulullah Saw. berpaling daripadanya dan berkata: ‘Wahai Asma’, sekiranya seorang wanita telah didatangi haid (baligh), anggota badannya tidak boleh diperlihatkan kecuali ini dan ini (sambil baginda menunjukkan ke arah wajah dan kedua pergelangan tangannya).”
(HR. Abu Dawud)

            Dengan dua nash ini, telah sangat jelas perintah menutup aurat bagi seorang wanita. Tidak hanya sekedar itu, aurat itu ditutupi dengan pakaian yang longgar, tidak tipis, dan juga tidak membentuk anggota tubuh. Namun kebanyakan wanita saat ini banyak berdalih dengan mengatakan, “belum siap”, “menutup auratnya nanti saja kalau hati sudah diperbaiki”, “percuma saja menutup aurat kalau kelakuan masih bejat”, “tidak mau berjilbab karena takut kecantikan memudar” dan alasan lainnya yang tidak bisa diterima.
Padahal sungguh, semua argument itu terbantahkan secara logika. Dalam menjalani segala perintah Allah, tidak perlu menunggu siap atau tidak siap, karena ini merupakan kewajiban dan harus dilaksanakan dengan penuh keyakinan. Maka tidak ada alasan bagi wanita muslim untuk menunggu kesiapan dalam menutup auratnya. Karena di balik perintah menutup aurat ini pastilah terdapat banyak kebaikan, salah satunya terjaga dari gangguan lelaki hidung belang.
Selain itu, ketika kita menutup aurat, maka secara otomatis kita akan terus berupaya untuk memperbaiki diri. Mengapa? Karena akan timbul perasaan, “Oh, aku sudah memakai jilbab sekarang, tidak mungkin kelakuanku masih buruk.”. Maka kita akan terus berusaha untuk memperbaiki akhlak selama kita menutup aurat. Dan alasan “percuma saja menutup aurat jika kelakuan masih bejat” dan “ingin memperbaiki hati dulu baru kemudian menutup aurat” tidak dapat diterima.
Ada lagi pendapat yang lebih aneh, “tidak mau berjilbab karena takut kecantikan memudar”. Untuk hal ini, Rasulullah Saw. bersabda,

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk kalian dan tidak pula harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amalan kalian.
(HR.Muslim)

Rasulullah Saw. telah mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah tidaklah menilai seorang hamba dari kecakepan, kekayaan, kecakapan, dan sebagainya, akan tetapi yang Allah lihat ialah keimanannya kepada Allah. Termasuk bagi seorang wanita yang begitu mulia dengan menutup auratnya.
Rasululluh Saw. kembali bersabda,

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”.
(HR.Muslim)

Seorang wanita itu indah dan tampak cantik ketika ia mampu menjaga dirinya dan memuliakan dirinya. Dan surga yang akan menjadi tempatnya kelak bersama para Shahabiyat, insya Allah.
Wallahu’alam bish shawwab.
(red: fsrmm.com)

Memetik Hikmah dari Kehidupan Lebah


Oleh: Vivie Yohani (Anggota Akhwat FSRMM Riau)


Apabila kita memperhatikan dengan seksama alam semesta dan semua yang ada di bumi ini, kita pasti akan mendapati banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik. Penciptaan luar biasa oleh Allah Yang Maha Menciptakan, yang menjadikan kehidupan makhluk-Nya berlangsung sebagaimana mestinya. Tiap detil kehidupan telah didesain dengan sempurna dan menjadi tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah Swt.

Di antara banyaknya ciptaan Allah Swt., yang memberi banyak pelajaran dan patut untuk kita renungi, salah satunya adalah kehidupan lebah. Lebah merupakan makhluk Allah yang istimewa. Bahkan keistimewaannya digambarkan oleh Allah Swt. di dalam Al-Qur-an,

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia".
Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
(QS. An-Nahl [16]: 68-69)
    
Allah Swt. memerintahkan kepada lebah untuk membuat sarang-sarang, di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Maka di tempat-tempat inilah, lebah membuat sarangnya, di tempat yang tinggi dan bersih, lebah bertempat tinggal tanpa membuat kerusakan. Dalam ayat selanjutnya, Allah Swt. memerintahkan agar lebah memakan dari tiap-tiap  makanan yang baik, maka dengan ketaatannya, hanya makanan yang baik sajalah yang dimakan oleh lebah dalam memenuhi kebutuhannya. Lebah menghisap sari pati bunga dengan tidak merusak bagian bunga lainnya. Lebah tidak mematahkan ranting-ranting yang ia hinggapi. Keindahan bunga juga tidak kurang karenanya, bahkan ia justru membantu dalam proses penyerbukan bunga.

Demikianlah kita mengambil pelajaran dari lebah. Lebah melakoni perannya sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. Lebah mematuhi perintah yang Allah arahkan kepadanya, menempuh jalan yang telah Allah Swt. mudahkan baginya. Lebah bekerja sesuai amanah yang diembankan kepadanya. Lebah juga hidup secara berjama’ah/berkelompok sehingga menjadikannya kuat dan tidak mengganggu selagi ia tidak diganggu. Begitu pula seharusnya kehidupan mukmin, yang menjadikannya kuat apabila berjama’ah dan merasakan sakitnya penderitaan sesama muslim. Perumpamaan umat Islam sebagaimana digambarkan Rasulullah Saw. bagaikan satu tubuh. Hadits Rasul Saw. yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir ra. berbunyi:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّ

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayangi dan saling cinta adalah seperti satu tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sulit tidur dan demam.
(HR. Muslim No.4685)

Dengan ketaatannya, atas izin Allah Swt. lebah menghasilkan yang baik-baik, obat yang manis, minuman yang enak dan sangat bermanfaat. Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Itulah yang kita sebut dengan madu, dan hasil dari lebah lainnya.

Sekarang ini tanpa kita sadari, boleh jadi kita telah banyak lalai dari segala yang diperintahkan Allah Swt. Kita diperintahkan Allah Swt. untuk makan dari makanan yang halal, namun yang haram dinikmati juga dengan berbagai alasan, yang haram saja susah apalagi yang halal. Allah Swt. mengharamkan riba, tetapi tetap saja beralasan ini demi kebaikan, untuk menghidupi keluarga dan sanak saudara. Melakukan tindakan korupsi, mengambil hak rakyat dengan tanpa merasa berdosa, yang kemudian berujung pada penjara dan siksa neraka. Bukankah Allah Swt. telah menjamin rezeki bagi setiap hambanya? Tidak yakinkah bahwa Allah Yang Mahapemurah adalah sebaik-baiknya pemberi rezeki? Padahal, Allah Swt. telah memberikan tuntunan atas segala seluk-beluk kehidupan kita, agar dapat memberikan keselamatan bagi diri kita baik di dunia maupun akhirat. Tentunya Allah Swt. sebagai Sang Pencipta lebih mengetahui apa yang dibutuhkan dan tidak, apa yang baik dan yang buruk, apa yang harus dikerjakan dan yang mesti ditinggalkan oleh ciptaan-Nya. Adapun perintah maupun larangan tersebut semata-mata hanyalah bentuk cinta Allah Swt., demi kebaikan bagi hamba-Nya. Tidak menguntungkan apalagi merugikan Allah Swt.
Dalam hadits qudsi, Allah Swt. berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا


“Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.”
(HR. Muslim No. 2577)

Sebagai manusia, makhluk Allah dengan penciptaan yang terbaik, maka apabila yang kita makan, gunakan, dan tempati adalah halal lagi baik, sehingga menjadi pemenuhan gizi yang baik pula bagi fisik dan memaksimalkan diri untuk beribadah kepada Allah Swt. Namun apabila sebaliknya maka hanya kesengsaraan sajalah yang kita dapatkan. Anak-anak yang pembangkang, rumah tangga yang tidak harmonis, rasa gelisah, ketidaknyamanan dan sebagainya selalu menghantui. Setiap tetes darah, tempat tinggal dan segala yang kita gunakan akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Seperti lebah yang taat akan perintah dan ketetapan Allah Swt. maka kepatuhannya menghasilkan madu yang manis, berkualitas dan bermanfaat. Begitu pulalah manusia. Apabila manusia menaati Allah Swt. maka manusia akan menghasilkan buah karya yang luar biasa, menjadi seseorang yang memberi manfaat kepada orang lain dan meraih ridho Allah Swt. Wallaahu a’lam bish-shawaab. (red: fsrmm.com)

FSRMM Riau Membuka Pendaftaran Bagi Calon Santri Baru




Bagi kawula muda muslim, terkhususnya yang berada di Riau, yang ingin menambah wawasan keislaman, punya banyak teman, pengalaman, skill, dan yang lainnya, mari bergabung bersama kami di FSRMM Riau.

Ada sangat banyak kegiatan menarik yang akan menggali potensi diri antum, seperti:
·         Wirid Remaja,
·         Pelatihan baca Qur-an,
·         Pelatihan blog,
·         Pelatihan leadership and management,
·         Futsal bareng,
·         Masak-masak bersama,
·         Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), dan
·         Kegiatan lainnya yang akan mempererat tali persaudaraan di bawah naungan Islam.

Bagi yang penasaran dan ingin bergabung, langsung saja datang ke Masjid Muthmainnah yang berada di Jalan Kartini, belakang Rumah Sakit Bhayangkara, dan daftarkan diri antum segera. Pendaftaran gelombang pertama dibuka sejak 10 November 2014 hingga 5 Desember 2014.

Atau :
Ketik : GABUNG FSRMM(spasi)NAMA(spasi)ASAL SEKOLAH/UNIVERSITAS/JURUSAN
Kirim ke :
Kak Bayu         : 0896-2249-6099
Kak Elsa           : 0852-7827-8897

Jauhi Sifat Sombong, Gapai Rida Ilahi

Oleh: Noni Andini (Mentor FSRMM Bidang Syi’ar Media dan Jurnalistik)


Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk bagaimana cara berinteraksi kepada Allah Swt. dan juga kepada sesama manusia. Allah turunkan Al-Qur-an sebagai pedoman hidup bagi manusia untuk dipelajari dan diterapkan agar hidup manusia tersebut tidak melenceng kepada keburukan dan kemaksiatan. Allah juga hadirkan kepada kita saudara se-iman yang senantiasa menasehati dikala terlupa. Lantas apalagi yang membuat kita sulit untuk menerima kebenaran? Sungguh, Allah telah ingatkan pada peristiwa masa lalu yang seharusnya dapat kita ambil pelajaran darinya dan tidak diulangi pada masa kini dan nanti.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah (2): 88,

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُون َ

Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup". Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.

Qur-an surah Al-Baqarah ayat 88 ini berkaitan erat hubungannya dengan ayat sebelumnya, yakni Qur-an surah Al-Baqarah ayat 87. Ayat ini bercerita tentang kesombongan Bani Israil yang mana telah Allah turunkan para Rasul kepada mereka untuk menyampaikan kebenaran. Namun mereka dengan sombongnya tidak mau menerima kebenaran tersebut.

Apakah makna sombong yang kita ketahui? Adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Bukankah ini yang dilakukan oleh Bani Israil? Mereka menolak setiap kebenaran yang disampaikan oleh para Rasul. Mereka mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka merasa lebih tahu dan lebih pandai daripada Rasul yang menyampaikan kebenaran tersebut. Tidak hanya itu, kejahiliyahan mereka sangat keterlaluan sampai-sampai berusaha untuk membunuh para Rasul yang diutus kepada mereka.

Lalu mereka berkata  وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ  (Hati kami tertutup). Lihatlah! Betapa sombongnya mereka dengan mengatakan kalimat itu. Dalam Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dijelaskan makna غُلْفٌ tersebut bukanlah hati tertutup”, akan tetapi bermakna hati kami adalah perbendaharaan yang artinya mereka penuh dengan ilmu pengetahuan, mereka tahu semua hal, maka tidak perlu lagi mendapat pengetahuan dari siapapun, sekalipun itu Rasul yang menyampaikan.

Mereka menolak pengetahuan yang disampaikan kepada mereka, bermakna bahwa mereka telah menolak kebenaran, hidayah, petunjuk yang disampaikan. Bukankah ini merupakan kesombongan yang besar? Mereka tidak hanya menolak kebenaran tetapi mereka juga meremehkan para Rasul dengan mengatakan bahwa mereka lebih mengetahui segala hal sehingga tidak patut lagi mereka diajari. Na’uudzubillaah.

Lantas, apakah ayat ini diturunkan terkhusus hanya untuk Bani Israil saja? Tidak! Akan tetapi seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi kaum setelahnya agar tidak mencontoh sifat buruk mereka itu, terkhususnya bagi kitaumat Islamyang memiliki Al-Qur-an sebagai pedoman hidup yang banyak menceritakan tentang kehidupan umat terdahulu.

Tetapi nyatanya tidak semua dari kita yang saat ini bisa mengambil hikmah dari kejadian Bani Israil ini. Apa buktinya? Masih banyak di sekitar kita yang berperilaku sama seperti mereka. Tidak hanya orang-orang kafir saja yang tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan kepadanya, tetapi juga orang islam ada yang seperti itu. Telah disampaikan kepada mereka sebuah kebenaran, mengajak mereka kepada kebaikan, bahkan ketika mereka tersalah diingatkan untuk kembali mengingat Allah, diajak untuk memperbaiki kesalahan tersebut, namun mereka menolak untuk memperbaiki diri, menolak hidayah yang datang kepada mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak pantas dan sebagainya. Padahal sungguh, mereka telah sengaja menutup hati mereka dari menerima kebenaran tesebut. Mereka seolah-olah mengatakan bahwa mereka-lah yang lebih tahu tentang diri mereka, lebih memahami diri mereka, bukan orang lain sehingga tidak perlu orang lain membimbing dan mengajari mereka.

Sungguh, ini merupakan sebuah kesombogan yang nyata. Di dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. dikatakan, “Takkan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji zarrah”.

Di dalam Qur-an surah Al-A’raf ayat 179 dijelaskan pula,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Allah Swt. telah memberikan banyak nikmat kepada kaum Bani Israil, namun mereka senantiasa pula kufur dan melupakan-Nya. Allah hadirkan para Nabi dan Rasul yang selalu mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar, mengingatkan kepada ayat-ayat-Nya. Tetapi itu semua ditolak oleh mereka dengan sombongnya. Allah telah memberikan mereka mata untuk menyaksikan mukjizat para Nabi dan Rasul guna melihat bagaimana kekuasaan Allah. Allah beri mereka telinga sebagai indera pendengaran, tetapi lagi-lagi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan kebenaran yang disampaikan. Bahkan hati mereka yang seharusnya digunakan untuk menerima hidayah Allah, mereka tolak dengan mengatakan bahwa hati mereka telah tertutup. Mereka sepeti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mengapa? Karena jika hewan ternak yang melakukan hal tersebut, maka sudah sewajarnya. Hewan tidak memiliki akal. Namun kita lihat manusia, yang telah Allah berikan akal untuk mengikat hawa nafsunya dan digunakan untuk berpikir, malah tidak digunakan kepada hal tersebut. Jika manusia sudah tidak menggunakan akalnya lagi, maka tiadalah gunanya ia, hanya akan menjadi penghuni neraka Jahannam akibat dari kelalaian mereka dari mengingat Allah.

بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ

“…. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka….

Di dalam Kitab Tafsir Al-Maraghi telah dijelaskan bahwa sebenarnya hati kecil mereka secara fitrahnya bisa untuk menerima kebenaran. Namun karena keingkaran mereka terhadap para Nabi dan Rasul, kesombongan mereka serta karena mereka tidak mau mengamalkan kandungan Al-Kitab—bahkan berani mengubah isinya demi memuaskan hawa nafsu semata—, maka kemudian Allah jauhkan mereka dari rahmat-Nya, Allah laknat mereka dan menjauhkan dari nikmat hidayah-Nya. Allah teguhkan umur dan Allah tenggelamkan mereka dalam kekufuran.

Dalam Qur-an surah Al-Baqarah ayat 6 dan 7, Allah jelaskan,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُون َ
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم ٌ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Sebenarnya Allah telah mengingatkan bahwa orang-orang kafir itu diberi tahu ataupun tidak mengenai sebuah kebenaran, sama saja bagi mereka. Mereka tidak akan menerima hidayah Allah dan tidak akan berubah, karena kekufuran mereka atas nikmat Allah tersebut dan pasti mereka akan mendapatkan azab dari apa yang mereka lakukan itu.

Pada akhir ayat Qur-an surah Al-Baqarah ayat 88, Allah tutup dengan,

فَقَلِيلا مَا يُؤْمِنُون

“..., maka sedikit sekali mereka yang beriman.”

Diterangkan di dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir bahwa para mufassir berbeda pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan “hanya sedikit sekali dari mereka yang beriman”, tetapi ada juga yang mengartikan “sangat sedikit sekali iman mereka”. Maknanya ialah di antara kaum Bani Israil tersebut ada yang beriman kepada Allah Swt. dan mengikuti para Nabi dan Rasul, tetapi sangat sedikit iman mereka karena masih dilingkupi oleh kekufuran.

Diperjelas lagi dalam Kitab Tafsir Fi Zhilalil Qur-an bahwa sedikit sekali di antara mereka yang mau beriman, disebabkan dijauhkannya hidayah Allah dari mereka. Ini sebagai bentuk balasan terhadap keingkaran dan kesesatan mereka sebelumnya. Mereka telah ingkar kepada Allah Swt., maka kecil kemungkinan bagi mereka mau beriman. Mereka telah menyia-nyiakan para Nabi dan Rasul yang datang untuk menyampaikan hidayah kepada mereka.

Jadi kesimpulannya, Allah telah memberikan kita akal untuk dapat memikirkan, mengambil hikmah ataupun pelajaran dari kehidupan kaum-kaum sebelumnya, yang telah Allah ceritakan di dalam Al-Qur-an. 

Seharusnya kisah dari Bani Israil ini dapat menjadi pelajaran bagi kita agar tidak melakukan perbuatan dosa yang sama. Apabila telah sampai kebenaran kepada kita, janganlah kita sombong dengan menolak kebenaran dari Allah. Ketika kita telah memiliki hidayah, maka janganlah kita buang begitu saja karena hidayah itu sangat sulit didapatkan.

Segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, marilah kita syukuri dengan sebenar-benarnya menghambakan diri kepada-Nya. Jangan sampai Allah murka dan melaknat kita dengan salah satunya menutup hati kita dari hidayah dan Allah biarkan kita tenggelam dalam kekufuran tersebut. Na’uudzubillaah min dzalik. (red: fsrmm.com)

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified