Sedang Berlangsung Tabligh Akbar !

Saksikanlah Tabligh Akbar dengan format Talkshow yang sekarang sedang dilaksanakan di Masjid Muthmainnah Polda Riau (Jalan Kartini Belakang RS. Bhayangkara) dengan Tema "Meneladani Keberhasilan Pendidikan Rasulullah" bersama Ust. Abdul Somad Lc.MA.

Jika antum belum bisa berkesempatan hadir secara langsung di Masjid Muthmainnah Polda Riau...

Tenaaaang... bisa streaming di:
www.tafaqquhstreaming.com
www.musthafaumar.org


Pendidikan di Indonesia


2 Mei yang lalu menjadi hari pendidikan yang ke-sekian bagi Indonesia. Telah tahun demi tahun yang dilalui, berbagai perubahan telah terjadi di sekitar kita, terutama dalam segi pendidikan. Bagaimana perjuangan yang telah dilakukan selama ini hingga Indonesia dapat merdeka dan mengecap nikmatnya kebebasan pendidikan. Namun sesungguhnya telah menjadi menjadi pertanyaan besar bagi kita semua dengan segala isu ataupun fakta yang terjadi terkait dengan lika-liku pendidikan anak bangsa: Ada apa dengan pendidikan Indonesia?

Pendidikan di Indonesia tentunya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, dalam perjalanannya ada terjadi hal yang baik, ada yang buruk, ada yang berlaku pro ataupun kontra terhadap cita-cita bangsa ini. Bagaimana sesungguhnya masalah yang terjadi di seputar pendidikan di Indonesia ini? Yang pertama adalah pendidikan semakin mahal, walaupun telah diadakannya dana bos, beasiswa, dll. SPP, BP3, uang pembangunan, atau uang sekolah setiap tahunnya semakin meningkat, akan tetapi tidak ada yang berubah, baik dari sarana dan prasarana, fasilitas penunjang pendidikan, juga dengan kualitas yang sama, sehingga uang yang diberikan tidak sebanding dengan yang didapat. Gedungnya juga tidak berubah, penunjang pendidikan tidak difungsikan sebagaimana seharusnya, dll.

Fakta lainnya, pendidikan ini tidak lagi murni sebagai tempat memberi dan menimba ilmu, melainkan sebagai sebuah wadah bisnis/komoditi yang menguntungkan. Buktinya, ada agenda tambahan dari sekolah, misalnya pekan wisata/pelesiran yang berkedok praktik kerja lapangan (PKL). Siswa/i diwajibkan untuk membayar biaya PKL—yang tidak rasional dan tidak pula jelas pengalokasian dananya—entah siswa tersebut ikut ataupun tidak.

Ini secara langsung ataupun tidak langsung sangat memberatkan orang tua sebagian besar siswa. Barangkali bagi beberapa orang tua untuk mendapatkan Rp500.000,00 dalam satu bulan saja susah, apalagi dalam pembayaran PKL ini diberikan waktu tenggat selama 1 minggu dengan harga Rp600.000,00 hanya untuk perjalanan dua hari ke Sumatra Barat misalnya. Juga, beberapa sekolah membebani para calon peserta didik untuk memberikan pembayaran bangku untuk masuk ajaran baru, juga pembelian buku yang wajib dengan guru, atau mengikuti les dengan oknum guru tersebut, yang bahkan sebagian besar menjanjikan akan menjamin nilai siswa sekian bila membeli buku dengannya, atau diberi soal bayangan untuk persiapan ujian, dan di kesempatan lainnya memberikan soal ujian itu sendiri hanya kepada mereka yang mengikuti lesnya.

Selanjutnya, pendidikan tak mengubah moral. Sebaliknya, sebagian besar telah terjadi krisis moral  baik dari peserta didik maupun oknum guru. Tawuran, ospek yang menggunakan kekerasan fisik. Guru yang mengetahui malah menjadikannya tradisi dan itu dibiarkan, mendiamkan dan berlagak seakan tak mengetahui apa-apa. Pun ada pula kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru. Lainnya, krisis moral terjadi pada orang tua yang tanpa beban melepaskan anaknya begitu saja kepada guru. Apapun hasil pendidikan di sekolah, apabila buruk, maka sebagian orang tua menganggap itu adalah kesalahan para guru!

Maka, siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini?

Permasalahan yang terjadi tersebut harus diketahui bahwa hal itu menjadi tanggungan bagi semua elemen: mulai dari peserta didik punya tanggung jawab terhadap ilmu yang didapatnya, juga para guru hendaknya mendidik moral bangsa yakni untuk menciptakan pemimpin 5-10 tahun ke depan bukan sebaliknya membibitkan para pengangguran, seterusnya, orang tua tidak berlepas tangan terhadap pendidikan anaknya namun turut andil di dalamnya, dan pemerintah yang memiliki amanah yang telah tertera dalam UU menjamin semua anak-anak Indonesia mendapatkan haknya—terutama pendidikan!

Bagaimana Islam mengatur pendidikan?

Inilah kurikulum yang diajarkan Rasulullaah SAW sebagai panutan kita:
1.      Rasulullah mengajarkan tauhid kepada orang yang dididiknya
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. al-Alaq [96]: 1-5)

Artinya kita membaca secara menyeluruh: hujan yang turun, gunung yang ditinggikan, laut yang didalamkan, tumbuhan, hewan, kehidupan dan kematian, kesemuanya harus dibaca secara mendalam sehingga didapatlah hal yang luar biasa. Lalu, dalam ayat tersebut kita dikenalkan siapa Tuhan kita, yaitu dikenalkan dengan sifatNya: Yang Menciptakan, yang tidak sama seperti tuhan-tuhan zaman jahiliyah, yang malah diciptakan. Dijelaskan pula darimana kita diciptakan, bagaimana kita diciptakan. Maka, pelajaran tauhid ini hakikatnya adalah  untuk mengetahui darimana sesungguhnya ilmu itu berasal.

Kita menjadi sadar bahwa segala ilmu berasal dari Allaah. Dengan demikian kita pun tahu untuk apa ilmu itu digunakan nantinya. Sebab, banyak orang yang pintar, akan tetapi tidak bertuhan. Bahkan menganggap dirinya tuhan, dengan melenyapkan nyawa manusia dengan senjata yang diciptakannya. Bukannya menjadi pemimpin untuk menciptakan kemakmuran di muka bumi, malah sebaliknya menciptakan kehancuran dan kerusakan di atasnya.

Pula, kurikulum kita di sekolah, pelajaran agama hanya ada sekali seminggu, belum lagi dengan pengurangan dengan adanya hari libur. Sementara yang diajarkan pula hanya agama secara teoritis saja, seputar ritual ibadah, dll. sehingga pelajar mengetahui islam itu hanya sekedar salat, puasa, haji, zakat. Seharusnya adalah mestilah mindset agama yang ditanamkan, mengapa kita harus beribadah, apa fungsi dari beribadah, kepada siapa kita beribadah, sehingga punya pendirian yang mantap, karakter yang kuat, sikap yang kukuh, dan akhirnya dapat mengenali diri sendiri, sehingga tumbuhlah kesadaran akan kebutuhan menuntut dari pribadi kita masing-masing.

2.      Rasulullah fokus dalam mengajar
Tidak setengah hati. Beliau kerahkan semua waktunya dan tenaganya untuk mengajari umatnya. Sehingga murid dapat dengan sungguh-sungguh pula untuk menerima pengajaran dari sang guru. Akan tetapi pendidikan kita kekinian entah mengerti atau tidak para murid, kebanyakan guru akan membiarkan dan menganggap telah melepas hutang mengajarnya.

3.      Rasulullah langsung mencontohkan
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. al-Ahzab [33]: 21)

Mengajari dengan teladan adalah kunci keberhasilan dakwah atau pengajaran Rasul. Sehingga, apapun yang beliau SAW. telah ucapkan, telah beliau lakukan terlebih dahulu, dan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas lagi terhadap para muridnya.

4.      Rasulullah tidak memberikan jarak antara guru-murid
Beliau menghapuskan gap, sehingga mendekatkan muridnya secara emosional dan meningkatkan spiritual dan intelektual. Yang diajar merasa senang, sehingga apapun yang diterima dapat masuk dengan baik. Beliau pun memanggil para muridnya dengan gelar “sahabat”.

5.      Rasulullah menjadikan masjid sebagai basis pendidikan
Ini adalah bukti bahwa antara pendidikan dan agama tidak pernah dapat dipisahkan, sebab semua itu selaras dan satu.

Maka, hendaknya yang menjadi standar apakah suatu pendidikan itu berhasil atau tidak, adalah dengan menilai apakah terjadi perubahan pada yang dididik: apakah menjadi berilmu, menjadi semakin dekat dengan Allaah SWT, dari yang buruk menjadi baik perilakunya, dari yang baik akan semakin baik kelakuannya. Dan Islam hadir untuk mendidik manusia dengan memanusiakan manusia! Para penyembah berhala menjadi menyembah Rabb semesta alam, kedudukan wanita yang diangkat dari menjadi budak kesenangan hingga dimuliakan martabatnya. Wallaahu a’lam. (red: fsrmm.com)

Estafet Dakwah FSRMM 1434 H

Menjelang Ramadhan, Forum Silaturrahim Remaja Masjid Muthmainnah (FSRMM) POLDA Riau sudah bergerak mempersiapkan mulai dari individu hingga kepada kegiatan yang akan diberlangsungkan baik menjelang Ramadhan 1434 Hijriyah, maupun selama bulan suci tersebut.

Setelah di awal tahun 2013 yang lalu selama 6 bulan ini telah dilakukan fit-and-proper test untuk pengurus FSRMM periode 2013-2014. Estafet kepengurusan kali ini dipegang oleh angkatan kelas 11 tingkat SMA/Sederajat. Kepengurusan baru yang berlaku selama satu tahun kedepan ini merupakan hasil kesepakatan (syuro) dewan pementor atau kakak-kakak pengasuh di FSRMM. Adapun kepengurusan baru tersebut ialah:

1. Ketua Umum: Yusuf Adi Luhur
2. Ketua ikhwan: Sigit Aris Munandar
3. Ketua akhwat: Vivie Yohani
4. Sekretaris: Syukri Darmawan
5. Bendahara: Desy Ariani
6. Dakwah dan Kaderisasi: Yusuf Adi Luhur, Atiya Karimah Siregar
7. HUMAS, IT, Ukhuwah, Kreasi dan Seni: Ayubi Alfasirie, Tengku Rahmilia Agraini, Siska Rani Ramadhani
8. Kewirausahaan dan Inventaris: Reza Shidiq, Hanifah Siti Aisyah
9. Keilmuan: Muhammad Riski, Trie Putri Christalia

Setelah pengumuman, kepengurusan baru FSRMM akan dilatih kemampuannya untuk me-manage organisasi pada agenda Dauroh (Diklat Organisasi) yang sedang dipersiapkan sejak sebulan yang lalu, kemudian para pengurus akan membuat program kerja (progja) yang berlaku untuk satu tahun ke depan dengan bimbingan para kakak asuh.  

"Dan hendaklah takut kepada Allaah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allaah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisaa` [4]: 9)
Mudah-mudahan dapat meneruskan amanah dakwah yang berikutnya, layaknya kayu bakar yang senantiasa diisi terus menerus ke perapian. (red: fsrmm.com)

Event Mendatang: Kurikulum ala Rasulullah SAW



Hadirilah!!!

Tabligh Akbar yang ditaja oleh Forum Silaturrahim Remaja Masjid Muthmainnah POLDA Riau (FSRMM) pada Ahad, 19 Mei 2013 M/9 Rajab 1434 H pukul 13.30 WIB di Masjid Muthmainnah POLDA Riau, Jalan Kartini belakang RS Bhayangkara. 
Bertemakan "MENELADANI KEBERHASILAN PENDIDIKAN RASULULLAH". Tabligh Akbar kali ini diisi oleh salah seorang Ulama Riau, Ustadz Abdul Somad, Lc. MA.
Acara ini GRATIS dan terbuka untuk UMUM. Jangan sampai ketinggalan, ya!

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
0852 78626210 (putra)
0896 20765020 (putri)
(red: www.fsrmm.com)

Menjadi Kader Dakwah Sejati



Siang menjelang sore itu Masjid Muthmainnah POLDA Riau dipenuhi dengan anggota Forum Silaturrahim Remaja Masjid Muthmainnah (FSRMM) POLDA Riau yang siap untuk melakukan pertemuan.

Di sela-sela kesibukan dalam persiapan Seminar Nasional – Riau Moslem Gathering (RMG) yang telah berlangsung pada 10 Maret 2013 lalu, para anggota tetap bersemangat untuk menghadiri majelis ilmu yang insyaa Allaah diliputi oleh para malaikat. Liqo” hari itu diisi langsung oleh Pembina FSRMM, yakni Ustadz Drs. Nazrial, S.Si.

Beliau memompa ghiroh/semangat para anggota dengan flashback kepada perjuangan para pendahulu FSRMM yang berusaha untuk membina diri dan adik-adik asuhnya. Bagaimana dulu kekompakan, kerjasama, dan ukhuwah islamiyah yang mengikat para anggotanya sehingga dapat menuntaskan beberapa agenda atau amanah dakwah yang mesti diselesaikan.

Memang, ukhuwah islamiyah bukanlah sesuatu yang kita dapatkan begitu saja tanpa perjuangan. Akan tetapi, sesuai dengan firman Allaah,

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allaah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujuuraat [49]: 10)

Untuk menjadi seorang kader dakwah memang tidak mudah, namun jangan dianggap sulit. Ketika kita merasa bahwa menolong agama Islam ini adalah sebagai suatu kebutuhan, maka sudah barang tentu segala masalah akan ada penyelesaian, setiap pertanyaan akan ada jawaban, dan saat merasa sempit akan ada kelapangan dan jalan keluar dari Allaah SWT.

Mari kita bercermin sejenak pada perjuangan Nabi Muhammad SAW. Apabila beliau semenjak dahulunya mengikuti apa perkataan orang-orang jahiliyyah, baik yang dikatakan kawan-kawan bangsawannya sejak ia remaja, juga hardikan paman-pamannya kala ia berusia mapan, tentulah Islam takkan menyebar ke seluruh dunia. Bayangkan saja bila Muhammad SAW mengiyakan saja larangan pamannya untuk menyebarkan Islam, bayangkan juga bila Muhammad SAW perlu izin keluarganya jika ia ingin berhijrah, wallaahu a'lam bish-showaab, siapa yang akan tahu apa kita bisa mengetahui tentang Islam hingga seperti demikian.

Maka, Muhammad SAW tidaklah mengikuti arus jahiliyyah yang berada di sekitarnya, bersama rekan-rekannya dan para mukminin, beliau lawan segala ketidakadilan, kejahatan, dan kebathilan dengan memegang janji Allaah SWT.,

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allaah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Ingin menjadi kader dakwah seperti apakah kita? (red: fsrmm.com)

RMG FSRMM - Allaahu Akbar! Luar Biasa!

Gambar: Peserta Seminar Nasional - RMG FSRMM
Hampir ribuan peserta dan undangan memenuhi gedung Hotel Mutiara Merdeka di Grand Ballroom pada Ahad, 10 Maret 2013 itu. Panitia Seminar Nasional-Riau Moslem Gathering (RMG) yang tak lain adalah anggota Forum Silaturrahim Remaja Masjid Mutmainnah (FSRMM) POLDA Riau yang telah mempersiapkan acara ini hampir 6 bulan lamanya. Hingga tibalah saatnya hari-H, alhamdulillaah berkat dukungan dan doa yang tak putus-putusnya dari semua, seminar yang yang bertajuk tentang “Satukan Ukhuwah, Gagalkan Konspirasi Penghancuran Generasi Muda Islam Indonesia” sukses diselenggarakan.

Pagi itu acara dibuka pukul 8 WIB diawali dengan pemutaran video sembari menunggu peserta yang lainnya tiba. Lalu, dengan Dede Kusnadi sebagai pembawa acara dibukalah acara seminar dengan dilanjutkan pambacan ayat suci Al-Qur-an oleh Ahmad Rayhan dan Reza Lutfi sebagai sari tilawah. Peserta kemudian disuguhi tampilan video profil FSRMM selama beberapa menit.

“Alhamdulillaah mantap dan luar biasa, Kawan, sangat menginspirasi, dan menambah wawasan banget. Tapi yang paling aku suka itu, malah dari FSRMM-nya, tampilan-tampilan kegiatan yang disajikan membuat saya penasaran dan tertarik. Keren dan sangat bermanfaat semua aktivitas remaja masjidnya dan pastinya berkualitas! Semoga makin mantap ya, dan dapat ikut mewarnai dakwah kampus juga,” komentar salah seorang peserta seminar seperti yang dilansir FSRMM.com di Facebook.

Setelah penampilan video profil, Diki Gunawan Putra selaku ketua panitia pelaksana memberikan laporan. Ia mengatakan bahwa keprihatinan FSRMM terhadap remaja yang kini tengah dipermainkan oleh konspirasi dunia barat-lah yang mencetuskan ide format acara RMG dengan seminar yang diisi oleh narasumber yang memang pakar di bidang tersebut, seperti Jerry D. Gray yang pakar untuk mengupas permasalahan konspirasi, Salim A. Fillah yang pakar dalam mengupas bagaimana solusi untuk menghadapi konspirasi yang memang sudah menyambut kita bahkan sejak lahir, yakni diawali dengan menyatukan Ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan islam). Dilanjutkan kemudian dengan penjelasan dari sisi tafsir Al-Qur-an oleh pakar tafsir al-Qur-an yang juga merupakan penasihat FSRMM, yakni Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA.

Acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari pembina FSRMM, Ustadz Nazrial, S.Si. yang kali itu diwakilkan oleh Teguh Heriyanto. Disampaikan bahwa menjadi remaja masjid ini bukan serta merta langsung menjadi seperti sekarang, namun melewati proses pembinaan yang tidak sebentar dan berkelanjutan. Anggota FSRMM memang dibina melewati empat aspek pembinaan seperti:
1. Pembinaan keimanan dan mental: melalui kegiatan ibadah, seperti: kajian aqidah, fiqih, tafsir Al-Qur-an, Qiyamul Lail, diskusi intensif keislaman, dan lain-lain.
2. Pembinaan akademik/keilmuan: melalui kegiatan study club (kelompok belajar) dalam berbagai bidang keilmuan, seperti: study club Fisika, bedah ikan/Biologi, pelatihan IT/komputer, dan lain-lain.
3. Pembinaan kepemimpinan dan manajemen: melalui kegiatan pelatihan-pelatihan kepemimpinan dan manajemen Islam (leadership and management), seperti: pelatihan public speaking, kewirausahaan, dan lain-lain.
4. Pembinaan fisik/kesamaptaan: melalui kegiatan olahraga syar’iyyah (riyadhoh), Outbond Training, lintas alam, dan lain-lain.

Tentunya, dengan pembinaan yang insyaa Allaah dan alhamdulillaah akan menjadi pemimpin masa depan yang sesuai dengan Al-Qur-an dan Hadits. Dengan menyelenggarakan kegiatan RMG seperti ini juga merupakan hasil dari pembinaan yang telah dijalani. RMG menunjukkan sejauh mana para panitia mampu menerapkan pelajaran atau Liqo” yang telah didapat, misalnya melatih kesabaran, bagaimana memaksimalkan dalam memanfaatkan waktu yang ada (aspek manajemen), bagaimana menjaga kesehatan (aspek kesamaptaan), dan lainnya. Sehingga tidak ada lagi komentar atau paradigm yang negatif mengenai remaja masjid yang dari dulu dianggap sebagai penjaga sandal, dan lainnya.

Teguh kemudian membuka acara seminar selaku moderator dengan pembicara pertama adalah Jerry D. Gray dan setiap narasumber diawali dengan tampilan profil yang telah dipersiapkan panitia RMG. Lalu, setelah menjawab beberapa pertanyaan dari peserta yang dikirimkan melalui SMS ke nomor yang telah disediakan, acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz  Musthafa Umar. Dede kemudian menutup acara seminar yang akan dilanjutkan dengan konser nasyid oleh Justice Voice (JV) setelah salat Zuhur.

JiVo membawakan beberapa buah lagu dan sangat interaktif dengan penonton yang hadir. Setelah memperkenalkan diri, mereka juga menampilkan kemampuan mereka dalam membuat musik hanya dari mulut (A Capella). Mereka juga mengatakan bahwa sense of humor masyarakat Pekanbaru cukup tinggi, karena gampang sekali dibuat tertawa oleh mereka. Personil yang terdiri dari Mas Ari Fahrizal, Mas Eko, Mas Fariz, Mas Fattah, dan Mas Widi ini kemudian undur diri setelah menyelesaikan konser dan menerima cenderamata yang diberikan panitia RMG dengan diwakili oleh Diki.

“Alhamdulillaah, Subhaanallaah, Allaahu akbar! Tidak menyangka bisa mengundang segini banyak orang. Tapi, dengan ini kita semakin yakin bahwa pertolongan Allaah terhadap dakwah yang suci ini adalah nyata! Hanya jika diikhlaskan dan diniatkan memang lillaahi ta’aala. Jadi, buat kita semua, terutama para aktivis dakwah, baik tua maupun muda, jangan kita menyerah jika belum sampai pada titik penghabisan. Selagi nyawa masih di dalam badan, tidak ada yang dapat menghalangi kita untuk dapat berbuat banyak, apalagi dalam berlomba-lomba mengejar kebaikan. Semoga Allaah meridhoi jalan yang kita tengah tempuh ini,” ujar Ummi selaku panitia RMG Sie. Bazaar.

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.(QS. al-Mujaadilah [58]: 22)

Mudah-mudahan dapat terajut ukhuwah dan tali silaturrahim di antara umat Islam semuanya, salah satunya dengan mengikuti seminar RMG. Aamiin. (red: fsrmm.com)






















Gambar: Para Narasumber RMG FSRMM dan Moderator


Gambar: Penampilan Nasyid oleh Justice Voice

Gambar: Penyerahan Cenderamata oleh Ketua PANPEL RMG FSRMM kepada Personil JiVo


(DOKUMENTASI: FSRMM.COM)

Tabligh Akbar Road to RMG: Kado Beracun di Februari

FSRMM (25/2) – Tabligh Akbar Road to RMG yang diselenggarakan Forum Silaturrahim Remaja Masjid Muthmainnah POLDA Riau (FSRMM) alhamdulillaah berhasil diselenggarakan. Terlihat dari jumlah peserta baik ikhwan/laki-laki maupun akhwat/perempuan yang memenuhi saf-saf di masjid yang terletak di jalan Kartini tersebut.

Acara dimulai pukul 13.30 WIB dan dibuka oleh salah satu pengurus FSRMM, yakni M. Rizky yang merupakan pelajar SMA kelas 11. Acara dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur-an oleh Ahmad Reihan yang tengah duduk di kelas 10 SMA. Lantunan ayat suci Al-Qur-an dibacakan dengan tartil dan membuat khusyuk suasana di masjid.

Peserta Tabligh Akbar kemudian disuguhi dengan tampilan berita kenyataan yang terjadi di sekitar kita, baik secara nasional maupun daerah. Setelah moderator menyampaikan sedikit tentang apa yang “beracun” di Februari, yang mana tidak hanya seputar cinta yang ternoda karena Valentine’s Day dan lainnya, melainkan juga akhlak/moral bangsa yang memang tengah mengalami degradasi iman, disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan, terutama keilmuan tentang agamanya sendiri, yakni Islam.

Teguh Heriyanto, salah satu kakak asuh FSRMM, mengawali Tabligh Akbar yang bertemakan Kado Beracun di Februari itu dengan menyampaikan hal-hal yang terjadi di sekitar kita beberapa waktu belakangan, seperti tawuran antar pelajar, pasangan-pasangan mesum yang digerebek polisi, fashion anak muda zaman sekarang yang serba mini, pendidikan yang tidak sesuai dengan Al-Qur-an dan Hadits, juga pergaulan yang semakin tidak ada batasnya.

Ustadz Abdul Somad, Lc. MA. selaku narasumber pada kesempatan kali itu mulai menerangkan mengapa bisa terjadi hal-hal tersebut. Setelah sesi pertama yang menerangkan tentang latar belakang mengapa diangkatnya tema tabligh akbar bulanan kali itu selesai, Teguh, sebagai moderator acara, melanjutkan sesi kedua dengan diawali pemutaran video trailer acara tahunan FSRMM, yakni Riau Moslem Gathering (RMG), di balik layar (behind the scene RMG).

Peserta kemudian menyimak penjelasan selanjutnya dari narasumber tentang firman Allaah:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al-Baqarah [2]: 120)

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(QS. Al-Baqarah [2]: 217)

Memang, jika kita baca dari ayat tersebut, secara tersirat maupun tersurat terdapat kesimpulan bahwa orang-orang kafir akan melakukan segala cara untuk dapat menjauhkan umat Islam, terutama remaja—yang notabene menjadi ujung tombak dari perjuangan dakwah Islam—dari petunjuk hidup manusia, yakni Al-Qur-an dan Hadits. Bisa kita lihat bagaimana pemikiran-pemikiran liberal merasuki pikiran kita, orang tua, kerabat, teman, saudara, dan orang-orang di sekitar kita, sehingga memiliki paradigma yang sama sekali menyalahi aturan yang telah Allaah dan Rasul-Nya tetapkan.

Kita menjadi jauh dari pusat pendidikan, baik pendidikan di rumah maupun formal seperti di sekolah, yang bernafaskan Islam. Kita dibuat bingung dalam perang pemikiran (Ghazwul Fikri) ini untuk membedakan mana yang Haq (benar) dan yang Bathil (salah).

Di sekolah atau pendidikan formal, kita dibiarkan untuk tidak beragama. Bagaimana tidak, pendidikan Islam yang standar di sekolah atau perkuliahan seharusnya mempelajari 6 pelajaran, yakni: Tauhid/Aqidah, Al-Qur-an/Hadits, Fiqih, Akhlak, Bahasa Arab, dan Sejarah Islam. Namun, kenyataan yang ada kita dapat hanyalah pendidikan agama Islam, yang bahkan hanya dipelajari 2 jam seminggu atau 2 SKS dari total 144 SKS di perkuliahan.

Untuk menghadapi persoalan yang telah ditanamkan bertahun-tahun yang lalu ini memang membutuhkan proses yang tidak sebentar. Dua aspek yang harus dipenuhi adalah kepedulian dari Umara/pemimpin negara dan Ulama. Jika salah satunya tidak mendukung perjuangan yang lainnya, makan untuk mewujudkan masyarakat yang berlandaskan Kitabullaah akan jauh dari harapan kita. Wallaahu a’lam bish-showaab. (red: fsrmm.com)




(DOKUMENTASI: FSRMM.COM)

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified