>
  • FSRMM StoreUnit usaha Online FSRMM. Visit: www.fsrmmstore.com
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • MAJELIS ILMUKegiatan Mingguan yang wajib diikuti Anggota FSRMM
  • Tracking (3)Melintasi alam sembari melihat kebesaran Allah. Program tahunan FSRMM
  • outbondSalah satu program fsrmm dalam pembinaan fisik & kesamaptaan
  • kultum2Program Rutin FSRMM, Kultum selepas Sholat Berjemaah
  • Qiyam 2Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • Qiyam 3Salah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • qiyamSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan
  • RadioFSRMM sudah mengisi acara di RRI PRO 2, Susqa FM, dan An-nur FM
  • BaksosSalah Satu Aksi Nyata, Kegiatan FSRMM terjun ke Masyarakat
  • full screen sliderSalah satu program FSRMM, Divisi Kreativitas dan Seni Islam
  • Majelis QuranSalah Satu Agenda Rutin FSRMM dalam Peningkatan Keimanan

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Rajab



Hari ini kita sudah memasuki hari ke-7 di bulan Rajab 1436 H. Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram. Disebut bulan haram, karena bulan ini sangat Allah shallallaahu ‘alaihi wasallam muliakan sehingga terdapat banyak kemuliaan dan keberkahan di dalamnya. Pada masa jahiliyah dahulu, orang-orang Arab amat memuliakan bulan-bulan haram ini sampai-sampai mereka menyimpan pedang, tombak dan senjata-senjata perang mereka lainnya sebagai tanda bahwa tidak ada pertikaian, permusuhan, peperangan dan pertumpahan darah selama berada di bulan haram, yang ada hanyalah kasih sayang, saling menghargai dan saling menghormati. Seperti itulah mereka amat memuliakan bulan-bulan haram.

Bagi umat Islam, memuliakan bulan Rajab sebagai bulan haram tidak hanya sebatas menyimpan senjata-senjata perang saja, akan tetapi memuliakannya adalah sebagai wujud iman kepada Allah Azza wa Jalla. Selain itu, kita juga perbanyak amal ibadah dengan niat yang ikhlas. Kita jaga hati, jiwa, dan pikiran agar tidak ternoda oleh hawa nafsu dan amal perbuatan yang buruk. Namun, bukan berarti kita bisa seenaknya saja meninggalkan Allah, bermaksiat dan berbuat dosa di delapan bulan selain bulan haram, serta bertaubat, memperbaiki dan meningkatkan keimanan dan amal ibadah hanya di bulan haram saja. Tidak seperti itu! Akan tetapi maksudnya di sini adalah bahwa di antara 12 bulan yang Allah ciptakan, ada 4 bulan yang Allah beri keistimewaan, kemuliaan dan keberkahan lebih bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih. Bulan-bulan haram inilah sebagai salah satu ajang untuk semakin meningkatkan amal ibadah dalam rangka memperoleh rida Allah Swt.

Selain keutamaan, di dalam bulan Rajab ada banyak peristiwa-peristiwa penting, istimewa, dan bersejarah yang terjadi. Pada tulisan kali ini akan kita paparkan satu persatu.

Peristiwa Isra' Mi'raj Rasulullah Saw.
Pada 27 Rajab, terjadi suatu peristiwa Isra' Mi'raj yang merupakan salah satu mukjizat khusus yang Allah berikan hanya kepada Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam, tidak kepada nabi-nabi yang lain. Isra’ ialah perjalanan malam Rasulullah Saw. dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha, Palestina. Mi’raj ialah Baginda Rasul diperjalankan oleh Allah ‘azza wa jalla dari Masjidil Aqsha ke alam langit menuju Sidratul Muntaha. Di Sidratul Muntaha, Rasulullah Saw. menerima perintah langsung dari Allah Swt. untuk melaksanakan salat fardhu lima waktu dalam sehari semalam. Setelah itu Rasulullah Saw. kembali lagi ke Masjidil Haram di Makkah. Menurut suatu riwayat, semua rangkaian peristiwa yang luar biasa menakjubkan tersebut hanya ditempuh dalam waktu sepertiga malam.

Peristiwa Isra’ Mi'raj merupakan hiburan yang diberikan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw., sebagai penguat dirinya dalam menjalani beratnya perjuangan dakwah Islam yang beliau hadapi, terlebih lagi setelah meninggalnya istri tercinta yang telah banyak menyokong dakwah Rasulullah Saw., Khadijah radhiyallaahu ‘anha, juga meninggalnya paman beliau, Abu Thalib, orang yang selama ini memberikan himayah (perlindungan) akan dakwah Nabi Muhammad saw. kendati ia mati dalam keadaan kafir.

Hijrah Pertama Mukmin ke Negeri Habasyah, Ethiopia


Ketika kaum musyrikin Makkah meningkatkan tekanan dan ancaman kepada  Rasulullah Saw. dan kaum muslimin, maka Rasulullah Saw. memerintahkan para Shahabat yang berjumlah 14 orang termasuk empat wanita untuk berhijrah ke negeri Habasyah, Ethiopia. Rasulullah Saw. memilih Habasyah dikarenakan rajanya yang dikenal toleransi dan sikap terbuka.

Pembebasan Baitul Maqdis, Palestina


Pada 27 Rajab 583 H, terjadi suatu peristiwa penting dan bersejarah yang mengguncang peradaban dunia. Suatu peristiwa yang menunjukkan kekuatan kaum muslimin di bawah panji Islam dalam membebaskan tanah Palestina dari belenggu pasukan salibis. Ialah pasukan di bawah komando panglima yang mulia dan luar biasa keimanannya kepada Allah Swt., Shalahudin Al-Ayyubi bersama pasukan kaum muslimin lainnya. Pembebasan itu sendiri tidak mendapatkan perlawanan yang berarti dari pasukan salibis. Umat Islam Palestina pun akhirnya kembali dapat hidup di bawah syariat Islam.

Penghapusan Sistem Khilafah Islam
Pada 28 Rajab 1342 H atau tepatnya 3 Maret 1924 M, seorang pengkhianat berdarah Yahudi dari suku Dunamah dan agen barat (Inggris) bernama Musthafa Kemal At-Tarturk dengan lancangnya telah menghapuskan sistem pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah) dan menggantinya dengan sistem pemerintahan Kapitalisme-Sekulerisme. Sejak saat itulah, malapetaka menimpa umat Islam dikarenakan aturan Islam yang menyejahterakan dan memajukan masyarakat telah dicampakkan dan diganti dengan aturan yang merusak dan terbelakang. Umat Islam yang dulunya berada pada satu wilayah kekuasaan pemerintahan, kini telah terpecah-pecah menjadi negeri-negeri kecil dan disekat pula dengan batas teritorial dengan mengatasnamakan Nasionalisme.


Itulah beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Rajab. Semoga kita dapat mengambil hikmah padanya dan menjadi hamba Allaah yang gigih untuk menegakkan syariat Islam. (red: fsrmm.com)

Buletin FSRMM: Keistimewaan Bulan Rajab



“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allaah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allaah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Alalah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

Dari Abu Bakrah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Zaman berputar sebagaimana bentuknya seperti halnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, empat di antaranya bulan Haram. Tiga bulan darinya berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Serta Rajab Mudlar yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban” (HR. Bukhari)

Segala puji bagi Allah subhaanahu wa ta’aala yang telah mempertemukan kita dengan salah satu bulan yang Allah Swt. muliakan. Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram yang telah Allah ‘azza wa jalla ciptakan. Haram yang dimaksud di sini bukanlah istilah haram yang digunakan dalam konteks hukum pada kaidah ilmu fiqih. Haram yang dimaksud di sini berasal dari kata “Hurum-Hurmatun” yang memiliki arti hormat atau agung. Maknanya bulan Haram adalah bulan yang dihormati dan merupakan bulan yang agung. Perlu kita ketahui, bahwa syari’at untuk memuliakan bulan-bulan Haram ini telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan Ismail as.

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang kedatangannya selalu disambut dengan antusias oleh sebagian besar umat Islam. Kaum muslimin menyikapi datangnya bulan Rajab dengan berbagai cara, yang terkadang cara-cara tersebut tidak sesuai dengan syari’at yang telah Rasulullah Saw. ajarkan.



Beberapa kebiasaan yang keliru yang masih ada dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia adalah dengan melaksanakan salat sunnah Rughaib, yakni shalat sunnah yang selalu dilaksanakan pada Kamis pertama di bulan Rajab. Shalat tersebut dikerjakan sebanyak dua belas rakaat dengan bacaan tertentu. Semua itu dilakukan dengan keyakinan bahwa jika kita melakukannya, maka segala dosa yang telah kita lakukan akan diampuni sebanyak buih di lautan, sebanyak pasir di pantai, serta sebanyak daun yang berguguran di muka bumi, akan diampuni. Selain itu ada yang berkeyakinan bahwa kita pun bisa memberikan syafaat kepada tujuh ratus orang yang akan masuk ke dalam neraka. Imam An-Nawawi mengatakan bahwa salat Rughaib dengan segala keutamaan yang diyakini itu merupakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam. Hadits yang berkaitan dengan amalan tersebut berstatus palsu, mungkar dan sangat jelek. Sedangkan dalam melakukan suatu amal ibadah, hadits dengan status yang lemah terlebih palsu tidak dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan amalan. Amal ibadah tersebut akan tertolak, bahkan Iman Nawawi juga menyebutkan bahwa orang yang melaksanakan amalan tersebut merupakan orang yang munkar. Bukan hanya salat sunnah Rughaib saja amalan keliru yang dilaksanakan oleh beberapa umat Islam, akan tetapi amalan lain seperti puasa satu rajab pun ramai dilaksanakan.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allaah Swt., semangat untuk meningkatkan ibadah pada bulan Rajab sangatlah baik, akan tetapi jangan sampai kita melupakan bahwa ibadah yang Allaah terima hanyalah ibadah yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allaah Swt. dan memiliki tuntunan yang jelas yang bersumber dari Al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Rajab adalah bulan suci yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan. Salah satu keutamaan yang ada pada bulan ini adalah dilipatgandakannya pahala dari setiap amal kebaikan yang kita lakukan. Berdasarkan kitab Tafsir Ibnu Katsir dikatakan,
“maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..
Kita dilarang untuk menganiaya diri kita sendiri dengan melakukan kemaksiatan terlebih pada bulan-bulan yang Allah Swt. sucikan dan agungkan. Karena pada bulan haram ini Allaah melipatgandakan dosa dari kemaksiatan yang kita lakukan. Sebagaimana dosa yang menjadi berlipat ganda, maka pahala dari kebaikan yang kita lakukan pun akan Allah lipatgandakan. Oleh karena itu, sebagai wujud kesyukuran kita atas nikmat Allaah Swt. yang masih mempertemukan kita dengan bulan Rajab yang agung ini selayaknya kita meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. bukan dengan mengada-adakan amalan khusus dengan keutamaan khusus yang justru menjadi sia-sia.

Banyak sekali ibadah yang bisa kita lakukan, misalnya  saja memperbanyak puasa pada bulan ini. Contohnya puasa sunnah Senin dan Kamis, puasa sunah ayyamul bidh, atau puasa sunnah Nabi Daud As. dengan niat karena Allah semata sekaligus melatih diri untuk berpuasa sebulan penuh di Bulan Ramadhan nanti, in syaa Allaah. (red: fsrmm.com)

Perintah Bersunat dalam Kristen. Namun yang Menjalankan Malah Muslim. Jalan Mana yang Benar?

Oleh: Sastrawan Tarigan (Da'i FSRMM Riau dan Kristolog Muda)

          Kita semua tahu, tak ada lelaki Muslim yang sudah dewasa yang tidak bersunat.. Namun, tahukah kamu jika dalam Kristen juga ada kewajiban untuk bersunat? Sayangnya banyak yang tidak tahu, dan karena ajaran yang telah berubah nilai kebenarannya. Jadi saya akan paparkan tentang kewajiban ini, dan alasan orang Kristen tidak wajib bersunat.
Berikut beberapa dalil dari Alkitab yang menjelaskan wajibnya bersunat;

9  Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
10  Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
11  haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.
12  Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
13  Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
14  Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." ( Kejadian 17:9-14)



              Dari ayat diatas jelas sekali tertulis bahwa hukum bersunat adalah wajib! Bahkan jika tidak disunat, maka Allah menyuruh untuk membunuhnya. Karena ini merupakan perjanjian Allah dan Abraham (Ibrahim).
Setelah turunnya perintah ini maka Abraham melaksanakan sunat ini kepada anak keturunannya,

Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. (Kejadian 21:4)

            Lalu, jika seorang lelaki tidak bersunat. Maka ia dilarang menikahi wanita, karena hal ini dianggap aib,

berkatalah mereka kepada kedua orang itu: "Kami tidak dapat berbuat demikian, memberikan adik kami kepada seorang laki-laki yang tidak bersunat, sebab hal itu aib bagi kami. Hanyalah dengan syarat ini kami dapat menyetujui permintaanmu: kamu harus sama seperti kami, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat, ( Kejadian 34:14-15)

            Nah, yang terakhir . orang yang tidak bersunat ia dianggap sama seperti binatang. Seperti yang tertulis dalam ayat ini,

Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." ( 1Samuel 17:36)

       Bahkan dalam bukunya ustadz Insan mengutip Injil Barnabas yang berbunyi,

Yesus menjawab: “Sungguh kukatakan kepadamu bahwa anjing lebih mulia dari seorang yang tidak bersunat” (Barnabas 22:2)

             Nah, kalau begitu apa alasan orang Kristen untuk tidak bersunat? Ini dia alasannya,

 Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah. (Roma 2:29)

Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.(Galatia 5:2)

Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. ( 1Korintus 7:18-19)

            Inilah alasan orang Kristen untuk tidak bersunat. Namun, perlu diketahui bahwa ini adalah ajaran Paulus. Bukan ajaran Yesus. Karena Yesus sendiri disunat. Sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab,

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2:21)

           Lalu, mereka berdalih bahwa yang penting itu adalah sunat hati, bukan sunat daging. Padahal kedua hal ini berbeda dan keduanya telah diperintahkan bagi mereka. Seperti yang tertera dalam ayat Alkitab berikut,

Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. (Ulangan 10:16)

Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak seorangpun dari orang-orang asing yang hatinya dan dagingnya tidak bersunat, boleh masuk dalam tempat kudus-Ku, ya setiap orang asing yang ada di tengah-tengah orang Israel. (Yehezkiel 44:9)

             Dari ayat di atas tampak perbedaan dari keduanya, lah ini yang mana yang benar? Satu perkataan Yesus satunya perkataan Paulus?.  Nah, jika mengaku mencintai Yesus. Maka Islamlah jalan kebenaran dan cara hidup yang benar. Baik untuk memuliakan Yesus dan mendapatkan cahaya kebenaran. Bagi saudaraku yang masih belum mendapat hidayah, yuk melek! 

Undangan untuk Kaum Muslimin dan Muslimat



Assalaamu'alaykum.
HADIRILAH!
TABLIGH AKBAR & SILATURRAHIM PEMUDA MASJID SE-KOTA PEKANBARU

"Bangkitkan Semangat Pemuda Memakmurkan Masjid, Raih Kembali Kejayaan Islam"

Bersama: Ustadz Abdul Somad, Lc. MA. (Ulama Hadits Provinsi Riau)

Ahad, 10 Mei 2015
Pukul 12.00 WIB - selesai 
di Masjid Al-Falah Darul Muttaqin, Jalan Sumatera/Siberut No. 2 Kecamatan Pekanbaru Kota


Acara ini ditaja oleh: 
Forum Pemuda Masjid Al Falah Darul Muttaqin (FORMULA)

Ikhwah, be Prepared!

Oleh: Meutya Safitri, A.Md.Keb. (Mentor Bidang HUMAS dan Ukhuwah FSRMM)


It is only 55 days before we meet something special that every Muslim wants to. Have we ever prepared for the best to be blessed with it?

Imagine when we want to meet the Chief or Head Office, we have to prepare everything in perfect shape, good clothes, fragrance body, clean teeth, best looking, and other important things we have to bring.

So, prepare something cool to face Ramadhan and the preparation start from now!

Our beloved Prophet Muhammad Saw. taught us to pray when entering Rajab month,
"O Allah, make the months of Rajab and Sha'ban blessed for us, and let us reach the month of Ramadan."

Well, be prepared! :) 
(red: fsrmm.com)

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH DENGAN MENGAMALKAN ILMU

Oleh: Ahmad Yunus (Anggota Divisi Dakwah dan Kaderisasi FSRMM)





Suatu perumpamaan, apalah gunanya sebuah pohon berdaun rimbun, berdahan besar, beranting banyak dan berbatang tinggi tetapi tiada berbuah? Bahkan daunnya yang rimbun tadi apabila berguguran hanya akan menambah sampah di halaman rumah, dahannya yang besar akan menghalangi tumbuhan lain untuk hidup dan tumbuh  berdekatan di sampingnya, rantingnya yang berserakan di tanah bisa melukai kaki orang yang melewatinya yang tidak sengaja menginjaknya, tinggi batangnya bisa saja membahayakan lingkungan di sekitarnya karena sewaktu-waktu bisa roboh dan mengancam keselamatan orang di sekitarnya. Begitulah perumpamaan orang yang memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya. Tidak membawa manfaat malah mudarat.

Pernahkah kita berpikir sejenak dari mana kita berasal dan siapa yang menciptakan kita. Kemudian, siapa yang menggerakkan seluruh anggota tubuh kita dan memfungsikannya sebagaimana mestinya? Siapa pula yang membuat kita bisa bicara dengan fasihnya, mendengar dengan nyaringnya, melihat dengan jelasnya dan bergerak dengan bebasnya? Semua itu jelas bahwa Allah Swt. yang Maha Kuasa yang melakukannya. Tidak mungkin manusia, jin, atau malaikat yang melakukan hal sedemikian luar biasa itu karena tidak ada dzat yang berkuasa selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Jika kita mau bandingkan dengan masa jahiliyah, orang-orang kafir Quraisy menyembah berhala dikarenakan kebodohan mereka, tidak mengetahui siapa Rabb-Nya, sedangkan kita telah jelas dan nyata kebenaran di depan mata kita. Masihkah tidak mau mengakuinya? Apakah hati kita telah tertutup untuk menerima kebenaran dari Allah Swt.? Ingatlah bahwa Allah Swt. telah memberi banyak nikmat kepada kita, meskipun kita tidak pernah terpikir untuk memintanya. Sebagai contoh, saat ini kita mampu melihat betapa indahnya gunung, langit, dan semua ciptaan Allah Swt. lainnya, pernahkah  kita terpikir untuk meminta mata yang bisa melihat kepada Allah? Itulah salah satu bukti bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Pernahkah kita bersyukur kepada Allah sebagai ungkapan terima kasih atas nikmat yang diberi?

Sekarang, setelah mengetahui banyaknya nikmat yang kita dapat, sudahkah kita melakukan amal ibadah sesuai dengan yang dikehendaki oleh Dzat yang menciptakan kita, Allah Swt.? Bukankah ketika ada orang yang menyewa sebuah rumah maka orang yang menyewa rumah itu harus mengikuti aturan yang ditetapkan oleh tuan rumahnya? Itu hanya persoalan aturan dengan manusia, bagaimana dengan Allah Swt.? Masih ada di antara kita yang mengabaikan persoalan ini bahkan sampai melupakannya. Segelintir dari kita yang kurang kokoh keimanannya merasa seolah-olah semua ini berjalan dengan sendirinya tanpa ada yang mengaturnya, seolah-olah kita ini hanya sekedar lahir dan dewasa, kemudian bisa bicara, melihat, mendengar begitu saja, tanpa ada yang mengaturnya, menganggap itu adalah suatu hal biasa dan sudah menjadi ketentuannya, sehingga  tidak bersyukur atas nikmat yang luar biasa yang diberikan oleh Allah Swt. Hal ini ditunjukkan dengan perbuatan segelintir dari kita yang masih melakukan sesuatu dengan sesuka hati tanpa merujuk pada Al-Qur-an dan Hadits. Padahal, kalaulah Allah mau, tentulah mudah bagi Allah untuk membisukan lidah kita, membutakan mata kita, menulikan telinga kita dan bahkan membuat kaku seluruh anggota gerak kita. 

Kita lihat saat ini, masih ada orang yang berpendidikan tinggi, bertitel sarjana, magister, bahkan doktor di bidang agama sekalipun yang tidak diragukan lagi pengetahuannya dan kepahamannya tentang Al-Qur-an dan Hadits namun kurang kokoh keimanannya, tidak menerapkan ilmu yang telah ia dapatkan, perilakunya sangat jauh dari apa yang telah ia ketahui. Mereka tahu korupsi itu haram, tetapi tetap juga dilakukannya. Mereka tahu bahwa orang menyuap dan yang disuap itu sama sama berdosa, tapi tetap juga dijalankan. Mereka tahu minuman keras (miras) adalah haram untuk dikonsumsi, tapi tetap dilegalkan jual belinya. Oknum pemimpin yang tahu tempat prostitusi itu haram, tetapi tetap juga diizinkan beroperasi. Mereka tahu menaati perintah Allah itu wajib hukumnya walaupun harus bertentangan dengan perintah pimpinan atau presiden sekalipun, namun kenyataannya tetap perintah manusia yang lebih diikuti.

Jika sudah demikian keadaannya, lalu apa sebenarnya pokok permasalahan yang terjadi? Permasalahannya tidak lain adalah keimanan. Keimanan yang masih dangkal, keruh, belum kokoh, terombang-ambing. Masih ada yang keimanannya saat ini masih sebatas pengakuan dan Islam-nya masih sebatas untuk memenuhi kolom identitas agama di kartu tanda penduduk (KTP). Iman yang lemah pada segelintir dari kita ibarat pucuk pohon yang ditiup angin, ke mana arah angin bertiup, maka ke sana dia bergerak, tidak ada prinsip.  Kita baru sekedar tahu dan paham belum lagi yakin dan amalkan. Kalau seperti itu kondisinya, apa bedanya kita dengan Abu Jahal dan Abu Lahab yang merupakan pemuka kafir Quraisy pada zaman Baginda Rasulullah masih hidup? Bukankah mereka juga tahu dan paham bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah benar utusan Allah Swt.?



Dikutip dari Kitab Fi Zhilalil Qur’an tulisan Sayyid Quthb jilid 2, penjelasan dari surat Ali Imran Ayat 31, Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata dalam kitabnya, Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, yaitu “Kalau kita mau merenungkan sejarah dan informasi yang sahih mengenai persaksian banyak kalangan ahli kitab dan kaum musyrikin akan kerasulan Nabi Muhammad bahwa beliau adalah benar, namun persaksian mereka itu tidak menjadikan mereka secara otomatis menjadi muslim. Maka dapat diketahui, Islam bukan hanya pengertian dan pengakuan seperti banyak orang lakukan, tetapi Islam adalah pengertian, pengakuan, ketundukan, kepatuhan dan ketaatan kepada Allah dan agama-Nya secara lahir dan batin”.

Kalau sudah demikian, tampaklah bahwa agama Islam tidak memandang tingginya jabatan seseorang, banyaknya harta seseorang atau luasnya ilmu seseorang tapi tidak diamalkan. Akan tetapi yang Allah Swt. pandang adalah ketaqwaannya kepada Allah Swt., seberapa besar ia menaati perintah Allah Swt. dan meneladani Rasulullah Saw. yang ia tunjukkan dengan mengikuti Al-Qur-an dan Hadits.

Ketahuilah ilmu itu akan bermanfaat jika diamalkan. Amal itu akan terealisasikan jika ada keyakinan, dan keyakinan akan terbentuk jika ada keimanan. Untuk itu mari kita perbaiki dan tingkatkan kualitas iman kita, menjadi muslim yang berkualitas dan ikut andil dalam kebangkitan dan kemajuan agama Islam yang mulia. In syaa Allaah. (red: fsrmm.com)

FSRMM Tanggapi Pengaruh ISIS Terhadap Remaja

Kamis (9/4)--FSRMM kembali diundang oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Programa 1 untuk menjadi salah satu narasumber dalam perbincangan terkait "Menyikapi Pengaruh ISIS terhadap Remaja" pada program Dialog Wajah Daerah Riau di frekuensi 99.1 MHz. Dengan diwakili oleh Ustadz Diki Gunawan Putra (Da'i dan Wakil Pembina Bidang HUMAS FSRMM) dan Sastrawan Tarigan (Da'i dan Ketua Divisi Dakwah FSRMM), program ini dimulai pada pukul 08.00 WIB. Selain FSRMM, RRI Pro 1 turut mengundang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pekanbaru Prof. Ilyas Husti untuk memberikan tanggapan seputar permasalahan ini.

Pembahasan dimulai dengan penyampaian tentang sejarah terbentuknya ISIS dan sepak terjang pergerakannya oleh Prof. Ilyas Husti. Kemudian diikuti dengan tanggapan terhadap pengaruh ISIS di kalangan remaja oleh Sastrawan dan Ustadz Diki.

Di sela-sela perbincangan, pendengar setia RRI Pro 1 dari berbagai kota di Provinsi Riau pun turut memberikan tanggapannya terhadap permasalahan tentang pengaruh ISIS terhadap remaja via interaktif, seperti Pak Andra, Pak Anes di Panam dan Pak Amir di Kampar.

Perbincangan ini pun ditutup dengan tanggapan oleh penelpon terakhir, yakni Pak Nazri yang berada di seputaran Gobah. Dalam penyampaiannya, beliau berharap bahwa MUI jangan bisanya hanya menghidupkan isu saja tanpa adanya solusi untuk permasalahan-permasalahan yang seperti ini. Beliau selaku akademisi selalu memerhatikan kalau ada persoalan-persoalan remaja, maka yang selalu diserang adalah remaja. Padahal contohnya, anak pergi atau tidaknya ke masjid itu atas dasar kesepakatan dengan para orangtua. Kadang persoalan itu mengatakan bahwa remaja itu begini dan begini. Sekarang di sisi keluarga, sejauh apa peranannya, karena saya sering mendapati anak-anak yang kurang perhatian orangtuanya. Bahkan ada orang yang bergelar "ustadz" tapi ia tidak yakin dengan agamanya, Islam. Anaknya sudah bersekolah di sekolah agama, tapi ia cabut dan dimasukkannya ke sekolah umum. Kadang orang yang seperti inilah yang terlalu sibuk dengan adaya isu begitu-begini. Jadi untuk persoalan remaja masjid begitu juga. Seharusnya para tokoh masyarakat dan keluarga bersama-sama dengan remaja mencari solusi atas permasalahan-permasalahan ini. (red: fsrmm.com)






Suasana di studio RRI Pro 1.
Ustadz Diki Gunawan Putra memberikan tanggapannya





(Sastrawan Tarigan, Da'i muda dan Ketua Divisi Dakwah FSRMM)




Ketua MUI Kota Pekanbaru, Prof. Dr.  Ilyas Husti (tengah)




Foto Bersama FSRMM dengan Prof. Dr. Ilyas Husti 
(Ketua MUI Kota Pekanbaru)

Translate this Site

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified