Kegiatan Tatsqif Fiqh Zakat Bersama Ust. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha.



Senin, 8 September 2014 lalu, FSRMM Riau telah memulai tatsqif Fiqh Zakat bersama Ustadz H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha. yang merupakan seorang Ulama dan Pakar Fiqh Provinsi Riau, serta guru di FSRMM Riau. Setelah adanya kuliah rutin bersama Ustadz H. Abdul Somad, Lc. MA. dan Ustadz H. Syamsuddin Muir, Lc. MA., tak membuat para pemuda FSRMM merasa berpuas diri atas ilmu Hadits dan Ushul Fiqh yang diajarkan. Sama halnya dengan kuliah Hadits dan Ushul Fiqh ini, kuliah Fiqh Zakat turut menjadi kegiatan rutin FSRMM yang diadakan setiap hari Senin ba’da Isya’ yang biasanya dimulai pada pukul 20.00 WIB.
Pada pertemuan perdana ini, Ustadz H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha. menjelaskan seputar pengantar ilmu zakat. Dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti dan cara penyampaian yang menarik membuat para peserta yang mayoritas dari kalangan muda ini sangat antusias dalam mengikuti kuliah Fiqh Zakat. Tidak sekedar menjelaskan dalam satu arah saja, Ustadz H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha. turut mengajak para peserta untuk berinteraksi. Sehingga suasana malam yang dingin, tidak menyurutkan semangat pemuda FSRMM untuk memperdalam ilmu agama. Selain itu, kegiatan kuliah fiqih zakat ini juga didampingi langsung oleh pembina FSRMM RIAU, yakni Ustadz Drs. Nazrial, S.Si. Kegiatan ini tidak hanya dikhususkan untuk pemuda FSRMM saja, akan tetapi bagi sahabat-sahabat, kaum muslimin yang ingin memperdalam ilmu mengenai Fiqh Zakat, langsung saja datang ke Masjid Muthmainnah POLDA Riau, jalan Kartini belakang Rumah Sakit Bhayangkari-Pekanbaru.
Dengan mempelajari ilmu zakat ini, diharapkan pemuda FSRMM dapat semakin berkembang dalam berdakwah kepada masyarakat. Karena untuk mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, tidak hanya dibutuhkan niat yang lurus, semangat yang membara, fisik yang kuat, dan ekonomi  yang mapan saja. Akan tetapi ilmu juga sangat dibutuhkan untuk menopang segala aktivitas dakwah ini. Dan ilmu yang dibutuhkan pun tidak hanya sebatas pada ilmu aqidah saja, akan tetapi seluruh bidang keilmuwan yang bermanfaat harus didalami pula. Semoga Allah memberkahi usaha FSRMM dalam meningkatkan kapasitas keilmuwan untuk berdakwah kepada masyarakat. Amin ya Rabbal ‘alamin.

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيم ٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [Al Baqarah (2) : 261]






Tatsqif Hadits FSRMM Kembali Aktif Pasca Ramadhan 1435 H

Ahad (7/9)—Tatsqif Hadits bersama Ustadz H. Abdul Somad, Lc. MA. merupakan kegiatan mingguan FSRMM Riau yang telah diadakan sejak Oktober 2013 lalu. Setelah disibukkan oleh berbagai kegiatan Ramadhan 1435 H, pemuda-pemudi FSRMM kembali mengadakan Tatsqif Hadits ini dengan mata pelajaran yang baru dan lebih menarik. Jika pada pra-Ramadhan 1435 H Ustadz H. Abdul Somad, Lc. MA. mengajarkan tentang kedudukan Hadits dalam syari’at Islam, penulisan dan pembukuan Hadits Rasulullah Saw., istilah-istilah dalam ilmu Hadits, jalan menerima Hadits dan bentuk penyampaiannya, status-status Hadits, dan seputar pengantar ilmu Hadits lainnya, maka pada majelis Tatsqif kali ini beliau mengajarkan tentang Syarah Hadits.
Dengan telaten, beliau menjelaskan sedikit demi sedikit ilmu Syarah Hadits kepada para peserta Tatsqif dan turut mengajarkan tentang kaedah Bahasa Arab dengan mengguna kan Kitab Fiqh Sunnah Karya Sayyid Sabiq dalam teks aslinya. “Sambil menyelam, minum air”. Sambil belajar Syarah Hadits, mahir berbahasa Arab. Dengan adanya Tatsqif Hadits ini, pemuda-pemudi FSRMM berusaha memperlebar kepakan sayap keilmuwan dalam berdakwah kepada masyarakat. Inilah Ilmu Hadits yang merupakan pondasi utama, setelah Al Qur-an, untuk mengajak masyarakat kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Untuk mempelajari Ilmu Hadits ini tentu tidak harus dengan menempuh studi di Kairo, Maroko, Cordoba, dan lainnya, di mana biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Begitupun dalam berdakwah kepada masyarakat, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, tidak harus oleh seseorang yang bergelar “Sarjana Agama” atau “Magister Agama” bahkan “licensed.”. Bukankah Rasulullah Saw. dan para Shahabat tidak sedikit pun yang memiliki gelar-gelar tersebut? Bahkan ketika berdakwah maupun memimpin pasukan perang, para Shahabat tak sedikit yang berusia muda. Lalu mengapa di tengah masyarakat Indonesia saat ini seolah ada prasyarat gelar bagi para penyeru dakwah? Semoga hal ini bisa semakin tertolak dengan perkataan Ustadz H. Abdul Somad, Lc. MA. yang penuh kerelaan kepada pemuda-pemudi FSRMM,

“Untuk memperdalam ilmu Hadits, tak perlulah anggota FSRMM studi jauh-jauh ke Kairo atau Maroko, karena saya yang akan membimbing kalian untuk mengerti Ilmu Hadits ini.”

Masya Allah. Inilah satu kalimat cinta yang dilisankan oleh guru kepada murid-muridnya yang saling mencintai karena Allah Swt.. Insya Allah, dengan bimbingan Pembina FSRMM (Ustadz Nazrial, S.Si) dan para Asatidz (guru-guru) FSRMM, pemuda-pemudi FSRMM dapat semakin berkembang untuk menjadi bakal pemimpin yang bertaqwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (red: fsrmm.com)





Bercermin Dari Wasiat Nabi Kepada Abdurrahman bin ‘Auf




Latar Sejarah Munculnya Wasiat
Pada bulan Sya’ban tahun keenam Hijriah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pimpinan Negara Islam Madinah pada saat itu mengutus seorang duta untuk berdakwah ke daerah perbatasan antara Jazirah dan Syam, yakni sebuah wilayah datar yang dikenal dengan nama Daumatul Jandal (Moenawar Chalil, 2001). Daerah ini berada di timur laut Madinah dengan jarak tempuh sejauh 15 hari perjalanan dari Madinah dan sudah dekat dengan Damaskus. Disana hiduplah satu bani (keluarga/suku) yang dikenal dengan nama Bani Kalb (keluarga anjing) yang mayoritasnya beragama Kristen Katolik, sebagaimana agama penguasa mereka yakni Kekaisaran Romawi sebelum akhirnya cahaya Islam datang menyinari kehidupan mereka. Sebab daerah ini berada di pinggiran Syam, maka meskipun bernama Suku Anjing, namun rupa mereka tidaklah buruk menyerupai anjing.Mereka lebih mirip orang-orang Syam, dengan badan tinggi dan wajah-wajah yang cantik dan tampan.
Sebagai pembawa risalah, menjadi tugas utama Rasulullah-lah untuk berdakwah.Menyerukan kalimat tauhid hingga tiada satu manusia pun di muka bumi yang mengingkari keesaan dan kekuasaan Allah semata adalah misi utama dari dakwah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.Selain itu sebagai kepala negara sekaligus pemerintahan, tentu Rasulullah memiliki otoritas penuh untuk mengutus duta-duta negara ke suatu wilayah demi mengemban amanah penyampaian risalah Islam ke seluruh pelosok.Maka pengutusan duta ke Daumatul Jandal ini pula bagian daripada syiar Islam yang dilakukan oleh Rasulullah beserta para shahabat guna memurnikan tauhid pada mereka yang telah mencemarinya, atau mengenalkannya pada mereka yang belum mengenalnya. Terlebih lagi Daumatul Jandal adalah salah satu wilayah strategis sebab ia adalah pintu gerbang yang biasa dilalui kafilah dagang yang hendak lalu lalang dari Hijaz dan Jazirah ke Syam atau sebaliknya, bila wilayah ini telah disinari dengan cahaya Islam tentulah akan memudahkan Islam untuk lebih tersebar luas lagi pada masa nantinya.
Tersebutlah seorang shahabat utama dari golongan As-sabiqun Al-Awwalun sekaligus Muhajirin bernama Abdurrahman bin ‘Aufradhiallahu ‘anhu. Satu diantara sepuluh shahabat yang semasa hidup pun telah Rasulullah jaminkan masuk ke dalam surga. Seorang shahabat yang teramat kaya, bahkania sanggup menyumbang 700 ekor unta bermuatan harta benda penuh untuk dakwah Islam dan perjuangan di jalan-Nya. Yang meski demikian ia tetaplah zuhud dan anti kekuasaan. Sebab tatkala Amirul Mu’minin Umar bin Khattab menunjuknya sebagai salah seorang yang pantas dibai’at sebagai khalifah umat Islam sepeninggal beliau, maka Abdurrahman bin ‘Auf dengan tegas menolaknya (Khalid Muhammad Khalid, 2007).
Dialah Abdurrahman bin ‘Auf yang dipilih Nabi sebagai duta ke Daumatul Jandal, lengkap bersama sejumlah pasukan untuk mengantisipasi kalau-kalau Bani Kalb malah menyatakan perang. Sebagai salah satu generasi yang paling awal dibina Rasul, bahkan jauh sebelum Rasul menjadikan Darul Arqam di Makkah sebagai pusat pembinaan ke-Islaman, Abdurrahman bin ‘Auf dipandang telah matang dan sangat representatif untuk menyampaikan Islam ke Daumatul Jandal.
Sebagaimana duta-duta Islam yang lain, adalah suatu hal yang lazim bagi mereka untuk mendapatkan wasiat dari Rasulullah sebelum keberangkatannya sebagai bekal ruhaniyyah di perjalanan. Maka pagi itu datanglah Abdurrahman bin ‘Auf menghadap Nabi, dan dalam forum itu turut serta pula seorang shahabat bernama Abdullah putra dari Umar bin Khattab yang dalam riwayat dikisahkan telah bertekad sedari malamnya untuk bisa mengikuti forum itu demi mendengar wasiat Rasulullah pada Abdurrahman bin ‘Auf. Abdullah bin Umar inilah yang kemudian menjadi perawi (periwayat) dari hadits wasiat Rasulullah untuk Abdurrahman bin ‘Auf. Dan tentu saja amalan beliau yang bertekad kuat untuk datang ke forum itu karena hausnya akan ilmu, lalu turut menyimak wasiat Rasulullah, dan akhirnya mampu meriwayatkan hadits ini amatlah sangat mulia, sepatutnya kita mampu mencontoh semangat beliau dalam mencari ilmu.

Isi Wasiat
Apakah kiranya wasiat Rasulullah pada Abdurrahman bin ‘Auf itu?Marilah kita simak dengan seksama. Dalam kitab At-Targhib wat-Tarhib karya Imam Al-Mundziri, dicatatlah hadits yang sangat berharga itu, yakni pada babPeringatan dari Mengurangi Takaran dan Timbangan, disebutkan:

Ibnu ‘Umar bin Al-Khatthab radhiallahu ‘anhu berkata,“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda: ‘Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang menimpa kalian (dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya); (1)Tidaklah tampak pada suatu kaum perbuatan zina sehingga dilakukan secara terang-terangan (sebab telah terbiasa dan telah hilang rasa malu) melainkan akan tersebartha’un(wabah)di tengah-tengah mereka dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya; (2)Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan(mereka)akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezhaliman penguasa atas mereka; (3)Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarkannya) melainkan akan ditahan hujan dari langit untukmereka (tidak akan diturunkan hujan), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan; (4)Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, melainkan Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian dari apa yang mereka miliki; (5)Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum Muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (Al-Qur’an) dan (tidak pula ia) mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (yakni syariat Islam), maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka (memecah belah mereka).’.” (H.R. Ibnu Majah dan Al-Hakim, hadits shahih).

Hikmah dan Pelajaran Dari Wasiat Tersebut
Inilah lima wasiat besar Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdurrahman bin ‘Auf saat melepas keberangkatannya untuk berdakwah ke Daumatul Jandal. Dan sungguh wasiat ini hakikatnya tidak hanya berlaku pada masa itu sahaja, tidak pula hanya berlaku untuk Abdurrahman bin ‘Auf saja, melainkan wasiat ini ialah untuk seluruh pengikutnya dari masa ke masa, dimanapun mereka berada. Sungguhlah bila kita bercermin atas apa yang terjadi pada tubuh umat Islam belakangan ini, terlebih lagi pada tubuh umat Islam di Indonesia, akan kita dapati kebenaran dari pesan Rasulullah sang khatamul anbiya’.
Tidakkah hadits ini cukup menjadi tamparan untuk kita?Sungguh benarlah setiap sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka sudah saatnyalah kita berbenah meninggalkan kebiasaan kita yang kelam.Wahai umat Islam, marilah kita kembali pada Allah dan Rasul-Nya.Berhentilah mengatakan “tak perlulah mencampurkan urusan dunia dengan urusan agama”, karena sungguh Rasulullah mengajarkan bahwa Islam itu melingkupi seluruh aspek kehidupan. Islam tak hanya bicara soal ibadah maghdhah dan akhirat semata, melainkan ia juga mengatur urusan dunia. Bila kita meninggalkan Islam di satu saja aspek kehidupan dunia, maka kerugian besar akan menimpa kita.
Cukuplah sudah kita acuh dengan perzinahan yang seakan sudah menjadi hal biasa, hentikanlah semampu kita karena Allah dan Rasul telah melarangnya.Cukuplah sudah kecurangan dan tipu daya merajalela, bahkan tak jarang kita ikut andil didalamnya, hentikanlah agar Allah tak semakin murka kepada kita. Cukuplah sudah kita lalai dari membayarkan zakat-zakat kita selama ini, atau Allah akan menurunkan azab-Nya kepada kita. Dan cukuplah sudah kita ingkari janji kita pada Allah dan Rasul-Nya selama ini dengan tiada taat pada-Nya. Ingatlah bahwa sebelum Allah tiupkan ruh kita ke jasad yang lemah ini, Allah telah terlebih dahulu menagih ikrar kita: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 172)
Dan akhirnya, cukuplah sudah kesombongan kita yang lebih suka berhukum dengan hukum yang dibuat-buat oleh manusia ketimbang menggunakan hukum yang sudah diturunkan oleh Allah dan telah dicontohkan oleh Rasul-Nya, kemudian malah menganggap hukum karangan manusia itu lebih baik dari apa yang telah Allah syariatkan lalu dengan beraninya kita mencela hukum yang datang dari sisi-Nya. Belumkah kita membaca firman Allah yang artinya: “…Barang siapa yang tidak memutuskan (suatu perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Maaidah [5]: 44)
Marilah kita renungi diri, sudahkah kita menghindarkan diri dari 5 hal dalam wasiat Rasulullah itu?Dan sudahkah kita berjuang menjauhkan lingkungan kita dari 5 hal yang mengundang 5 bala yang besar itu?Karena sungguh Rasulullah menggunakan kosakata “kaum” dalam wasiatnya itu, bukan orang per orang. Dan sungguh Allah pun telah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(Q.S. Al-‘Anfaal [8]: 25).

Maka keshalihan individu saja tidaklah cukup untuk menghindarkan diri dari bencana-bencana itu.Perlu usaha yang keras untuk menyeru diri dan umat untuk bersama-sama menjauhi 5 maksiat besar sehingga terhindarlah kita dari 5 musibah yang besar itu. Semoga tulisan ini pun termasuk diantara usaha kita untuk menjauhkan diri dari bala dan mendekatkan diri pada Allah ‘Azza wa Jalla, amin ya Rabbal ‘alamin.

Oleh : Irvan Riviandana Nst – Mahasiswa S1 Tingkat Akhir Teknik Kimia Univ. Islam Indonesia


Lomba Takbiran "BEBASKAN AL-AQSHA & PALESTINA"


Bismillahirrahmanirrahim,

Kaum Muslimin dan Muslimat mari kita ikuti :

Lomba Takbiran 

"BEBASKAN AL-AQSHA & PALESTINA"

ALLAHU AKBAR


Kegiatan ini ditaja oleh SAHABAT AL-AQSHA, Indonesia

(fsrmm,red)


Sudahkah Kita Seutuhnya Merdeka??




    Tidak terasa kita telah memasuki bulan Agustus. Bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia, karena ada satu momen bersejarah yang tak terlupakan bagi Bangsa Indonesia. Yakni peringatan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang diperingati pada tanggal 17 Agustus di setiap tahunnya.

   Nuansa merah putih terasa begitu kental setiap kali memasuki bulan Agustus. Setiap tanggal 17 Agustus rakyat Indonesia melaksanakan upacara penaikan bendera merah putih. Tak hanya itu, beragam permainan rakyat seperti tarik tambang dan panjat pinang diseleggarakan untuk memeriahkan hari peringatan tersebut.
   Sejatinya, peringatan hari kemerdekaan ini bertujuan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan bangsa yang telah berjuang hingga tetes darah penghabisan untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia ini. Kita patut bersyukur, atas rahmat, karunia dan kasih sayang Allah dan melalui perjuangan para pahalawan untuk mengusir penjajah, maka kini kita merasakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa ada desingan peluru. Namun ada satu pertanyaan yang patut kita pikirkan.

Sudahkah kita seutuhnya merdeka?  Tak heran jika muncul pertanyaan ini. Kita lihat bagaimana kondisi Indonesia saat ini. Jika diibaratkan seperti umur manusia, Negara Indonesia ini tidaklah lagi terbilang muda. Namun pencapaian yang didapatkan masih jauh dari kata memuaskan.

Jika bangsa kita memang sudah merdeka, namun mengapa banyak diantara kita yang masih terbelenggu kemiskinan, dan kebodohan? Sedikit dari kita yang sadar bahwa kita belum sepenuhnya merdeka. Tidak banyak dari kita yang tahu bahwa penjajahan masih terus berlangsung dinegara kita ini. Karena penjajahan ini dilakukan dengan metode yang sangat halus. Bukan senjata, tombak, peluru, tank baja, meriam, bom, atau granat yang musuh sodorkan kepada kita. Bukan bentuk penjajahan yang demikian yang berlangsung di Indonesia sekarang ini. Penjajahan itu kini dilakukan dalam bentuk penjajahan pola pikir, ekonomi, budaya dan beragam aspek lainnya. Penjajahan yang lebih mengerikan dibanding penjajahan fisik, karena kita tak menyadari, bahwa sesungguhnya kita sedang dijajah dan siapa musuh kita sebenarnya.

Hal ini sudah seharusnya kita ketahui, karena Allah telah memperingatkannya jauh sebelumnya, 1400 tahun yang lalu. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 120

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ
Artinya :
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Ketetapan seperti itulah yang akan terus terjadi hingga kiamat nanti dan mereka pun, tidak akan pernah berhenti memusuhi kita ummat muslim, sebelum kita mengikuti “Millah” mereka. Millah adalah agama, kebiasaan hidup serta pola pikir. Hal inilah yang dijelaskan dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an karya Sayyid Quthb. Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan tentang perkara perang aqidah. Namun, mereka “rubah” menjadi perang ekonomi dan sebagainya.

Lihatlah bagaimana kini, Indonesia sebagai Negara berpenduduk mayoritas muslim, justru dibuat asing oleh agama Islam itu sendiri. Sekuat tenaga, daya dan upaya mereka menjauhkan kita, umat islam dari Al-qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman utama serta Masjid sebagai basis pembinaan, sehingga Para pemudanya lebih bangga hidup ala barat yang jauh dari nilai-nilai islam. Merasa malu dengan identitasnya sebagai muslim. Memilih pakaian mini, dibanding menggunakan pakaian syar’i (menutup aurat). Dan Dibuat terkagum dengan figur artis-artis atau anime sehingga mereka lupa juga buta dari tokoh-tokoh Islam, para tabi’in, para shahabat bahkan Rasulullah Saw.

Tak hanya pola pikir yang diobrak-abrik , ekonomi pun kita masih terjajah. Indonesia adalah Negara yang kaya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang banyak yakni 237.556.363 jiwa. Negeri kita ini memiliki 13.487 pulau dan juga lautan yang luasnya 3.257.483 km2 dengan segala potensi yang seharusnya mampu kita olah dengan baik sehinggga mampu membuat kita semua hidup makmur. Tapi fakta yang terjadi adalah kemiskinan merajalela karena yang menikmati kekayaan negara kita ini justru pihak asing. Mereka mengeruk habis kekayaan alam yang ada, sebut saja salah satunya PT. freePort yang ada di Papua.



Ketidakmampuan kita mengelola sumber daya alam yang ada menjadi salah satu faktor para pengusaha asing untuk memangsa kita. Mereka membawa bahan baku dari Indonesia dengan harga murah untuk kemudian diolah dan kembali dijual kepada Indonesia dengan harga tinggi. Hingga akhirnya kita yang justru tercekik.

Banyak diantara kita yang menganggap bahwa proklamasi kemerdekaan adalah akhir perjuangan dalam merebut kemerdekaan Indonesia ini. Padahal proklamasi hanyalah gerbang awal dari kemerdekaan. Perjuangan justru baru dimulai sejak kita mendeklarasikan bahwa kita adalah bangsa yang merdeka dari penjajahan. Kita, terkhusus para pemuda adalah ujung tombak Negara yang harus mampu melanjutkan perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan Indonesia secara utuh, merdeka dari segala bentuk penjajahan.
Kemerdekaan bukanlah hal yang dengan mudah kita dapatkan, bukan dengan “mengemis” kepada penjajah. Ribuan bahkan jutaan nyawa harus melayaang untuk menebusnya.

Jika kita ingat lagi bagaimana dahulu penjahahan berlangsung. Kondisi Indonesia sangat menyedihkan. Selama lebih dari 3,5 abad penderitaan dan kesengsaraan dirasakan oleh bangsa Indonesia. Menjadi budak di rumah kita sendiri. Kita kelaparan ditengah lumbung padi yang menggunung. Berbagai kekejaman dilakukan oleh para penjajah demi menyukseskan misinya, yakni penyebaran agama Kristiani. Pengerukan kekayan alam (Gold) dan penguasaan pemerintahan (Glory) ketika itu hanyalah sebagai salah satu metode mereka untuk menggapai misinya yang utama, yakni Gospel (Penyebaran Paham Agama/Kristenisasi).

Penjajahan yang berlangsung begitu lama tersebut menjadi salah satu bukti, betapa kerasnya perjuangan para pahlawan kita. Mereka yang memperjuangan kemerdekaan ketika itu, adalah para pemuda yang beriman. Keimanan kepada Allah yang kuat-lah yang membuat para pejuang Indonesia ketika itu sadar, bahwa kita hanya layak tunduk dan patuh kepada Allah saja, bukan tunduk patuh kepada hawa nafsu manusia, bahwa kita sebagai sesama muslim, sebagai saudara sebangsa tak ingin dipecah belah. Dan tak rela jika para penjajah itu merampas hak serta melakukan penyebaran agama kristiani sebagai tujuan utamanya.

Apa bukti bahwa yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia ketika itu adalah pemuda yang beriman? Bisa kita simak dan saksikan bagaimana bung Tomo menyatukan hati dan semangat “Arek-arek Suroboyo” dengan gema takbirnya untuk melawan tentara sekutu. Jika bukan para pemuda yang beriman, maka tentu bukan takbir yang dikumandangkan. Mereka tak heran dan tak gentar. Karena Allah-lah sebagi satunya pelindung.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Swt. Merah putih memang tela berkibar d ujung tiang tertinggi, tapi cita-cita para pendiri bangsa belum mencapai puncaknya. Tugas kitalah sebagai generasi harapan bangsa yang harus melanjutkannya. Bagaimana ? kita teladani para pahlwan kita terdahulu. Hanya dengan kita bersama Allah-lah yang mampu memenangkan perjuangan ini. Mari kita kembali berpedoman pada Al-qur’an dan hadits, kembali lagi menjadikan masjid sebagai basis kekuatan ummat, kembali lagi memakmurkan masjid.

Dengan keimanan/aqidah yang kokoh, maka pola pikir kita akan terbentuk. Dalam melakukan segala sesuatu dengan berpedoman Al-Qur’an dan Hadits serta memiliki skill seorang pemimpin dan mempunyai akhlaq yang baik.


Yuk, Silaturrahim Bareng FSRMM


Setelah berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan, maka pada 1 Syawal 1435 H yang jatuh pada waktu Magrib di 27 Juli 2014, seluruh umat Islam di Indonesia yang mengikuti keputusan dari hasil sidang Isbat Kementerian Agama Republik Indonesia berbuka puasa untuk yang terakhir kalinya di bulan Ramadhan tahun ini dan siap merayakan kemenangan dengan penuh rasa syukur dan bertakbir mengagungkan Allah Swt. Esok paginya seluruh umat Islam melaksanakan salat ‘Ied, baik di lapangan maupun di masjid, dan saling berkunjung ke rumah saudara-saudari untuk mempererat silaturrahim.
FSRMM Riau pun turut mengadakan home to home atau halal bi halal, berkunjung ke rumah para asatidz atau guru-guru yang telah membina seluruh anggota FSRMM untuk menjadi pemuda yang memiliki karakter dan berpendirian seperti pemuda ashabul kahfi dan pemimpin yang bagi orang-orang yang bertaqwa. Adapun hari pertama di bulan Syawal kunjungan pertama dilaksanakan ke rumah pembina FSRMM, Ustadz Nazrial, S.Si. Beliau yang telah membina para anggota FSRMM sejak awal terbentuknya lembaga dakwah ini. Beliau yang telah mengarahkan dan membangkitkan semangat para pemuda-pemudi muslim untuk kembali kepada Al Qur-an dan Hadits dengan kegiatan yang berbasis di masjid.
Mulai 2 Syawal 1435 H, kunjungan dilaksanakan ke rumah asatidz FSRMM yang lainnya, seperti Ustadz H. Abdul Somad, Lc. MA. yang merupakan ulama dan pakar Hadits Provinsi Riau, dan guru Hadits FSRMM; Ustadz Dr. H. Musthafa Umar, Lc. MA. yang merupakan ulama dan pakar Tafsir Qur-an Provinsi Riau, dan penasihat FSRMM; Ustadz H. Syamsuddin Muir, Lc. MA. yang merupakan ulama dan pakar Ushul Fiqh Provinsi Riau, dan guru Fiqh FSRMM; Ustadz H. Jamhur Rahmat, Lc. MA. yang merupakan ulama dan pakar Sirah Nabawiyyah, dan guru FSRMM; dan Ustadz H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha yang merupakan ulama Provinsi Riau dan guru FSRMM.
Tidak hanya berkunjung ke rumah asatidz atau para guru yang telah membina anggota FSRMM, kunjungan ke rumah tokoh-tokoh masyarakat yang selama ini turut mendukung kegiatan FSRMM pun juga dilaksanakan untuk semakin mempererat hubungan silaturrahim, seperti KAPOLDA Riau (Brigjen Pol. drs. Condro Kirono, MM. M.Hum), DIRBINMAS POLDA Riau (Kombespol Sugiyono, S.H M.H), POLWAN POLDA Riau (AKP. Hj. Lismiyati), KASI RRI Pro2 (Hayatun Nufus), penyiar IKMI FM (Suhailati), dan Pak Sembiring yang merupakan salah satu jamaah Masjid Muthmainnah POLDA Riau dan warga sekitar kompleks POLDA.
Pada 3 Syawal 1435 H, para anggota FSRMM mengadakan home to home atau halal bi halal ke rumah-rumah anggota FSRMM untuk bersilaturrahim dengan anggota keluarganya. Sehingga ikatan silaturrahim antara anggota FSRMM dengan keluarga masing-masing anggota terjalin erat, karena dukungan orang tua juga dibutuhkan masing-masing anggota agar kinerja dalam berdakwah menegakkan agama Allah ini semakin maksimal ke depannya. Home to home ini diadakan selama 3 hari dengan rayon Kecamatan Bukit Raya, Marpoyan, Pandau Permai, Marpoyan Damai, Panam, Kulim, dan Sukajadi. Semoga dengan adanya kunjungan silaturrahim ini dapat mempererat persaudaraan dan menambah semangat bagi setiap anggota FSRMM dalam berdakwah. Aamiin! (red: fsrmm.com)

Silaturrahim ke rumah Ust. Dr. H. Musthafa Umar, Lc. MA.

Silaturrahim ke rumah Ust. Dr. H. Musthafa Umar, Lc. MA
Foto bersama Ust. Dr. H. Musthafa Umar, Lc. MA
Silaturrahim ke rumah Ust. H. Abdul Somad, Lc. MA
Silaturrahim ke rumah Ust. H. Abdul Somad, Lc. MA
Foto bersama Ust. H. Abdul Somad, Lc. MA.
Silaturrahim ke rumah Ust. H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha.
Silaturrahim ke rumah Ust. H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha.
Foto bersama Ust. H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha.
Silaturrahim ke rumah Ust. H. Masriadi Hasan, Lc. M.Sha.
Silaturrahim ke rumah Ust. H. Syamsuddin Muir, Lc. MA.
Silaturrahim ke rumah Ust. H. Syamsuddin Muir, Lc. MA.
Foto bersama Ust. H. Syamsuddin Muir, Lc. MA.
Silaturrahim ke rumah Ibu Suhailati (penyiar IKMI FM)
Silaturrahim ke rumah Ibu Suhailati (penyiar IKMI FM)
Silaturrahim ke rumah Ibu Hayatun Nufus (KASI RRI Pro2)
Silaturrahim ke rumah Ibu Hayatun Nufus (KASI RRI Pro2)
Silaturrahim ke rumah anggota FSRMM di Pandau Permai
Silaturrahim ke rumah anggota FSRMM diSimpang Tiga
Silaturrahim ke rumah anggota FSRMM di Pasir Putih

Silaturrahim ke rumah anggota FSRMM di Gading Marpoyan
Silaturrahim ke rumah anggota FSRMM di Marpoyan

TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified